|
QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
"
|
|
|
http://www.seorangmusafir.wordpress.com |
|
seorangmusafir@yahoo.com |
Selasa, 20 Desember 2011 pukul 11:45 WIB
Penulis : seorang musafir
Setiap manusia pasti memiliki keinginan yang sama agar dia bisa mendapatkan kebahagiaan dalam hidup ini. Namun, setiap orang ternyata memiliki cara pandang yang berbeda tentang kebahagiaan itu. Ada yang memandang bahwa kebahagiaan itu ada pada harta kekayaan. Ada pula yang memandang bahwa kebahagiaan itu ada pada pangkat dan jabatan. Ada juga yang memandang bahwa kebahagiaan itu ada pada popularitas maupun pada sederet parameter duniawi lainnya.
Namun, di manakah sebenarnya pangkal kebahagiaan itu berada? Tidak lain dan tidak bukan, hanya ada pada agama Islam. Yakni sebuah sistem hidup yang telah Allah pilihkan bagi seluruh ummat manusia. Islam adalah sistem hidup paling ideal, karena dia dibuat oleh Sang Pencipta manusia yang tentunya paling tahu apa yang terbaik bagi manusia ciptaan-Nya.
Adapun dasar kebahagiaan yang paling pokok adalah iman dan amal shaleh. Allah SWT berfirman, ”Barangsiapa yang beramal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka akan kami berikan kepadanya hayaatan thayyibah (kehidupan yang baik).” (QS. An-Nahl : 97). Para ulama’ tafsir menjelaskan bahwa kehidupan yang baik itu adalah kebahagiaan. Dan tiada kehidupan yang baik bagi seseorang kecuali kehidupan di surga kelak.
Karena itu, tidak ada alternatif lain bagi kita, selain menjadikan Islam sebagai jalan hidup dan ikhlas menjalaninya sebagai sikap dan perilaku dalam kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan, dan sosial kita. Sebagaimana yang Allah perintahkan agar kita ber-Islam secara kaaffah. “Udkhuluu fii al-silmi kaaffah. Masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh.“ (QS. Al-Baqarah : 208).
http://www.seorangmusafir.wordpress.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan seorang musafir sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.