Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
Alamat Akun
http://meyla.kotasantri.com
Bergabung
9 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Swasta
http://meylafarid.multiply.com
Tulisan Meyla Lainnya
Rasa Syukur di Pagi Hari
23 Agustus 2010 pukul 18:00 WIB
Donut Kentang 'Sesuka Hati'
15 Agustus 2010 pukul 20:45 WIB
Serigala
10 Agustus 2010 pukul 20:25 WIB
Cinta
8 Agustus 2010 pukul 16:55 WIB
Cita-cita
2 Agustus 2010 pukul 17:35 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Jum'at, 27 Agustus 2010 pukul 18:00 WIB

Ramadhan, Oh Ramadhan

Penulis : Meyla Farid

Siapa bilang saat Ramadhan semua hawa nafsu kita ikut dipenjarakan laksana pasukan syetan yang dibelenggu? Amarah, emosi, nafsu menghujat orang, berghibah, memakan makanan yang berlebihan, berbuat iri, dan mendzalimi. Nyatanya, tindakan-tindakan itu tetap ada di bulan yang penuh hikmah ini.

Sayang, andai semua insan menahan diri dari berbuat hal-hal sedemikian. Tapi nyatanya, ketika melihat 'kelemahan' orang lain yang terbongkar, sebagian besar kita masih saja 'riang' dan ramai menggosipkan. Mencela. Seolah diri kita sendiri sudah bersih sama sekali dari aib dan dosa. Padahal andai kita jujur pada diri sendiri, hanya kasih sayang Allah yang menutupi aib-aib diri. Namun mengapa saat aib orang lain terbuka, kita bersikap seolah tidak memiliki satu aib pun yang apabila terbuka ke khalayak akan membuat diri kita malu seperti orang lain yang terbuka aibnya itu.

Mengapa saat melihat kelebihan yang dianugerahkan Allah kepada orang lain pun, kita bersikap seolah Allah tidak memberikan kita apa-apa. Oh. Hanya timbangan dunia yang kita gunakan ternyata. Sehingga saat itu terjadi, kita menjadi iri dan merasa perlu untuk segera 'menjatuhkan' mereka yang sedang berbahagia.

Andai saja semua orang, dari lingkungan RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, sampai Negara ini dapat menahan diri dari godaan hawa nafsunya sendiri. Menahan lisan ketika ingin membuka aib orang secara berlebihan. Menahan tangan ketika ada hasrat untuk berbuat kerusakan. Andai saja semua orang berusaha sekuat tenaga untuk hidup tentram dan saling memaafkan, itulah makna Ramadhan yang kita dambakan.

http://meylafarid.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meyla Farid sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

PROF | Clothing Designer
Sukses bwat KOTASANTRI.COM ...

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1030 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels