HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
Alamat Akun
http://vivi_hn.kotasantri.com
Bergabung
7 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Hadano - Kanagawa
Pekerjaan
IRT
Keluarga adalah tempat untuk mencurahkan kasih sayang, menaburkan asa, dan menumpahkan keluh kesah. Keluarga bisa menjadi syurga dunia, bila diisi oleh orang-orang yang sholih dan sholihah. Keluarga adalah impian setiap insan, tempat berkembangnya putik-putik bunga..hingga mekar dan menebarkan wangi ke selilingnya..itulah keluarga barokah...
http://hifizahn.multiply.com
Tulisan Hifizah Lainnya
Parenting in the West (4)
15 September 2012 pukul 10:00 WIB
Parenting in the West (3)
28 Juli 2012 pukul 10:00 WIB
Parenting in the West (2)
16 Juni 2012 pukul 11:30 WIB
Parenting in the West (1)
7 Mei 2012 pukul 11:45 WIB
Lima Doktor, Sebuah Untaian Syukur
3 April 2012 pukul 09:09 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Rabu, 4 Februari 2009 pukul 05:22 WIB

Duka Gaza di Universitas Keio

Penulis : Hifizah Nur

Aiko mematikan tv di hadapannya. Di mana-mana demo tentang perang di Gaza. Di Yoyogi Koen, minggu lalu terjadi aksi diam dari beberapa NGO di Jepang. Di aksi itu juga tergabung muslim dari berbagai Negara yang tinggal di Tokyo dan sekitarnya. "Perang, perang terus. Kenapa sih orang-orang itu senang betul berperang? Katanya mereka orang beragam, tapi kenapa mesti perang?" rutuknya.

Meskipun ia tidak setuju dengan serangan Israel yang membombardir Gaza yang kekuatannya tidak sebanding, tapi gemas juga ia dengan HAMAS yang tak mau menyerah. Padahal korban di Gaza sudah seribu orang lebih.

Konflik Palestina sudah sejak dulu sampai sekarang tak pernah selesai. Dari pada stress mikirin perang, lebih baik dia berangkat ke kampus. Hari ini ia harus mencari referensi untuk presentasi di mata kuliah kajian budaya Asia, besok.

Machida Aiko, seorang mahasiswi Keio university. Jurusan media dan informasi tingkat dua. Gayanya cenderung cuek ala remaja Jepang masa kini. Tidak terlelalu peduli dangan agama, meskipun percaya ada kekuatan yang menguasai alam raya, yang sering disebutnya Kamisama.

Aiko meneliti satu persatu barisan buku yang tertera di hadapannya. Saat itu, dari deretan buku yang berseberangan, di sebelah sana berdiri seorang gadis yang memakai scarf sedang melakukan hal yang sama. Tanpa sadar, dipandanginya gadis itu, kerudung itu seperti yang dipakai oleh orang-orang Palestina. Wajah manis dengan kulit kuning langsat dan kacamata minus, membuat penampilannya semakin anggun.

Tiba-tiba gadis itu balik memandangnya. Gelagapan, kepergok sedang memandangi gadis itu, dengan cepat Aiko menganggukkan kepala, "Eh, konnichiwa," ujarnya gugup.

Gadis itu tersenyum, wajahnya jadi bertambah manis dengan lesung pipit di pipi kanannya. "Konnichiwa," jawabnya. "Ada yang aneh di wajah saya?" tanyanya.

"Eh, tidak, tidak. Maaf," Aiko tersipu dan mengangguk sopan sebelum berlalu.

Gadis berscarf itu duduk tidak terlalu jauh dari Aiko. Dengan tenang, ia membaca buku yang tadi dicarinya, sambil sesekali mencatat di notes.

Sebenarnya Aiko seringkali melihat orang-orang berscarf seperti itu di kereta. Tapi sampai hari ini, ia tidak terlalu tertarik untuk berbicara dengan mereka. Aiko tahu kalau mereka muslim. Tapi imej yang ia terima lewat media tidak terlalu baik. Islam identik dengan teroris. Baru kali ini Aiko melihat seorang muslim di kampusnya. Rasa ingin tahunya jadi timbul.

"Sepertinya gadis itu tidak jahat. Senyumnya tadi cukup ramah," pikirnya. Jiwa jurnalisnya tergelitik.

"Hmm... Maaf, boleh berbicara sebentar?" Aiko menyapa gadis berscarf itu.

Gadis itu agak sedikit kaget, tapi lalu tersenyum dan mengangguk. "Douzo," ujarnya mempesilahkan.

Ternyata gadis itu bernama Rini. Pertukaran pelajar selama satu tahun dari Indonesia. Baru saja datang sebulan lalu. Lalu datang ke kampus sepekan lalu. Pantas saja Aiko tak pernah melihatnya sebelumnya.

Aiko mengajak Rini ke kantin kampus yang terletak di sebelah perpustakaan. Rini membetulkan scarfnya yang agak miring. Sementara Aiko sudah menyeruput coffe late-nya yang hangat. Suasana agak sepi, karena memang masih jam kuliah. Ada waktu sekitar satu jam sebelum waktu makan siang tiba. Jadi mereka bisa ngobrol dengan tenang.

"Bagaimana pendapatmu tentang Jepang?" tanya Aiko membuka percakapan.

"Nyaman sekali transportasinya, tapi sekarang masih rindu Indonesia," ujar Rini sambil tertawa kecil.

3 tahun belajar bahasa Jepang di Indonesia membuat Rini paham cukup banyak tentang bahasa Jepang. Meskipun masih belum lancar mengucapkannya. Pembicaraam mengalir, membahas perbedaan-perbedaan antara Jepang dengan Indonesia. Karena baru sepekan, Rini lebih sering bertanya tentang budaya Jepang yang dilihatnya selama di sini. Jadilah Aiko menerangkan banyak hal tentang Jepang, peraturan masyarakatnya, dan kebiasaan-kebiasaannya. Sungguh jauh berbeda dengan Indonesia.

"Rini san, sebenarnya saya ingin bertanya kepada kamu tentang agama kamu," tanya Aiko, setelah cukup lama mereka bertukar informasi tentang Negara masing-masing.

Rini menegakkan tubuhnya, mendengarkan dengan serius. "Apa yang ingin kamu tahu tentang Islam?"

"Saya tahu, mungkin apa yang saya tanya akan menyinggung perasaan kamu, tapi saya hanya ingin menjawab pertanyaan yang selalu menggelitik pikiran saya sejak lama," ujar Aiko, perlahan.

"Tidak apa, saya tidak akan marah. Kalau saya bisa menjelaskannya, akan saya jelaskan. Tapi kalau tidak, mungkin saya akan mencoba mencari jawabannya dulu. Karena sampai saat ini, saya pun masih belajar tentang agama saya," jawab Rini tenang.

"Pertanyaannya, apakah benar di dalam Islam diajarkan kekerasan? Perang? Sehingga orang Islam sangat suka sekali dengan perang? Maaf, saya baru saja melihat tentang konflik Gaza di tv tadi pagi. Pertanyaan itu kembali muncul, terutama ketika melihat kamu berdiri di hadapan saya," kedua tangan Aiko bertangkup di atas meja. Matanya memandang lurus ke arah Rini yang juga mendengarkan dengan serius.

"Hmm... Memang, di dalam Islam, dalam Al-Qur'an ada surat yang menjelaskan tentang perang. Tetapi itu hanya sebagian kecil saja dari seluruh ajaran Islam yang berisi kasih sayang, keadilan, dan saling menghormati dengan sesama. Apalagi Al-Qur'an dibuka dengan surat yang berisi tentang kasih sayang Allah kepada seluruh mahluknya di alam ini," Rini menjawab dengan perlahan. Berharap apa yang ia sampaikan dapat dipahami.

"Tetapi," lanjutnya, "Kadang kita tidak bisa menghindari perang karena ada situasi khusus. Misalnya ketika orang Islam diganggu, atau kehormatan dan tanahnya dirampas seperti yang terjadi di Palestina saat ini."

Bola matanya sedikit berkaca ketika berbicara tentang Palestina. Isu palestina memang sedang hangat. Di berbagai media, koran dan internet, aksi penyerangan Israel ke Gaza telah mendapat kutukan dari banyak orang. Bahkan dari yang bukan muslim.

"Ah.. Tentang itu, bukankah Israel hanya membalas roket-roket yang dikirim oleh HAMAS? Saya juga jadi ingin tahu tentang itu," ujar Aiko cepat.

Rini memandang Aiko, guratan antara kesedihan dan kemarahan terpancar di matanya. "Kamu percaya itu? Percaya kepada berita yang banyak disetir oleh Israel?" hela nafasnya menunjukkan ia berusaha menahan perasaan yang sedang bergejolak di hatinya.

"Kalau dilihat dari sejarahnya, Israel mengklaim wilayah Palestina sebagai miliknya setelah tahun 1948. Padahal di sana, sudah ada bangsa Arab sebagai pemilik sah tempat itu. Lalu orang Palestina diusir dari tanah-tanah mereka. Rumah-rumahnya dihancurkan dan mereka menjadi pengungsi di negeri-negeri lain. Sementara sejak saat itu, wilayah Israel meluas, dan tanah penduduk Palestina semakin mengecil. Sampai akhirnya, tinggallah wilayah Gaza dan Tepi Barat yang dipisahkan, di tengah-tengahnya terdapat wilayah Israel. Bukankah itu aneh?" Rini berhenti sejenak mengatur nafasnya dan meneguk teh hangat yang sudah mulai dingin.

"Taruhlah mereka menganggap itu tanah warisan yang dijanjikan oleh kitab suci mereka. Tapi apakah adil mengambil tanah itu dengan semena-mena dan mengusir pemilik lamanya ke luar dan terlunta-lunta di negeri lain. Kalau kamu berada di posisi orang Palestina, apa yang kamu lakukan?" tanya Rini sambil memandang Aiko tajam.

"Hmm... Saya kira, saya akan melawan," katanya.

Rini mengangguk setuju. "Itulah yang dilakukan HAMAS saat ini. Belum lagi kekejaman yang dilakukan Israel terhadap penduduk Gaza. Sebelum penyerangan ini, mereka dikurung oleh tembok-tembok yang didirikan Israel di sekitar wilayah Gaza. Tidak cukup makanan, listrik, dan juga obat-obatan selama hampir dua tahun. Lalu belum cukup dengan itu, mereka membom penduduk Gaza, dan membuat 1000 orang penduduk Gaza tewas. Sebagian besarnya adalah wanita dan anak-anak," tuturnya sedih.

"Bisa kamu bayangkan kondisi mereka? Satu-satunya harapan adalah suplai dari terowongan yang dibuat oleh pejuang HAMAS. Tapi itu pun ingin dihancurkan oleh Israel. Itulah dalih dari serangan brutal mereka saat ini," lanjutnya.

"Menurut kamu, apakah mereka masih punya hati? Jadi wajar kalau HAMAS bersama penduduk GAZA, tidak ingin menyerah sampai titik akhir penghabisan," suara Rini melembut.

"Saya setuju dengan kamu, Rini san. Tapi bukankah korban sudah sangat banyak jatuh di Gaza. Kenapa tetap tak ingin berdamai?" Protes itu akhirnya meluncur dari mulut Aiko.

Rini menghela nafas lagi. "Kalau perang ini dihentikan, tapi tembok rasis yang membuat penduduk Gaza terkurung masih tetap ada, lalu terowongan yang merupakan satu-satunya penghubung antara Gaza dengan dunia luar dihancurkan, bukankah sama saja dengan membunuh warga Gaza secara perlahan?" tanya Rini balik.

Aiko terdiam. Ia memang membaca di media, kesepakatan gencatan senjata yang diinginkan HAMAS adalah penghentian agresi Israel, penarikan pasukan Israel dari Gaza, membuka blokade untuk selamanya, dan dibukanya perlintasan, khususnya gerbang Rafah. Sesuatu yang sulit dilakukan oleh Israel.

Rini menundukkan wajahnya, menghapus air mata yang mulai menganak sungai. Aiko terkejut. "Rini san, kamu tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.

Rini menggelang lemah. "Maaf, saya sangat sedih kalau berbicara tentang Gaza. Islam mengajarkan kami untuk saling bersaudara. Mereka adalah saudara saya. Melihat mereka terbunuh setiap hari dan saya hanya bisa melihatnya lewat tv dan internet, membuat hati saya seperti tersayat pisau. Sedih sekali," isaknya.

Aiko tertegun. Sebegitu besarkah kecintaan seorang muslim kepada sesamanya? Sungguh Aiko sama sekali tak bisa membayangkan. Hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya tidak terlalu mendalam. Bahkan kadang ia acuh dengan masalah mereka. Seperti ia sendiri tidak terlalu ingin masalahnya dicampuri. Tragedi kemanusiaan di Gaza hanya sedikit mengusik rasa kemanusiaannya. Melihat Rini yang seperti ikut merasakan duka orang-orang, yang bahkan tidak dikenalnya di bagian bumi yang lain, menimbulkan rasa kagum. Padahal satu-satunya kesamaan mereka hanyalah agama.

Bel jam makan siang sudah berbunyi. Gerombolan mahasiswa dan mahasiswi yang tertawa ceria masuk ke dalam kantin, meramaikan suasana kantin siang itu.

"Ah.. Sudah cukup lama diskusi kita ya," ujar Rini, titik-titik air mata masih tersisa di matanya.

"Masih ada yang harus saya kerjakan setelah ini. Mudah-mudahan kita bisa berdiskusi lagi di lain waktu," lanjutnya sambil melihat lingkaran jam di tangannya.

Aiko menarik balik pikirannya yang mengembara. Sambil cepat-cepat mengangguk dan mempersilahkan Rini untuk meninggal tempat itu.

"Lain kali boleh saya ajak ngobrol lagi?" seru Aiko agak keras, ketika Rini sudah sampai pintu ke luar kantin.

Rini berhenti, menoleh dengan senyum manisnya. "Tentu, dengan senang hati," jawabnya. Lalu melanjutkan langkahnya ke luar.

Hari ini, ada pelajaran baru untuk Aiko. Untuk tidak langsung percaya dengan apa yang didapatnya dari media. "Ternyata, selalu ada penjelasan di balik berita-berita itu. Mungkin juga, sebutan teroris itu hanyalah akal-akalan media agar orang lain takut dengan Islam," pikir Aiko lebih jauh.

Mungkin suatu saat, kebenaran itu akan benar-benar datang menjernihkan pikiran Aiko. Lalu bisa melihat kebenaran dengan lebih jelas. Semoga.

http://hifizahn.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ita Yusvana | Karyawan
Teman di waktu istirahat yang paling sering dikunjungi.
KotaSantri.com © 2002 - 2019
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0615 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels