|
Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
|
|
|
fziah05@ymail.com |
|
http://facebook.com/fauziah humaira |
|
http://twitter.com/sihaizirah |





Jum'at, 10 Februari 2012 pukul 11:11 WIB
Penulis : Fauziah Humaira
Salah satu hak paling mendasar seorang manusia adalah makan. Dari mana kita memperoleh makan kalau tidak berusaha. Seseorang bisa makan, minum, dan menopang kehidupannya adalah dengan harta. Kata Allah SWT dalam kitab suciNya, “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (QS. An-Nisa : 5).
Mencari harta adalah kebutuhan sekaligus kewajiban. Berusaha, bekerja, dan melakukan aktifitas ekonomi adalah suatu kewajiban sekaligus tuntutan kehidupan, bahkan Islam menganggapnya sebagai ibadah, apapun bentuk pekerjaannya, apabila tidak bertentangan dengan ketentuan agamanya. Hal itu sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, Dari Ibnu Umar RA, dari Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang mu’min yang mempunyai keahlian.” (HR. Thabrani).
Namun disaat yang berbeda, harta pun menjadi sumber permusuhan. Harta dapat memutuskan silaturrahim bahkan dengan saudara kandung sekalipun. Bagi tiap sesuatu terdapat ujian dan cobaan dan ujian serta cobaan terhadap umatku ialah harta-benda. Inilah hukum alam yang tidak bisa ditolak oleh manusia “sunnatullah”. Siapa yang tidak mau kaya? Bahkan ada di antara kita yang menempatkan kekayaan sebagai tolak ukur dari kebahagian dan cerminan dari kesuksesan.
Pada akhir jaman kelak manusia harus menyediakan harta utuk menegakkan urusan agama dan urusan dunianya. Ya, ini suatu kenyataan sekarang. Betapa tidak, ketika kita ingin mendapatkan pendidikan yang layak sudah seharusnya biaya pun sangat di butuhkan. Agama apapun tidakmenuntut ummatnya untuk hidup miskin, begitupun agama Islam yang penuh dengan keindahan. Dengan harta kita bisa bersedekah dan bisa menolong orang lain yang membutuhkannya. Harta kekayaan adalah sebaik-baik penolong bagi pemeliharaan ketakwaan kepada Allah.
Dengan demikian, ada dua jalan yang bisa kita ambil dengan harta. Menjadikan harta sebagai sumber kehancuran dalam sebuah hubungan ataupun menjadi sebuah jalan yang mendekatkan manusia kepada Tuhannya.Tapi ingatlah ketika harta menjadi petaka, karena ujian kenikmatan sangat sulit untuk dilalui.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fauziah Humaira sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.