|
HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
|
|
|
fziah05@ymail.com |
|
http://facebook.com/fauziah humaira |
|
http://twitter.com/sihaizirah |





Selasa, 9 April 2013 pukul 20:00 WIB
Penulis : Fauziah Humaira
Ketika seseorang berbicara dengan lawan bicara secara berbisik, ternyata biarpun hanya bisikan, tapi akan jelas terdengar. Itulah mereka yang hatinya sangat dekat atau merasa sangat dekat. Ketika hati itu dekat, maka waktu dan jarak takkan lagi jadi pemisah di antara keduanya. Ini tak jauh bedanya saat seorang kekasih bertemu dengan kekasihnya, hanya dengan tatapan mata saja, cukuplah kesan cinta yang sangat dalam persembahan dari hati sang kekasihnya. Menyisir semua galau dan risau yang ada.
Lalu mereka yang berbicara sambil berteriak, seakan-akan mereka terpisah sangat jauh. Ini merupakan suatu kenyataan ketika dua orang yang sedang marahan, mereka berteriak padahal mereka sedang berhadapan. Ini adalah indikasi bahwa hati mereka terpisah sangat jauh.
Ternyata itulah hati. Ketika hati sedang dekat, maka jarak dan waktu takkan menjadi tantangan ataupun hambatan untuk tetap saling mengerti antara pemilik hati. Tapi saat hati sedang berjauhan, biarpun sedang berhadapan tak terpisah jarak apalagi waktu, maka tetaplah mereka merasa sangat jauh, sehingga teriakanpun mungkin tak bisa lagi mereka dengarkan. Bukan hanya mulut yang bisa berbicara, tapi hati juga berbicara, maka dengarkanlah saat hati sedang berbicara. Jangan hanya mendekatkan yang jauh namun menjauhkan yang dekat, tapi dekatkanlah yang dekat itu juga.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fauziah Humaira sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.