Pelangi » Percik | Selasa, 10 Mei 2011 pukul 10:00 WIB

Tanya Kenapa, Duhai Jiwa?

Penulis : nina fitria

Saat lantunan ayat suci-Nya tak mampu menggetar kuat bilik jiwa, kala gema Asma-Nya tak pula meneduhtenteramkan sukma, tanya kenapa, duhai jiwa?

Kala nasihat nan lembut tergulir dari lisan-lisan penuh hikmah kebaikan, mengingatkan akan keagungan-Nya, berlalu hambar tanpa makna, tanya kenapa, duhai jiwa?

Saat sujud-sujud semakin singkat, terganti lelap panjang, dan hati tak rasa rindu mengiba di hamparan sajadah, tanya kenapa, duhai jiwa?

Saat airmata keinsyafan berganti gurau dan gelak tawa yang gersangkan iman hingga menjadi penghabis waktu keseharian, tanya kenapa, duhai jiwa?

Saat hati tak lagi mudah terenyuh haru, memandang begitu banyak di selasar kehidupan, jiwa yang lunglai, membutuhkan hangat uluran tangan, dan mudah saja berlalu tanpa hirau, tanya kenapa, duhai jiwa?

Bukankah, jiwa adalah wadah untuk mengingat-Nya?
Karena jiwa tunduk taat adalah fitrah-Nya?
Karena jiwa berdo'a dan berserah adalah kerinduan-Nya?
Karena tak kan tenteram selain mengingat-Nya?
Karena Tak pula selamat tanpa menghiraukan hak-Nya?

Bukankah karena, kini dunia mulai ambil bagian menjajah iman?

Bukankah karena dunia perlahan terletak di hati, tak lagi tergenggam tangan?

Bukankah karena, jiwa terlupa bahwa dunia hanya senda gurau dan permainan tanpa taat sebagai kesibukannya?

Bukankah karena, terbuta akan kepastian yang mahanyata, bahwa yang terdekat adalah kematian? Dan sehelai kafan menanti membungkus tiap raga dan kan tertimbun tanpa kawan selain amal kebaikan?

Bukankah karena, kita tak sepenuhnya menjalani peran sebagai hamba Allah, namun menjajak beralih menjadi hamba hawa nafsu?

Jagalah (hak) Allah, maka Allah akan menjagamu.

Ingatlah Allah selalu di dalam dirimu, maka Allah akan selalu mengingatmu.

Seindah dunia, kala kita mampu menjadikannya kendaraan menuju syurga-Nya.

Dunia, sebagai kendaraan terbaik menuju-Nya.

KotaSantri.com 2002-2021