Pelangi » Percik | Jum'at, 16 September 2011 pukul 15:00 WIB

Nikmat Tuhan Manakah yang Pantas Didustakan?

Penulis : nina fitria

Ruang Mushalla dengan ukuran minimalis yang selalu menjadi ruang penyejuk hatiku, ruang yang kuhampiri di sela-sela aktivitas rutin yang cukup menyita waktu dan lebih berlekatan dengan keduniawian, ruang yang menjadi tempat istirahatku di dalam shalat.

Senja itu, di dalamnya kubersimpuh, kutengadahkan wajah menyusuri langit-langit ruang sederhana tersebut, sejeda kemudian tertunduk dalam diiringi hela nafas yang panjang, cukup berat terasa bergetar jiwaku dalam alunan hati, duhai Rabbi. Segala puji bagi-Mu, ya Allah, yang menjadikan ujian sebagai tanda cinta bagi hamba-MU.

Jika masalah-masalah itu hadir dan terasa begitu beratnya mendera kehidupan, kita seperti lunglai dan merasa akan menyerah dalam kelelahan, kemungkinan hati kita yang cenderung mengerdil bukan? Dzikir kita yang kian terbungkam atas-Nya bukan? Cenderung terlupa bahwa masalah tak pernah melebihi kemampuan hamba-Nya, dimana Allah memberi ujian senantiasa sesuai kesanggupan hamba-Nya. Dan setiap ujian yang hadir menempa kita, adalah upaya untuk semakin teruji iman di sisi-Nya. Dan menjadi saat saat dimana Allah sangat rindu mendengar rintihan munajat hamba-hamba yang dicinta-Nya.

Lalu nikmat Tuhan manakah yang pantas kudustakan?

Jika hari ini adalah rangkaian kesulitan, kepenatan, kesedihan, kegundahan, lalu bagaimana dengan hari kemarin yang telah hadir begitu banyak kemudahan, kebahagiaan, ketenangan? Bukankah tak ada nikmat-Nya yang pantas kudustakan? Semua hadir silih berganti, dimana hal satu menyeimbangkan hal yang lainnya, bukankah bahagia adalah untuk syukur dan kesedihan adalah untuk sabar?

Sekelebat, rekam memori melintas benak, memiliki keluarga yang kucinta dengan segala dinamika yang mengajarkan untuk kian "tertempa" adalah nikmat yang begitu indah, perjalanan cahaya yang selalu membuatku penuh syukur adalah nikmat yang begitu manis menghias jiwa, bertemu banyaknya hamba-hamba-Mu yang shalih, yang senantiasa mengingatkan dalam tutur lembut penuh hikmah, dalam sahaja akhlaq yang menginspirasi nilai kebaikan, hingga hadirnya berbagai runtun masalah yang memberikan hikmah berlimpah.

Ya Allah ya Rahman ya Rahim, berjuta, bermilyar, bahkan bertriliun nikmat yang tak kan mampu terhitung jemari kehidupan, akankah kandas hanya karena satu kesulitan yang telah pula Kau sediakan kemudahan?

Sungguh nikmat Tuhan yang manakah yang kudustakan?
Lalu nikmat-Mu yang manakah yang terdustakan?

Nikmat udara yang terhirup bebas dan menyegarkan kantung-kantung paru, di saat banyak saudara kita yang hanya dapat bernafas melalui selang-selang dan tabung-tabung oksigen untuk menyambung detak-detak kehidupannya.

Nikmat melangkah membuka hari, dengan tapak kaki yang tegap memijak bumi-Nya, di saat banyak saudara kita yang berjalan dengan tangannya, berpayah menyangga diri melangkah dengan tongkat-tongkatnya, yang tidak lagi memiliki kedua kaki untuk berlari.

Nikmat bersandar di bahu kedua orangtua tercinta, berbagi canda dan tawa, mendengarkan nasihat keduanya, di saat banyak saudara kita yang sejak lahir tidak berjumpa dengan orangtuanya, hidup dalam airmata, dan tercenung dalam rindu hadir nasihat kedua orangtuanya.

Nikmat terindah berupa Iman dan Islam yang bertahta sanubari, yang disaat bersamaan banyak pribadi yang kehilangan arah, ada yang tampak berkelebihan materi namun sejatinya kering makna, tiada bahagia yang hakiki di dalam jiwa, karena tiada Allah di sana.

‎"Maka Nikmat tuhanmu (yang) manakah yang kau dustakan." (QS. Ar-Rahman : 13).

Berderai dalam keharuan dan rasa malu yang membuncah pada-Mu, ya Rabbi, untuk banyak nikmat-Mu yang belum mampu tersyukuri.

Sungguh menjadikan Allah kian Akbar di hati, akan mengerdilkan seketika masalah-masalah kehidupan.

‎"Ya Allah, jadikanlah aku orang yang banyak bersyukur kepada-Mu, banyak berdzikir kepada-Mu, banyak beribadah kepada-Mu, mentaati-Mu, amat tenang bersama-Mu, dan benar-benar kembali dan bertaubat kepada-Mu." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi).

"Duhai dzat yang Mahamulia, yang hati-hati kami terletak di antara jemari-Mu, yang Engkau Maha Membolak-balikkannya atas kehendak-Mu, duhai dzat yang kokohkan atap langit tanpa tiang penyangga, yang hamparkan bumi tanpa ujung terpandang bola mata.

Duhai dzat yang Mahatahu apa yang tersembunyi di dalam setiap hati, yang Maha Menutup aib yang sekiranya menodai jiwa, duhai dzat Ahad yang Mahasegala.

Hamba memohon, hamba mengharap, dan hamba bertawakal atas jalan yang Engkau tentukan. Jadikan jalanku jalan menuju-Mu, jalan cahaya-Mu, jalan para pejuang perindu-Mu, dan jadikan ujung perjalananku adalah pengampunan-Mu, ridha-Mu, rahmat-Mu, wajah Mahamulia-Mu. Allahumma aamiin."

Just let it flow, flow with Allah, karena kesedihan adalah untuk sebuah sabar, kebahagiaan untuk sebuah syukur, itulah mengapa hidup seorang mukmin selalu menakjubkan.

“Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, karena segala
urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim).

KotaSantri.com 2002-2020