|
Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
|
|
|
fziah05@ymail.com |
|
http://facebook.com/fauziah humaira |
|
http://twitter.com/sihaizirah |





Jum'at, 9 Desember 2011 pukul 11:00 WIB
Penulis : Fauziah Humaira
Cara kita melakukan sesuatu bergantung pada tujuan yang ingin diraih. Inilah yang akan menjadi sejarah kita masing-masing. Hidup ini sangat luas maknanya, tergantung dari segi apa siapa yang melihatnya. Beda kepala beda pula isinya. Setiap kita akan mengukir sejarah bahwa kita pernah berada di dunia ini. Minimal sewaktu kita sudah menjadi kakek ataupun nenek, pasti semua cucu-cucu kita nanti akan menanyakan bagaimana kita menjalani hidup selama ini. Apa yang bisa menjadi kebanggaan setelah sekian lama menumpang hidup di dunia.
Kecerdasan dan semangat manusia adalah kreasi yang paling hebat, namun kita sering meremehkannya. Kita tahu tapi tidak mengenalnya. Tahu itu ibaratnya seperti orang yang lagi membaca sebuah tulisan tapi tidak memahaminya. Sedangkan mengenal, selain membaca dia juga mengerti dan paham dengan apa yang sedang dibacanya. Terkadang kita hanya suka dan keseringan membaca, tapi lupa untuk belajar mengerti dan memahami.
Suatu terobosan akan datang tidak hanya dari kemajuan teknologi, tetapi juga dari realisasi lebih dalam tentang makna dalam sebuah kehidupan. Kita sering mendengar hidup ini adalah pilihan, apakah kita sudah menyadarinya dengan memilih jalan hidup kita atau hanya sebatas berkata saja. Banyak pilihan yang secara dramatis dapat mengubah hidup kita yang terkadang hanya berupa hal kecil saja yang sangat mudah untuk meraihnya. Tetapi hanya sedikit orang yang mengerahui bagaimana mengelola hal itu, tahu tapi tidak kenal.
“Semua kehidupan adalah sebuah masa pilihan kecil praktis, emosional, dan intelektual yang diorganisasi secara sistematis untuk kejayaan atau kegagalan kita. Pilihan-pilihan itu bisa diubah satu kali di setiap waktu. Bukan hanya mimpi besar kita yang bisa membentuk kenyataan. Pilihan kecil dengan sangat menarik menunjang kita atas takdir kita.” (William James). Jangan pernah sia-siakan hal terkecil dalam kehidupan ini.
Semua yang kita gapai dalam hidup tidak selamanya sesuai dengan harapan dan impian yang kita miliki. Berikan yang terbaik kepada dunia dan yang terbaik akan kembali padamu. Apapun yang kita lakukan, sebagai contoh nyatanya ketika seseorang itu menulis dengan ketulusannya, maka pembaca juga akan merasa ruh si penulisnya. Tidak jauh beda ketika seorang bekerja dengan penuh semangat dan selalu datang tepat waktu dengan tujuan untuk menjadikan tempat dia bekerja menjadi lebih maju. Secara tidak langsung mereka akan merasakan kepuasan tersendiri yang sangat sulit untuk diterjemahkan dalam bentuk apapun, itulah kepuasan batin.
Janganlah terlalu banyak bermimpi kamu akan kecewa, ikuti saja apa yang terjadi untuk menyesuaikan diri. Ini suatu proses untuk menghancurkan kemajuan atau tujuan dalam menempuh kehidupan. Bagaimana kita bisa tahu sebelum mencobanya. Hanya sedikit orang yang mau menguji hal-hal baru dengan alasan takut kecewa. Terkadang hanya mampu mempertahankan apa yang ada. Hidup ini tak terbatas oleh pikiran dan kesan kita terhadapnya. Dengan bertindak, barulah kita belajar membangkitkan dan menerapkan kemampuan kita.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fauziah Humaira sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.