HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
Alamat Akun
http://jamilazzaini.kotasantri.com
Bergabung
24 Juni 2009 pukul 05:31 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Trainer
Jamil Azzaini adalah seorang trainer sekaligus Inspirator. Rekan-rekannya menyebut sebagai Inspirator Sukses Mulia. Julukan itu muncul didasari oleh kepiawaiannya mendorong orang untuk selalu meraih kehidupan terbaik: Sukses Mulia. Sukses adalah orang yang memiliki 4-ta (harta, tahta, kata dan cinta) yang tinggi, 4-ta itu diperoleh dengan memperhatikan etika dan agama yang …
http://jamilazzaini.com
http://facebook.com/jamilazzaini
http://twitter.com/jamilazzaini
Tulisan Jamil Lainnya
Ubah Amarah
14 November 2013 pukul 19:00 WIB
Modal Sosial
8 November 2013 pukul 18:00 WIB
Waspadalah Para Wanita
7 November 2013 pukul 22:00 WIB
Sumpah Bukan Asal Sumpah
2 November 2013 pukul 20:20 WIB
Jangan Sepelekan yang Kecil
29 Oktober 2013 pukul 23:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Jum'at, 15 November 2013 pukul 18:00 WIB

Kehilangan Sensitivitas

Penulis : Jamil Azzaini

Pernahkah Anda berbuat dosa atau kesalahan, namun Anda tak merasa bersalah dan hati tak gelisah? Waspadalah, bila saat ini Anda mengalami kondisi seperti itu. Kata guru saya, orang yang semacam ini sudah kehilangan sensitivitas. Lebih parah lagi, sudah berbuat dosa tetapi merasa dirinya telah berbuat baik dan merasa dekat dengan-Nya.

Seorang kenalan saya pernah mengatakan, “Sistem kerja di tempat saya memang memungkinkan untuk korupsi. Kalau saya menolak, akan merusak sistem dan saya dimusuhi teman-teman. Ya sudah, uang yang katanya kotor itu saya kumpulkan di satu rekening dan saya gunakan untuk mengumrohkan anak buah saya.” Ngeri, kan? Sudah jelas korupsi, tapi merasa shaleh dan merasa baik hati.

Hilangnya sensitivitas ini membuat kita berlumur dosa, namun kita tak merasa berdosa. Semakin lama, ia akan semakin terjerumus ke dalam keburukan yang semakin dalam tanpa ia sadari. Apa yang membuat sensitivitas menurun bahkan hilang dari diri seseorang? Menurut pengamatan saya, orang-orang yang kehilangan sensitivitas biasanya menggunakan pembenaran-pembenaran sebagai berikut.

Pertama, “Tidak apa-apa, kan darurat.” Kelompok ini menganggap apa yang dilakukannya darurat karena kondisinya tidak normal. Ia rela menggunakan uang haram karena menganggap susah mencari yang halal. Ia melakukan selingkuh karena kondisinya jauh dengan pasangan hidupnya dan tidak bisa setiap saat berjumpa. Mereka berdalih, “Ini kan darurat.”

Kedua, “Perasaan tidak enak.” Ada sekelompok orang yang kehilangan sensitivitas berawal dari perasaan tidak enak. Tidak enak kalau menolak, sebab yang mengajak atasan, orang yang dikagumi, klien kakap (besar), dan lain-lain. Bahkan ada yang pernah curhat kepada saya, ia “terpaksa” melakukan hubungan suami-istri karena merasa tidak enak menolak, sebab yang mengajak berhubungan adalah pimpinannya.

Ketiga, “Tidak apa-apa, kan cuma sekali-kali.” Ternyata ada orang yang kehilangan sensitivitas berawal dari perasaan dirinya telah banyak berbuat kebaikan dan “merasa” boleh melakukan kesalahan karena hanya sekali-kali. Berawal dari sekali-kali, kemudian berbuat berkali-kali. Akhirnya, orang ini benar-benar kehilangan sensitivitasnya.

Kehilangan sensitivitas adalah penyakit yang sangat berbahaya. Sebab, ada perasaan kita ini orang baik, padahal kehidupnnya kotor dan melakukan banyak keburukan yang dibenci oleh Sang Maha. Segeralah bertemu dan bergaul dengan orang-orang yang tulus, beriman, berilmu, dan sibuk melakukan kebaikan agar kita memiliki sensitivitas.

Lebih baik hidup kita gelisah karena kita tahu bahwa kita telah berbuat salah, daripada hidup kita tenang padahal pada hakikatnya bergelimang dosa. Jangan sampai kita kehilangan sensitivitas dalam hidup yang singkat ini.

http://jamilazzaini.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Jamil Azzaini sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Lina | staff adm
Subhanallah... Ingin sekali bisa bergabung, berbagi cerita, dan bertanya. Artikelnya bagus-bagus.
KotaSantri.com © 2002 - 2019
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0541 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels