Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
Alamat Akun
http://fauziah_humaira.kotasantri.com
Bergabung
6 November 2010 pukul 06:09 WIB
Domisili
Banda Aceh - Nanggroe Aceh Darussalam
Pekerjaan
mahasiswa
optimist but realistic n logic
fziah05@ymail.com
http://facebook.com/fauziah humaira
http://twitter.com/sihaizirah
Tulisan Fauziah Lainnya
Cari Sensasi juga harus Pakai Hati
12 Januari 2012 pukul 09:30 WIB
Ajariku
9 Januari 2012 pukul 15:00 WIB
Anak Egois? Hati-hatilah!
7 Januari 2012 pukul 10:00 WIB
Wanita “MBA” Calon Ibu yang Baik
5 Januari 2012 pukul 13:40 WIB
Kalau Mau Pintar, Jangan Takut Kotor!
1 Januari 2012 pukul 16:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Jum'at, 20 Januari 2012 pukul 11:00 WIB

Mari Berbunga Diri

Penulis : Fauziah Humaira

Jika iman bak emas permata, maka akhlak adalah bunga diri, indah dilihat oleh mata, senang dirasa oleh hati, dan setiap orang akan jatuh hati. Subnanallah, rindu nian hati ini bertemu dengan Engkau, wahai pujangga yang berakhlak mulia. Engkaulah cahaya di atas cahaya, takkan pudar sepanjang masa. Hati yang suci lagi mulia pribadi agung dan tak ternoda, akhlak yang sangat indah. Ekspresi cinta yang sangat indah kepada ummat, ummati ummati takkan berbalas apalagi terbalas, sungguh tak terhitung dan tak ada kata yang paling indah yang bisa diungkapkan. Jika perasaan itu sangat dalam, maka dalam perasaanpun takkan sanggup menandingi betapa dalam cintanya, tak ada hati yang tidak dapat ditaklukkan. Jika lamunan itu begitu tinggi dan bintang yang bertebaran di angkasa sangat indah, maka tinggi lamunan dan indahnya beribu cahaya bintangpun tak bernilai.

Bershalawat untuk Rasulullah bukan akhir untuk mengingat kedamaian yang telah dibawakan beliau. Seorang rasul yang membawa perbaikan di muka bumi. Membawa kedamaian bukan hanya kepada umat Islam, tapi juga umat lain di dunia. Mungkin kita masih ingat sekilas kisah tentang Fir'aun yang tenggelam dalam lautan yang kisahnya telah diabadikan dalam Al-Qur'an. Kisah Nabi Nuh dengan bahteranya, Allah menenggelamkan mereka yang ingkar. Sungguh ini suatu kisah nyata bagaimana Allah memberikan peringatan kepada mereka-mereka yang tidak beriman. Namun ketika Rasulullah diutus, tidak ada lagi azab seperti yang telah dialami oleh para Nabi yang dahulu. Inilah kedamaian, namun itulah manusia sering tenggelam dalam kesenangan. Na’udzubillah…

Akhlak adalah spontanitas, tidak bisa dibuat-buat, tapi terjadi apa adanya, tergantung pribadi masing-masing (individualitas). Jika pribadi baik, maka akan lahir akhlak baik. Sebaliknya, jika pribadi tidak baik, maka akhlaknya pun akan ikut terbawa. Tutur kata mencerminkan akhlak seseorang.

Wahai sahabat, hati-hatilah dalam berbicara, karena tutur kata itu lebih tajam dari apapun. Jika dikatakan setajam pedang yang menyayat kulit kemudian meninggalkan bekas, kita masih bisa melihat bekas itu. Tapi, sahabat, ingatlah, tutur kata yang menyayat hati tak terlihat oleh mata, maka hati-hatilah. Kata yang telah dikeluarkan tak bisa ditarik kembali, seperti air liur yang telah diludahkan, apa ada yang sanggup menelannya lagi? Sungguh sangat menjijikkan.

Tak ada musuh yang tak dapat dikalahkan oleh cinta dan cinta itu juga akan timbul karena kekuatan tutur kata. Tak ada penyakit yang tak dapat sembukan dengan kasih sayang, tutur kata yang lembut merupakan lambang kasih sayang. Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan, seperti para musuh yang menentang Rasulullah tapi hanya sebatas jasad, karena hati mereka telah terlebih dahulu ditaklukkan oleh Rasul mulia.

Akhlak mulia adalah cerminan seorang muslim, buah dari ibadah dan lambang kualitas manusia, baik pribadi, masyarakat, ataupun ummat. Mari belajar memperbaiki diri. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fauziah Humaira sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Andree | Karyawan
Walaupun saya baru di KotaSantri.com, tapi saya sangat puas, karena penuh dengan ilmu agama, dan penggunaannya pun sederhana gak seperti yang lain, yang penuh dengan instruksi bahasa orang kafir, kasihan kan yang ingin ikut silaturrahmi tapi gak ngerti bahasanya seperti saya.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1154 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels