Pelangi » Percik | Jum'at, 1 November 2013 pukul 21:00 WIB

Kita dan Rasa Malu

Penulis : Muhammad Nahar

Rasulullah SAW bersabda dalam salah satu hadits beliau, “Jika engkau tidak merasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari).

Salman Al-Farisi punya pemahaman lain lagi tentang hadits itu. “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla apabila hendak membinasakan seorang hamba, maka Ia mencabut darinya rasa malu. Bila rasa malu telah dicabut, maka engkau tidak akan menemuinya kecuali sebagai orang yang murka dan dimurkai. Bila engkau tidak menemuinya kecuali sebagai orang yang murka dan dimurkai, maka dicabutlah pula darinya sifat amanah. Bila sifat amanah itu dicabut darinya, maka engkau tidak akan menjumpainya selain sebagai pengkhianat dan dikhianati. Bila engkau tak menemuinya selain pengkhianat dan dikhianati, maka rahmat Allah akan dicabut darinya. Bila rahmat itu dicabut darinya, maka engkau tidak akan menemukannya selain sosok pengutuk dan dikutuk. Bila engkau tidak menemukannya selain sebagai pengkutuk dan dikutuk, maka dicabutlah darinya ikatan Islam,” begitu kata Salman. (HR. Ibnu Majah dalam Kitab Fitan, hadits nomor 4044, sanadnya lemah, tapi shahih).

Pendapat Salman Al-Farisi di atas menyadarkan kita bahwa hilangnya rasa malu adalah awal dari segala kerusakan dan kebinasaan. Salman Al-Farisi juga memperingatkan bahwa selain bisa menjadikan seseorang dimurkai, hilangnya rasa malu juga membuat orang hilang sifaat amanahnya. Orang itu akan menjadi seorang pengkhianat yang dengan enteng merusak atau menyelewengkan amanah yang dibebankan kepadanya. Orang lain pun pada akhirnya akan enggan memberi kepercayaan lagi padanya. Orang yang telah hilang rasa malunya pun bisa dengan mudah mengutuk orang lain dan menuduh macam-macam kepada orang lain tanpa bukti yang jelas. Dan yang paling mengerikan dari tercabutnya rasa malu adalah lepasnya ikatan Islam dari orang tersebut. Sehingga, walaupun bukan berarti kita bisa dengan mudah menuduh orang itu kafir, namun bukan tidak mungkin dia sudah tidak lagi layak disebut seorang muslim.

Perlu kita ketahui bahwa bukan kebetulan apabila kata yang menjelaskan tentang rasa malu dalam bahasa Arab, al-haya’ memiliki akar kata yang sama dengan kata hayat atau kehidupan. Kesamaan akar kata itu menunjukkan betapa pentingnya rasa malu dalam memelihara keberlangsungan kehidupan di dunia ini. Banyak sekali kesenangan dan perbuatan buruk yang hanya bisa dilaksanakan apabila rasa malu sudah dicampakkan sejauh-jauhnya dari kehidupan kita. Jika kita lebih suka memperturutkan hawa nafsu dan ego pribadi kita daripada syari'at yang sudah ditentukan oleh Allah SWT dan RasulNya, maka kita sudah termasuk tidak memiliki rasa malu. Jika masih ada janji-janji yang dengan mudah kita langgar, amanah yang tidak kita penuhi dan lain sebagainya, bukan tidak mungkin rasa malu sesungguhnya sudah tercabut dari diri kita. Dan, sebagaimana pendapat Salman Al-Farisi di atas, semua itu dapat mencabut ikatan Islam atas diri kita. Na'udzubillah min dzalik.

KotaSantri.com 2002-2021