Pelangi » Pernik | Selasa, 3 Maret 2009 pukul 17:49 WIB

Lukisan Kisah

Penulis : Rifatul Farida

"Lalu, inikah yang dinamakan takdir, jika segala daya telah kulakukan tuk ke luar dari kubangan masalah ini?" hatiku berbisik berat melempar tanya tak berkesudahan.

"Inikah titik henti di mana aku harus menyandarkan segala kepasrahan? Diam tak bergerak menunggu waktu mengejakan ketentuan yang harus dijalani."

Hening... Tak ada jawaban dari sudut mana pun di ruang jiwa, atau samar gema yang kuharap menyudahi tanya di pendaman rasa.

"Rabb...," tanpa kusadari, bibirku menyebut pilu asmaNya. "Salahkah aku jika meminta penjelasan terhadap apa yang kini sedang terjadi dalam hidupku, sebagai manusia biasa tanpa daya di balik upaya yang telah terjalani?"

Segumpal sesak menjalar sepenuh ruang dada. Menghimpitku pada sebuah keputusasaan yang terbayang di pelupuk mata. Terbingkai selembar masalah berlukis kisah tentang beban berat kehidupan seorang anak manusia yang menginjak dewasa. Menjalani kisah pilu di masa muda yang seharusnya ceria. Berawal dari keputusan tuk hidup berbagi di waktu dini. Niat agung sempurnakan setengah agama yang ternyata tak seindah khayalan yang berbinar di ruang imajinasi.

Menjalani hidup sendiri dengan seorang anak di tanah rantau. Mengais rezeki dari kumparan deyut laju di balik gedung kaku yang dinamakan PT. Sang belahan jiwa yang hanya menemani sejenak hingga sempurna si kecil megucapkan kata "Abi". Di suatu malam kelam, terenggut nyawa manusia perkasa tumpuan dua jiwa. Kesalahan seorang pengendara sepeda motor yang tak mengindahkan traffic light menyala merah menyambar tubuh yang tengah berjalan tegap di zebra cross. Tubuh penuh berkah itu terpelanting dan akhirnya meregang nyawa, pergi tanpa ucapan pamit atau secuil pesan untuk ketabahan dua jiwa yang harus terus melaju menjalani hidup.

"Umi.. Umi..," rengekan si kecil menyadarkanku yang tengah menyeka goresan lukisan kisah di masa lalu. Segera ku bangkit dari sajadah di sepertiga malam ini. Dengan tubuh yang masih berbalut mukena, kudekati buah hatiku.

"Umi di sini, nak," bisikku sambil menepuk-nepuk pundak kecilnya agar segera lelap kembali. Kupandangi tubuh mungilnya. Di usianya yang telah genap 3 tahun, seharusnya dia sudah bisa berjalan riang. Main sepeda dengan teman sebayanya. Tapi, takdir menentukan lain. Ia harus tetap terbaring di kamar tidur, karena penyakit polio yang dideritanya.

"Rabb, jangan Engkau beri kami beban yang tak sanggup kami pikul," desahku pilu diringi butiran bening yang jatuh dari sudut mata.

Kembali aku larut dalam pengaduan kepadaNya. Berharap segumpal sesak kan terbuang di linangan air mata.

"Jauh di dasar hatiku, ya Rabb, ada asa yang masih menghujam kuat. Dan asa itu hanya aku sandarkan padaMu, wahai Pemilik Alam Raya, wahai Pemilik Kekuasan Tertiggi, wahai yang Mahabijkasana, wahai yang Maha Berkehendak."

"Mahasuci Engkau dari kesalahan. Kuatkan pijakan kaki ini, ya Rabb, dalam menjalani segala ketentuanMu. Jika dengan takdir ini, sejatinya Engkau sedang menempa jiwa kami agar kuat. Sungguh, ya Rabb, jangan jadikan ini beban berat yang mengikis Husnudzan-nya hati yang terluka."

"Rabb... KepadaMu kami menyembah dan kepadaMu kami mohon pertolongan. KepadaMu kami berlindung dari lemahnya iman dan buaian dunia yang melenakan."

"Rabb... Berkahi hidup kami. Aamiin."

KotaSantri.com 2002-2022