|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|
|
|
fziah05@ymail.com |
|
http://facebook.com/fauziah humaira |
|
http://twitter.com/sihaizirah |





Jum'at, 30 Desember 2011 pukul 13:30 WIB
Penulis : Fauziah Humaira
Jangan selalu tertipu dengan kebingungan. Harus mulai dari mana ya? Sangat akrab di telinga seolah menjadi garam dalam makanan yang menjadi penguat rasa. Keraguan itu adalah penyakit akut manusia untuk bangkit menjadi lebih maju. Jawabannya tentu sangat mudah, sesuatu yang kita lakukan pastinya dimulai dengan niat. Niatlah yang membuat kita mengenal tujuan. Tanpa ada niat atau tujuan akhir, suatu perbuatan pastinya akan mengambang yang disertai keraguan di setiap saat.
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya.” (HR. Al-Bukhāriy dan Muslim).
Jika kita sadar dengan hal ini, maka tidak akan ada keraguan yang menimpa. Niat itu adanya di awal, begitu kita mengetahuinya selama ini. Manusia memang makhluk rumit dan kompleks, bukan seperti mesin. Suatu mesin akan bekerja dengan baik jika kita mengikuti mekanisme kerjanya dengan baik. Dengan segala prosedur yang telah ditentukan oleh si pembuat mesin dan kita mengikuti langkah-langkah teoritisnya (petunjuk penggunaan), maka semuanya akan baik-baik saja. Mungkin hanya akan ada sedikit kemungkinan untuk tidak bekerja dengan baik.
Ini berbeda halnya dengan manusia, karena manusia bukanlah makhluk mekanis. Oleh karena itu, manusia tidak bisa diakomodasi oleh prinsip manajerial seperti layaknya mesin. Inilah manusia dengan keindahan seni padanya sebagai anugerah dari sang Khaliq. Manusia dihiasi oleh akal dan juga berbagai ekspresi emosi marah, kesal, cinta, ambisi, dan juga diikat oleh nafsu.
Niat itu menjadi keyword untuk setiap langkah yang ditempuh oleh manusia itu sendiri dalam menghadapi kehidupannya. Namun niat itu seringkali dinodai oleh nafsu, itu salah satu sebab kenapa kita harus selalu memperbaharui niat kita. Di saat kita telah lalai dari tujuan utama, tidak bisa dihindari kita akan merasakan ada hal yang hilang. Memperbaharui niat sama saja dengan memperbaharui semangat untuk mencapai tujuan.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fauziah Humaira sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.