QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Alamat Akun
http://tofan.kotasantri.com
Bergabung
13 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Tegal - Jawa Tengah
Pekerjaan
-
Tulisan Salman Lainnya
I'tikaf
15 Agustus 2012 pukul 13:00 WIB
Insomnia dan Mata Tidur
12 Agustus 2012 pukul 13:00 WIB
Sahabat dan Rumah Bercat Putih
17 Juni 2012 pukul 12:00 WIB
Sesaat Sebelum Stasiun itu Terbakar
28 Mei 2012 pukul 14:00 WIB
Balon
11 Mei 2012 pukul 14:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 12 April 2009 pukul 17:44 WIB

Gadis Berkerudung Ungu

Penulis : Salman Rafan Ghazi

Matahari baru saja menampakkan sinarnya saat kedua kaki itu menginjak pelataran stasiun kereta api Tugu. Perjalanan jauh telah membuat tubuhnya merasa lelah. Tepatnya lapar. Sepanjang perjalanan Jakarta - Jogja semalam, belum secuil pun makanan yang masuk ke dalam perutnya. Hanya sebotol air mineral saja yang menemani perjalanan membosankan itu. Waktunya dia habiskan hanya untuk tidur. Nampaknya hanya tidur yang bisa mengobati rasa kecewanya terhadap Arini. Tidur terkadang bisa membantumu melupakan rasa kecewa.

Laki-laki itu mendengus kesal. Menendang kaleng bekas minuman yang tiba-tiba saja ada di depannya. Plung! Masuk ke dalam selokan hitam di depan stasiun. Setiap kali mengingat nama itu. Arini. Hanya perasaan sedih dan kecewa yang didapatkannya.

"Kita akan berpisah, Jo."

"Maksudmu?" Jo mengernyutkan dahi. Bingung dengan apa yang baru dia dengar.

"Berpisah. Selamanya. Maafin Arin," ujar Arin dengan sedikit terisak menahan tangis.

What? Ada apa sebenarnya? Feeling-ku mengatakan hal yang buruk akan terjadi.


Dan benar saja. Sejurus kemudian suara di seberang telepon.

Sambil berusaha menahan tangis, Arin mencoba menjelaskan segalanya, "Arin dijodohkan dengan anak kerabat papa. Arin nggak mau bikin papa kecewa. Kamu tahu kan, Jo? Arin nggak bisa menolak keinginan papa." Isakannya berubah menjadi tangisan. Arin merasakan sakit yang menghimpit. Dadanya terasa sesak mengatakan semua itu.

Hancur sudah berkeping-keping hati Jo. Cinta yang baru saja memancar cerah harus rela ia padamkan cahayanya. Jo masih tak habis pikir. Abad millennium seperti ini bisa-bisanya masih ada perjodohan. Zaman yang katanya setiap orang memiliki hak untuk mengatur hidupnya. Bahkan Negara pun telah membentuk badan khusus untuk menangani hak-hak tersebut. Sungguh aneh. Tidak bisa kupercaya.

"Maafin Arin, Jo. Arin tahu kamu bisa tegar menerima ini semua."

Jo merasa harus menyudahi pembicaraan ini. semakin lama bicara dengan Arin, hanya akan menambah pedih hatinya. Seperti luka yang ditaburi garam. Yang diperlukannya sekarang adalah menenangkan diri. Bila perlu berteriak sekeras mungkin agar beban berat di hatinya bisa berkurang. Teriak terkadang bisa mengurangi rasa sedih karena sakit hati.

Kehadiran seseorang akan terasa sangat berarti saat dia telah pergi. Jika kau benar-benar mencintainya, datangi rumahnya, ajak bicara dari hati ke hati, Jo.
Nasihat kawannya itu masih saja mengiang di kepala Jo. Kawannya itu ada benarnya juga. Berdiam diri bukanlah solusi yang tepat. Kalau memang benar dia mencintai Arini, dia harus bicara dengannya.

Haruskah aku datang ke rumahnya, bicara dengannya, bila perlu dengan ayahnya? Ah tidak, itu tidak mungkin. Aku tidak mau merusak kebahagiaan seseorang. Arin telah dilamar. Tidak baik aku membebani pikirannya dengan kedatanganku. Tapi, sebelum janur kuning melengkung, masih ada kesempatan bagiku. Tidak, aku masih bisa menghargai laki-laki lain. Tidak sepatutnya bagiku, seorang laki-laki, melamar perempuan yang sudah dilamar laki-laki lain. Tapi aku tidak bisa melupakan Arin. Arrgghhh...


Jo diserang bingung yang amat sangat. Batinnya bergolak hebat. Perang sedang terjadi di sana. Di satu sisi, dia tidak ingin kehilangan Arin. Tapi di sisi lain, dia juga tidak ingin menyakiti keluarga Arin dan kelurga laki-laki itu.

Dia memandang langit malam ini yang telanjang penuh bintang, sebuah kebetulan yang berharga di langit Jakarta. Berharap di sana dia bisa menemukan jawaban atas kebingungannya. Namun langit tetap saja langit. Diam membisu. Hanya bisa mendengar cerita sedih orang-orang tanpa bisa memberi jawaban. Sesekali bintang di gugusan rasi Capricorn dan rasi bintang biduk mengerlipkan sinar hijau dan biru. Seakan menertawakan kebingungan Jo saat ini. Ataukah aku pergi saja? Jo menarik napas dalam-dalam, berusaha menguasai rasa bingungnya.

"Kau pergi saja ke luar kota, Jo," ujar kawannya yang lain.

"Tenangkan dirimu. Lupakan Arini. Kau bisa memulai hidup baru di sana."

***


Pertemuannya dengan gadis berkerudung ungu di sebuah toko buku, melahirkan rasa dan semangat baru di hati Jo. Hatinya bergetar hebat saat bertatap mata tanpa sengaja dengan gadis itu. Matanya begitu teduh. Wajahnya begitu mempesona. Lihatlah, gadis itu langsung mengalihkan pandangan matanya saat mereka bertatap.

Sudah hampir empat bulan dia berada di Kota Gudeg ini. Perlahan namun pasti dia sudah bisa melupakan Arin. Apalagi menjelang hari pernikahan Arin, satu minggu lagi. Jo merasa tidak ada yang harus disesalkan atas pernikahan tersebut. Setiap pertemuan pasti melahirkan perpisahan, entah itu disebabkan oleh apa. Dan perpisahannya dengan Arini merupakan skenarioNya. Jo sudah bisa merelakan Arini. Tuhan pasti punya rencana lain di balik perpisahan ini. Jo percaya dia akan menemukan gantinya. Pertemuan dengan gadis berkerudung ungu saat itu membuatnya semakin percaya akan janjiNya.

Selama tiga minggu setelah pertemuan pertama, Jo selalu bertemu dengan gadis berkerudung ungu itu. Lagi-lagi di toko buku yang sama. Jo yakin bahwa ini bukanlah kebetulan belaka. Dia percaya Tuhan mengirimkan gadis berkerudung ungu itu sebagai pengganti Arini. Seakan sudah diatur olehNya. Perkenalan dengan gadis berkerudung ungu itu begitu mudah. "Tuhan memang Maha Penyayang," gumamnya. Dan ternyata gadis berkerudung ungu itu adalah saudara sepupu Risty, teman satu kantornya. Sempurnalah skenario indahNya kali ini.

"Percayakah kamu akan Jodoh?"

Nabila mengangguk. Tapi wajahnya terlihat bingung dengan arah pertanyaan Jo.

"Pertemuan kita bukanlah sebuah kebetulan. Tuhan telah mengatur segalanya. Seperti saat Dia mengatur pertemuan Adam dan Hawa setelah melakukan pencarian yang melelahkan. Layaknya skenarioNya dalam mempertemukan Yusuf dan Zulaikha meski Zulaikha harus membuat tipu daya terlebih dahulu."

"Lalu apa hubunganya denganku?"

"Apakah kamu mau menjadi Zulaikhaku, duhai Nabila?"

Pertanyaan Jo begitu mengagetkan Nabila, nama gadis bekerudung ungu itu. Baru saja satu bulan umur perkenalan mereka. Dia tidak menyangka akan secepat ini.

"Tapi kita baru saja kenal," ujar Nabila tak percaya.

"Cinta yang tulus hanya akan hadir setelah adanya ikatan pernikahan. Pernikahanlah yang akan melahirkan rasa cinta antara suami dan istri. Ada tanggung jawab dalam rasa cinta itu. Tanggung jawab untuk saling menghormati dan menghargai, menjaga dan mempertahankan biduk pernikahan mereka. Dan aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya. Maukah denganku?"

Nabila mengangguk pelan namun pasti. Dia merasakan tubuhnya limbung tinggi ke langit. Tidak bisa dibayangkan kebahagian yang saat ini menggelayuti wajahnya. Tanpa terasa airmatanya meleleh perlahan membasahi pipinya. Airmata bahagia. Airmata untuk cinta.

Jo tak kalah bahagianya. Bibirnya menyunggingkan senyuman bahagia. Senyuman terindah dalam hidupnya. Keputusannya untuk meninggalkan Jakarta menuju Jogja sangatlah tepat. Di sini dia menemukan belahan hatinya, Nabila, gadis berkerudung biru. Di sini pula dia akan memulai hidup baru dengan Nabila.

Pergi ke suatu tempat terkadang bisa membantumu menemukan belahan hati.


"Dan aku juga percaya, cinta yang tulus hanya lahir dari pernikahan," gumam Nabila bahagia.

 

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Salman Rafan Ghazi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Samsul M | Wiraswasta
Mulai buka site ini di tahun 2003, tapi baru sekarang saya ikut partisipasi. Maklum, baru ada waktu luang banyak.
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0453 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels