HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya. "
Alamat Akun
http://idaernawati.kotasantri.com
Bergabung
7 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Yogyakarta - DI Yogyakarta
Pekerjaan
PNS
Aku adalah muslimah biasa yang selalu merindukanNya..... : merindukan cintaNya... BerkahNya.. RahmatNya... HidayahNya... dan ingin berjumpa denganNya....
http://dhidaerna.multiply.com
Tulisan Ida Lainnya
Hidup adalah Berpacu dengan Waktu
15 Februari 2009 pukul 05:22 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Selasa, 24 Februari 2009 pukul 05:22 WIB

Minggu yang Mendung, Semendung Hatiku

Penulis : Ida Ernawati

Malam ini aku belum bisa tidur. Aku heran, biasanya jam sembilan mata kecilku otomatis akan berubah menjadi 'lima watt'. Di depan televisi yang selalu kusetel, aku selalu pasang timer off, kadang sembilan puluh menit, kadang enam puluh menit. Malam ini kupasang sembilan puluh menit, tetapi sampai televisi benar-benar mati, mataku belum bisa terpejam juga.

Biasanya ketika terjadi hal ini, aku akan telusuri apa masalah yang sedang kupikirkan yang belum sempat kuselesaikan hari ini. Apa ya? Masalah adikku? Rasa-rasanya enggak ada. Kakak-kakakku? Enggak ada juga. Lantas pikiranku tertuju pada temanku. Ops, dia. Ya, dia yang mengganggu pikiranku.

Mengapa masalah ini muncul terus dalam pikiranku. Bukankah aku sudah berkali-kali memperingatkan dia agar tidak melakukan hal-hal yang merusak pikiran orang banyak. Menjaga hijab adalah salah satu hal yang diwajibkan dalam Islam untuk laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Jika hal yang dilakukan tidak sesuai dengan yang diajarkan oleh Islam, pasti akan menimbulkan fitnah.

Satu laki-laki dan satu perempuan bukan muhrim menjalin hubungan, apalagi berdua-duaan di tempat yang sunyi secara terus menerus? Apapun bentuk hubungan itu, tetapi kalau sama-sama belum menikah, bukankah hal tersebut tidak diperkenankan dalam Al-Qur'an? Hal ini jadi menyita waktuku, aku harus menambah do'a di dalam shalatku, mendo'akan orang lain yang bukan keluargaku. Astaghfirullahal adzim... Mengapa jadi aku yang mengeluh?

Temanku yang satu ini sangat kukagumi, dia adalah seorang ikhwan yang baik, kadang aku menjadi sedemikian hormat kepadanya meskipun kita seumuran. Dia bekerja di suatu perusahaan swasta. Dia sangat rajin beribadah, tidak pernah alpa melaksanakan puasa yang disunnahkan Rasulullah, bukan hanya Senin Kamis, tetapi juga puasa Arafah dan puasa sunnah lainnya. Kadang-kadang aku merasa malu ketika dia puasa dan aku tidak melakukannya.

Tetapi saat ini, dia sedang berada di suatu tempat yang asing. Aku sendiri tidak tahu ada di mana dia. Perempuan yang kata dia cantik, seksi, dan kaya itu terlalu menggoda untuk dilewatkan begitu saja. Aku sungguh merasa khawatir sekali. Aku ingin dia menjauhi perempuan itu. Aku ingin dia tidak mengalami hal-hal yang merugikan dirinya dan keluarganya, baik di dunia maupun akherat.

Setiap kata yang kuucapkan kepadanya selalu dibantahnya dengan keras, "Aku hanya berteman." Berteman dalam bentuk apa? Apakah lebih banyak manfaat dari pada mudharat? Sungguh, kami semua teman-temannya sudah berkali-kali mengingatkan. Apalagi kabar itu sudah tersebar ke mana-mana. Ketika mereka menanyakan ini, apa yang harus kukatakan?

Semakin aku memikirkan hal itu, aku semakin sedih. Aku sudah tidak bisa mengatakan apapun kepadanya secara langsung. Karena setiap kata yang kuucapkan hanya dianggapnya angin lalu. Dia terlalu yakin bahwa apa yang dilakukannya adalah benar. Keyakinan yang aneh menurutku, untuk orang sepintar dia. Karena kekerasan hatinyalah yang memaksa aku untuk diam seribu bahasa. Aku merasa lemas, merasa malas untuk melakukan dakwah yang satu ini.

Kemudian tiba-tiba aku teringat kata-kata seorang ustadz mengenai apa yang harus kita lakukan jika ada sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan koridor Islam. Jika kita bisa melakukan sesuatu untuk mengingatkan, lakukanlah dengan tangan atau kekuasaan. Jika tidak mampu, lakukanlah dengan lisan. Jika itupun tidak bisa dilakukan, maka lakukanlah dengan hati karena itulah selemah-lemahnya iman.

Akhirnya aku cukup lega. Toh, aku sudah melakukan sesuatu. Jika aku sudah tidak sanggup melakukan dengan tangan dan lisan, aku masih mempunyai hati untuk berbuat sesuatu. Ya Allah, lindungilah dia, berikanlah kesadaran di hatinya agar tidak melakukan hal-hal yang menimbulkan fitnah. Dan satu pelajaran yang kupetik dari semua ini. Ketika aku sempat kecewa karena ada seseorang yang melakukan poligami, kini aku sadar, Allah telah memberikan ladang halal bagi mereka yang menginginkannya. Dan kebenaran Islam akan semakin terlihat sampai akhir zaman. Maafkan hamba, ya Allah.

Ketika malam ini aku mulai merasakan 'lima watt', tiba-tiba aku merasakan sulit untuk menggapai bayangan temanku itu. Apakah dia sudah tidak akan kembali lagi dan benar-benar tidak mau mendengar omonganku? Bagaimana pun, dia laki-laki dan aku perempuan. Aku tidak perlu memikirkannya terlalu jauh, aku juga harus menjaga hijabku karena kami bukan muhrim.

Semua kupasrahkan kepada Allah, hanya Dialah yang akan membimbing temanku, karena dalam setiap keluh kesahku Dia Yang Maha Mendengar pasti mendengar kesedihanku. Aku sedih telah kehilangan dia, dia temanku yang selama ini menjadi suri tauladan bagiku. Kadang ketika aku putus asa, aku sempat berkhayal, kalau bisa aku akan mati sekarang dan meninggalkan wasiat, "Jauhi dia, agar kamu selamat!" Aku rela mati asal untuk dakwah.

Astaghfirullahal adzim... Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku. Aku tidak boleh putus asa, aku harus semangat. Meskipun minggu ini mendung, semendung hatiku.

http://dhidaerna.multiply.com

Suka
Naflah menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ida Ernawati sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Angga Ciptadi | Karyawan
Sering-sering maen ke web ini, biar terus dapat insiprasi + motivasi dalam menjalani hari. Mudah-mudahan berkah.
KotaSantri.com © 2002 - 2018
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0970 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels