HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Alamat Akun
http://nafiadina.kotasantri.com
Bergabung
30 September 2010 pukul 03:38 WIB
Domisili
Jakarta Pusat - DKI Jakarta
Pekerjaan
Sahaya Alloh
Seorang muslimah yang mencintai Allah Azza wa Jalla sebagai Tuhannya,Rasulullah sebagai suri tauladannya,ayah-bunda sebagai permata jiwanya,saudara-saudari sebagai mutiara hatinya,sahabat-sahabat sebagai pelangi kehidupannya,dan saudara/saudari di jalan ALLOH sebagai kekuatan dakwah dijalanNYA..
http://nafiadina.multiply.com
fitrianinaa@yahoo.co.id
http://facebook.com/nafiadina
Tulisan Nina Lainnya
Bahagiaku di Wajah Peri-Peri Kecil
17 Oktober 2010 pukul 15:45 WIB
Mercusuar Ukhuwah, Tinggi Menggapai Syurga
12 Oktober 2010 pukul 18:00 WIB
Sebingkis Cinta untuk Sahabat di Jalan Allah
6 Oktober 2010 pukul 20:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Selasa, 26 Oktober 2010 pukul 18:55 WIB

Katakanlah : Cukup Bagiku Allah

Penulis : nina fitria

Dalam menjalani kehidupan, seringkali manusia merasakan "ketakutan".

Bukan rasa ketakutan yang muncul karena sesuatu yang bernilai misteri, namun ini bisa menjadi jauh lebih "menyeramkan" dari itu.

Saya membahasakannya sebagai "takut kehilangan dunia", banyak sekali ragam penyebab penyakit "takut" ini, dari takut kehilangan tahta, kehilangan harta, keluarga, kedudukan, ketenaran, prestasi, pekerjaan, dan bermacam-macam hal yang semuanya bersifat duniawi semata. Dan penyakit ini menyebabkan kadar keimanan di dalam jiwa dari waktu ke waktu kian menyurut.

Rasa ketakutan ini berkembang sejalan dengan seberapa besar kita bersandar pada hal yang kita takut kehilangan atasnya, kebersandaran ini membuat hati kita tersibuk memikirkan bagaimana untuk menjaga hal yang kita cintai itu di setiap waktu.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 14, "Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingininya, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Syurga)."

Saudaraku, ketakutan dikarenakan cinta dunia, tanpa tersadari, membuat rasa keterpautan dan kebersandaran kita pada Allah pemilik segalanya, memudar, karena ternoda oleh materi keduniaan yang memberangus jiwa, dan dapat menjadi asbab kebinasaan bagi seorang hamba. Ini yang menyebabkan banyak dari umat Islam saat ini berada dalam keterpurukan. Astaghfirullah...

Hal ini sejalan dengan Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam, "Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring." Seseorang berkata, "Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?" Beliau bersabda, "Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn." Seseorang bertanya, "Apakah wahn itu?" Beliau menjawab, "Cinta dunia dan takut mati." (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud No. 3745).

Sungguh malu hati ini, kala teringat kisah para manusia-manusia pilihan-NYA, yang sedia berkorban harta dan jiwa, dan siaga melepas segala yang memang bukan miliknya, untuk berjuang meraih rahmat/cinta Allah Ta'ala. Namun bagaimana dengan kita? Kita masihlah sering bergumul dengan hawa nafsu dan kecintaan terhadap dunia (yang melebihi kecintaan terhadap Pencipta dunia dan segala isinya).

Ya! Semua yang ada pada diri kita ini, sejatinya bukan milik kita. Lalu mengapa kita seringkali rasakan takut kehilangan dunia? Faghfirlanaa ya rabbi. Jauhkanlah kami dari penyakit Al-Wahn, dan suburkanlah kecintaan kami pada-MU.

Tak terpungkiri, terkadang rasa takut yang menghinggap bilik jiwa terkadang membutakan cahaya nurani tanpa tersadari, yang hingga membuat jiwa lebih takut kehilangan "dunia" dibanding kehilangan Rahmat Allah Rabbul izzati. Na'udzubillahi min dzalik.

Ajari kami, ya Allah, untuk semata TAKUT pada-MU, selayaknya kemuliaan Kekasih-MU, Muhammad shallallahu alaihi wassalam, yang Hanya memberi dua opsi Agung bagi kehidupannya, yakni
"Menang" ataulah "Syahid". Allahu akbar!!!

"Demi Allah, Andai mereka bisa meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan urusan (da'wah) ini, maka aku tidak akan meninggalkannya, sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa karena (membela)nya." *Muhammad Shalallahu 'alaihi wassallam*

Ajari hamba, ya Allah, untuk menjadi hamba-MU, yang merasa cukup dengan segala karunia yang Engkau beri, dan senantiasa menjadi KAYA dengan keterpautan hati hamba pada-MU dan Rasul-MU.

Malu kembali merajam hati ketika terlayang kisah mulia Sayyidina Abu bakar, yang tanpa RAGU, memberikan seluruh hartanya, tanpa tersisa sedikit pun, untuk perjuangan di jalan Allah, dan menyisakan dua hal untuk diri dan keluarganya, yakni Allah dan Rasul-NYA. Subhanallah...

Bergetar jiwa ini, kala mengingat rentetan nama-nama pejuang di jalan-MU, yang meski tersiksa raganya demi memperjuangkan kalimat tauhid yang telah mengakar jiwanya, namun merasakan kemanisan iman dengan rasa cinta yang terus tumbuh di dalam dirinya pada-MU. Mereka merasa cukup dengan-MU, mereka sungguh hanya mendamba Ridha-MU, dan dunia pun seakan menjadi tak bernilai, kecuali menjadi kendaraan menuju kemuliaan di sisi Rabb-nya. Subhanallah Allahu Akbar!!!

Hal sedemikian karena mereka bersandar hanya pada Allah, karena mereka memiliki jiwa yang ikhlas, jiwa yang yakin, segala sesuatu yang terjadi dan Engkau berikan padanya adalah ANUGERAH yang patut disyukuri.

Jiwa hamba Rindu semata bersandar pada-MU, ya Allah.

Sungguh Maha benar kalam-MU, "Katakanlah : Dia-lah Allah, yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlas : 1-4).

Meskipun, kita berhajat atas sesuatu, hendaknya semua pengharapan bergantung pada-NYA, dan senantiasa bertawakkal atas segala yang dipilihkan-NYA, dan mencintai sekedarnya, senantiasa teringat segala sesuatu akan kembali padaNYA, terlebih untuk yang belumlah termiliki, dan masih terbingkai asa, ikhlaskan selalu pada NYA, semoga selalu terniatkan karena-NYA. Terwujud atau tidaknya, semua berbalut yakin, bahwa Allah adalah sebaik-baik perencana kehidupan bagi kita, senantiasa berprasangka baik pada-NYA, "Aku (ALLAH)mengikuti prasangka hambaku." (Hadits Qudsi).

Saudara-saudariku yang kusayangi di jalan Allah, bagimu yang sedang dirundung lara, atau diterpa kegundahan dan kekhawatiran, jangan ragu, wahai jiwa yang merindu Rahmat tuhanmu, dunia ini hanya sementara, cintailah sekedarnya, rasa takut itu biarlah meluruh dalam yakinmu, bahwa apa yang ditetapkan-NYA menjadi rezekimu tak akan luput darimu. Begitu pula yang hilang darimu, ikhlaskanlah karena Allah Mahatahu yang kita butuhkan, karena semua yang dikaruniakan-NYA di dalam kehidupan adalah YANG TERBAIK untuk kita.

Dan hanyutkan sukma dalam senandung kekuatan jiwa, "Cukup Bagiku Allah, Cukup DIA Penolongku, Sandaranku, Cintaku..."

"Cukuplah Allah bagiku dan Dia-lah sebaik-baik pelindung." (HR. Bukhari).

Wallahu a'lam, wallahu musta'an.

"Duhai dzat yang Mahamulia, yang hati-hati kami terletak di antara jemari-MU, yang Engkau Maha Membolak-balikkannya atas kehendakMU; Duhai dzat yang kokohkan atap langit tanpa tiang penyangga, yang hamparkan bumi tanpa ujung terpandang bola mata; Duhai dzat yang Mahatahu, apa yang tersembunyi di dalam setiap hati, yang Maha Menutup aib yang sekiranya menodai jiwa; Duhai dzat Ahad yang Mahasegala...
Hamba memohon, hamba mengharap, dan hamba bertawakkal atas jalan yang Engkau tentukan. Dan jadikan jalanku, jalan menuju-MU, jalan cahaya-MU, jalan para pejuang perindu-MU, dan jadikan ujung perjalananku adalah pengampunan-MU, ridha-MU, rahmat-MU, WAJAH MAHA MULIA-MU. Allahumma amin."

http://nafiadina.multiply.com

Suka
bambang, Akhmad Muhaimin Azzet, dan yantie menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan nina fitria sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eko | Karyawan BUMN
Alhamdulillah bisa bergabung lagi setelah 6 bulan aku off. Tulisannya bisa menggugah perasaan kita. Lanjutkan, saudaraku!
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0469 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels