Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
Alamat Akun
http://setta.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Mampang Prapatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Analis Industri
Penikmat sastra, admin situs Cerpen Koran Minggu di http://lakonhidup.wordpress.com
http://lakonhidup.wordpress.com
setta_81@yahoo.com
setta_81@yahoo.com
Tulisan Setta Lainnya
Well-Dying
23 Maret 2009 pukul 16:30 WIB
Aku Akan Memanggilmu Ibu, Selamanya
13 Maret 2009 pukul 20:04 WIB
Berita Lelayu
11 Maret 2009 pukul 22:15 WIB
Titik Perubahan
11 Maret 2009 pukul 15:15 WIB
When Silent is Gold
4 Maret 2009 pukul 15:38 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Jum'at, 27 Maret 2009 pukul 17:15 WIB

Ladang Angkara

Penulis : Setta SS

Langit masih hijau. Suara kerikan jangkrik dan sabda burung hantu masih sesekali terpantul sendu dari balik rimbunnya pepohonan dan ilalang di dekat pinggiran hutan sana. Kokok ayam terdengar satu-satu, saling menyahut. Mengepakkan sayapnya yang kaku dari balik pucuk-pucuk daun pohon jambu air.

Embun pagi menyeruak, bergumul membentuk siluet abu-abu raksasa. Menyelimuti hamparan tanah luas dengan pohon-pohon tembakau setinggi tubuh ideal seorang remaja belasan tahun. Membekukan apa saja yang dihinggapinya.

Tetapi lelaki tua itu tak begitu terusik. Ia sudah asyik bekerja di ladang tembakaunya. Seperti hari-hari sebelumnya. Tubuh kurusnya hanya terbungkus kaos oblong putih dengan beberapa lubang bekas sundutan rokok di beberapa bagian. Dipadu dengan celana sebatas lutut bekas celana panjang anaknya yang dipotong.

Ki Durjana, nama lelaki tua 71 tahun itu, selalu tampak khusyuk dengan pekerjaannya. Ia sedang nyirungi tanaman tembakaunya. Mengambili daun-daun bakau muda yang tumbuh di sekeliling batang tembakau di bawah daun-daun utama, yang sudah siap dipanen beberapa hari lagi.

Sebenarnya pekerjaan nyirungi itu dilakukan setiap tiga hari sekali. Namun, karena jumlah batang tembakau genjah sogoti [1] miliknya mencapai 3000 batang dan hanya mengerjakannya seorang diri saja, ia tak dapat menyelesaikannya setiap pagi. Mak Entek, istrinya, sama sekali tidak bersedia membantunya.

"Tembakau yang kau tanam dan kelak kau isap asapnya itu akan menggerogoti tubuh rentamu perlahan-lahan, Pak!" begitu alasannya yang pertama.

"Bukan urusanmu! Aku sudah siap dengan semua resikonya!" jawab Ki Durjana dengan murka suatu ketika.

"Pasti ludes dirampok tikus-tikus ganas yang serakah itu! Tetapi tikus-tikus keparat itu tidak mungkin mau menyentuh batang tembakauku!" bantahnya kasar menanggapi alasan kedua Mak Entek yang mengusulkan untuk mengganti ladang tembakaunya dengan palawija saja.

Meskipun Mak Entek membenarkan juga argumen suaminya yang terakhir ini, ia tetap saja tidak setuju. Sudah cukup baginya menyaksikan Ki Rasain yang megap-megap kesulitan setiap kali menarik nafas karena terkena TBC akut, tetapi tak kapok-kapok juga mengisap bedodnya setiap saat. Bukan hal mustahil jika kondisi yang sama akan segera menimpa suaminya, pikir Mak Entek.

Dan ia lebih memilih mengurusi ladangnya yang lain, yang tepat berada di pinggir sungai Cikawung, dan menanaminya dengan kacang tanah, jagung, ketela, ubi jalar, kacang panjang, terong, kecipir, dan lenca. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari mereka.

Maka jadilah Ki Durjana harus nyirungi setiap pagi setelah masing-masing hari mendapat bagian 1000 batang. Selama dua bulan lamanya sejak munggel [2] pertama saat usia tanaman bakaunya mencapai 40 hari.

"Biar rasa bakaunya enak, tidak sepet," mendiang ayahnya dulu selalu menjawab sama setiap kali ia menanyakan apa sebabnya.

Saat rasa penat sudah menggerayangi tulang penyangga tubuhnya yang mulai melengkung ke depan, ia beristirahat di sebuah ranggon reyot di tengah ladangnya. Melepaskan kain sarungnya yang basah kuyup oleh embun dan menjemurnya di seutas tali rapia yang ujung-ujungnya terikat di dua tiang bambu gubuk bertingkat itu.

Kemudian, diam-diam, ia menggulung klaras jagung berisi tembakau dari daun rampasan pilihan tanpa menambahinya dengan cengkeh, kemenyan, kelembak, atau apa pun. Menyulutnya dengan pemantik api lawas yang tidak memakai bensol, namun menggunakan batu api dan kapas yang diolesi minyak tanah. Bedod, begitu ia menamakan batang rokok buatannya itu.

Sambil duduk menyandar pada salah satu tiang utama ranggon dan mengisap dalam-dalam bedodnya, ia kembali mengamati daun-daun tembakau yang berwarna hijau tua sepenuh jarak pandangnya. Asap putih yang diisapnya, dikeluarkannya lagi lewat hidungnya. Membumbung, menelusup di antara jalinan atap rumbia dan bercampur dengan udara basah berkabut. Menyesakkan sistem pernafasan siapa pun orang yang menghirupnya. Ia pun terbatuk-batuk hebat beberapa kali dengan wajah tersiksa.

Namun beberapa jenak kemudian, air mukanya kembali berganti rona. Ki Durjana tersenyum lambat laun. Ya, tak lain karena sepuluh hari lagi ia akan segera memetiknya. Memanen ladang tembakau kebanggaannya.

Seketika, otot-otot di kelopak matanya saling merapat dan otaknya mengembara ke suatu masa.

***

Daun-daun tembakau yang sudah dipetik pertangkai itu kemudian akan diperamnya selama seminggu. Disusun di atas tampir [3] dengan posisi pangkal daun di bawah. Ditutup rapat oleh daun pisang dan diletakkan di pojok ruang depan rumahnya yang hanya diplester semen hingga semua daun-daun itu menguning dan lemas.

Kemudian Ki Durjana akan segera memasukkan daun-daun tembakau itu ke dalam keranjang bambu seperti kebiasaannya selama ini. Membawanya ke belakang rumah di mana cakcak, yaitu bangku panjang yang di atasnya dipasangi rangkaian kayu menyerupai huruf V untuk meletakkan bakau ketika dirajang, miliknya berada.

"Mak, abir ditenden di meni?!” teriaknya memekakkan pendengaran, menanyakan golok pendek tipis dan lebar untuk merajang daun bakau, ketika benda itu tidak ditemukannya juga pada tempatnya.

"Kan di tempat biasanya," jawab Mak Entek terdengar sayup dari arah dapur.

"Eweh!!" serobotnya membahana beberapa saat kemudian. Abir itu memang benar-benar raib.

"Masa sih? Siapa yang ngambil?" perempuan tua yang selalu memakai cindung hitam di kepalanya itu malah balik bertanya retoris. Tanpa dosa.

"Kan kamu yang sering di rumah! Masa tidak tahu!"

Saat perdebatan mereka semakin memanas, tiba-tiba sebuah suara kecil terdengar, memotong percekcokan itu dengan sempurna.

"Punten!" [5] ujar suara kecil itu. Sosoknya berdiri takut-takut di sebelah luar pintu, mencari-cari sosok Mak Entek yang tampak samar dalam kepungan asap dari hawu yang belum menyala.

"Punten!" sekali lagi. Masih takut-takut.

Mak Entek acuh tak acuh saja mendengar suara kecil yang seperti berbisik di telinganya karena sudah mulai tuli. Reta, gadis sebelas tahun berkepang dua anak tetangganya itu, baru saja akan mengulang kata yang sama untuk ketiga kalinya ketika Ki Durjana memergokinya. Gerak bibirnya tak jadi menghasilkan bunyi, namun tertelan kembali di tenggorokannya.

"Ada perlu apa, heh!"

Tak urung, tubuh kurus Reta mengkerut menyadari sosok yang baru menghardiknya itu sudah berada di belakangnya. Perlahan ia membalikkan badan dan sangat hati-hati mengeluarkan abir yang disembunyikannya di balik baju kumal yang dikenakannya.

Sambil melirik-lirik takut ke mata melotot Ki Durjana, tangannya bergetar saat menyodorkan abir yang terbungkus selembar lawon [6] itu. Reta langsung mundur beberapa langkah setelah abir itu berpindah tangan dan segera berlari pulang ke rumahnya. Tanpa suara.

Ki Durjana hanya menyeringai sesaat melihatnya. Dan kembali memfokuskan bidikan sepasang matanya dalam-dalam pada abir kesayangannya itu setelah membuka kain kafan putih yang membungkusnya.

Ya, itu memang abir miliknya! Yang sejak shubuh tadi sudah dicari-carinya, namun tak ketemu-ketemu juga. Ternyata dipinjam Sigar, ayahnya Reta, tanpa minta izin terlebih dulu kepadanya atau istrinya.

Dasar kurang ajar Si Sigar!
umpatnya sebelum bergegas kembali ke belakang rumah menuju tempat cakcak itu berada. Meninggalkan Mak Entek yang masih sibuk dengan tungku api yang asapnya menyebar ke mana-mana, tetapi tetap juga tak mau menyala apinya.

Lalu kedua tangan Ki Durjana akan sibuk memilih dan memilah daun-daun itu, melipatnya setiap beberapa lembar seukuran celah pada cakcaknya. Meletakkannya di dekat cakcak. Hingga habis semua yang ada dalam bakul bambunya.

Mulailah ia merajang daun-daun tembakau itu dengan sepenuh perasaannya. Sepenuh jiwanya. Dan semua keahlian seni merajang yang dimilikinya, ia keluarkan semua untuk hasil terbaik tembakau yang dirajangnya.

Empat hari empat malam daun bakau yang sudah dirajang itu ditempatkan di udara terbuka di atas widig [7] pada pelanggrang [8] di samping rumahnya. Dipanggang sang bagaskara, dibiarkan menggigil bersama hembusan angin malam menggigit tulang musim kemarau, dan berselimutkan embun pagi yang menemaninya separoh malam.

Dan uang akan segera mengalir deras ke kantongnya beberapa hari kemudian setelah itu.

Semua orang laki-laki di kampungnya sangat menyukai tembakau hasil rajangannya. Ya, semua orang. Termasuk Petaka, anak semata wayangnya yang sangat disayanginya, yang kini merantau di Jakarta bersama anak istrinya. Yang meskipun sudah terbiasa dengan rokok kretek, tapi saat pulang atau ketika ia mengiriminya satu kardus besar tembakau hasil panenannya, akan langsung diembatnya juga hingga tandas tak bersisa.

Satu kali musim panen, biasanya tak pernah kurang dari dua kwintal tembakau kering dihasilkan dari ladangnya. Harga perkilonya ia jual 20.000 rupiah pada warga di kampungnya, dan 25.000 rupiah untuk pembeli dari luar kampungnya. Bahkan ia pernah menjualnya seharga 30.000 rupiah perkilo saat tembakau menjadi barang langka.

Biasanya ia mengupah Murkana, salah seorang tetangganya, mengecerkan bakau itu ke kampung-kampung lain atau dijualnya di Pasar Angkara.

***

Senyum yang menghias bibir hitam yang tampak keras karena seringnya dilewati asap panas itu semakin lebar saja ketika ia membayangkan berapa jumlah uang yang akan segera didapatnya nanti. Beberapa rencana sudah terpatri dalam jidatnya.

Sementara itu, di ufuk timur, matahari malu-malu mengintip bumi dari balik tirai kemilaunya. Ki Durjana tahu itu. Setelah menandaskan isapan terakhir bedod di tangan kanannya dan menghempaskan kuntungnya ke dasar sumur kering di sisi ranggonnya, ia kembali ke tengah rimbunnya daun-daun bakau yang sedang menanti hembusan angin untuk membangunkannya dari kebekuan yang mengungkungnya sepanjang malam itu. Masih tersisa 100 batang tembakau lagi yang belum disirunginya.

***

"Pak, apa sih bedanya tembakau rampasan dan sogol?" tanya Petaka kecil, lebih sepuluh tahun silam, saat menemaninya munggel di ladang tembakau yang sama.

Ki Durjana tersenyum kembali mengingat percakapan di pagi akhir Juli itu. Dengan seulas senyuman yang menggantung angkuh di bibirnya, ia mulai menjelaskan, "Tembakau rampasan itu dibuat dari daun tembakau generasi pertama pilihan, daun tembakau terbaik."

"Kalau sogol, Pak?" Petaka kecil tak sabar menunggu kelanjutan jawaban ayahnya yang terhenti sebentar, mengisap rokok bedodnya dengan nikmat.

"Sogol dibuat dari daun tembakau yang tumbuh lagi setelah daun rampasan habis dipanen."

Seketika mulut Petaka kecil langsung mencetak vokal huruf O untuk beberapa jenak. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Ada pancaran bangga di wajah polosnya mengetahui sang ayah hapal benar tentang seluk beluk tanaman tembakau mereka.

"Apa lagi bedanya, Pak?" burunya lagi.

"Kalau bakau rampasan akan lemas terus walaupun sudah disimpan setahun lebih, tetapi sogol akan mengeras dan rasanya segrak, tidak enak," terang Ki Durjana, yang membuat Petaka semakin kagum padanya.

Lelaki tua yang hanya mengenakan kaos singlet putih dan celana pendek itu sedang duduk santai di atas ranggon ladang tembakaunya. Kedua tungkai keringnya menjuntai, menampar-nampar angin pertengahan musim kemarau di kolong ranggonnya.

Siang itu, ia sedang menikmati lambaian daun-daun tembakaunya yang seperti sedang menari-nari mengikuti irama angin yang mengembusnya. Jika tidak ada aral melintang, besok pagi-pagi sekali ia akan memanennya.

Walaupun ladang tembakauku di
ampah [9], tetapi tidak kalah jauh rasanya dengan bakau kedu yang daun-daunnya lebar di daerah pegunungan sana, lanturnya dengan raut muka bangga yang nyata, sebelum ngeloyor pergi menuju rumahnya.

***

Udara dingin menggigit tulang masih setia membauri gerombolan awan kelabu. Angin membeku. Sekelompok burung emprit dewasa sedang berkemas, menggerak-gerakkan sayapnya sebelum keluar sarang mencari makanan. Sesekali kicau mereka terdengar riang mengawali hari.

Beberapa ekor kelelawar berseliweran di sekitar daun-daun pohon pisang kering, baru kembali dari perburuannya semalaman. Sementara Raja Siang masih asyik meringkuk malas di istana balik awannya. Mungkin ia masih merasa kedinginan juga, seperti para penduduk kampung kecil di pinggiran hutan itu.

Tetapi tidak dengan Ki Durjana. Ia sudah berada di ladang tembakaunya seperti biasa selepas shubuh tadi. Sesuai rencananya, inilah hari yang telah ditunggu-tunggunya selama hampir dua bulan lebih itu; panen raya!

Namun, kali ini ada yang terlihat aneh dari tingkahnya. Tidak seperti biasanya bila saat seperti ini tiba. Tidak bersiul-siul ria. Mengumbar senyum ceria di wajah penuh kerutannya. Apalagi mendendangkan dandang gula yang sudah dihapalnya di luar kepala.

Raut wajahnya beku. Ada isak satu-satu terdengar sendu. Ya, ia memang sedang menangis pilu! Tampak jelas sekali ada sebuah masalah serius yang sedang dihadapinya saat ini. Tetapi masalah apa gerangan?

Sosok tua dengan rambut ikal pendeknya yang sudah memutih semua itu kembali mencoba mengangkat kepalanya. Mengalihkan pandangannya yang terhujam tajam menancap di tanah lempung di bawah ranggon. Ia mengarahkan pandangannya ke arah ladang tembakaunya.

Namun, seketika matanya melotot seperti melihat hantu sedang berdiri di depannya. Di sana, di tengah-tengah ladang tembakaunya. Tulang punggungnya langsung tegak dalam sekejap. Tetapi bukan lagi daun-daun tembakau siap panen yang tertangkap oleh sepasang mata nyalangnya saat itu. Melainkan kobaran api raksasa yang membakar angkasa. Lidah api putih yang membabi buta, menggulung tegalan kering kebanggaanya. Dan menjilati apa saja yang ada di sekitarnya.

Sebenarnya sudah lebih dua bulan terakhir ini batuk berdahak Kang Petaka kambuh lagi, Pak. Terus belakangan dahaknya ada darahnya. Saya sudah memperingatkan Kang Taka untuk menghentikan merokoknya sementara. Tapi tak digugu. Dan tiga hari yang lalu, Kang Taka terpeleset saat akan membuang dahaknya di kamar mandi. Terjatuh dan tak sadarkan diri.

Hanya bertahan dua malam di rumah sakit, ternyata ajal Kang Taka sudah tiba. Dokter bilang, selain benturan kepala yang cukup keras, saluran pernafasan Kang Taka juga rusak parah, paru-parunya hampir hangus tergerus asap rokok yang diisapnya setiap hari.


Begitu bunyi surat singkat dari Prihatini, menantunya, yang terserak tak berdaya tak jauh dari kaki berkulit hitam dan penuh bekas luka milik Ki Durjana.

Surat itu baru sampai ke rumahnya tadi malam. Diantarkan oleh anak pak Kades. Saat ia sudah terlelap dalam buaian bunga tidurnya tentang panen raya hari itu!

***

9 Desember 2oo4-1 Pebruari 2oo5

---

[1] Nama jenis tanaman tembakau yang usianya lebih pendek, 100 hari sudah dipanen.
[2] Memotong tunas tanaman tembakau yang akan keluar bunganya.
[3] Nyiru besar.
[4] Tidak ada.
[5] Permisi.
[6] Kain kafan.
[7] Tempat menjemur tembakau yang sudah dirajang, terbuat dari anyaman bambu kecil-kecil.
[8] Rangka dari bambu gelondongan untuk meletakkan widig.
[9] Dataran rendah.

http://lakonhidup.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Setta SS sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Dradjat | Pegawai
KotaSantri.com memang pas menjadi tempat mangkalnya para santri yang ingin mengikuti jejak nabinya. Semoga penulisan-penulisan di KotaSantri.com yang penuh keteledanan dan pelajaran adalah wajah kehidupan santri sebenarnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0497 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels