|
QS. An-Nahl : 97 : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
|





Selasa, 27 Juli 2010 pukul 18:55 WIB
Penulis : Catur Catriks
Banyak kesempatan yang lewat di depan kita, ada yang duduk sebentar, ada yang tidur sampai lama, tapi ada juga yang hanya melintas. Ya, begitu banyak.
Seorang remaja yang tumbuh akan menyaksikan betapa kesempatan begitu menghampar di depan, lalu mereka berpikir masih terlalu belia, belum saatnya. Ia biarkan semuanya tergeletak di pinggir waktu.
Seorang pemuda yang penuh sisi-sisi idealis dengan sangat nyata merasakan adanya peluang yang berkali-kali datang. Ia telah tahu kata bijak dan beberapa ilmu optimisme, manajemen, serta misi dan visi. Tapi karena inilah, mereka menilai kesempatan dan peluang yang hadir, dianggap sebagai sesuatu bidang yang tidak cocok dengan potensi dirinya. Tidak sesuai selera dan kesenangan, atau tidak nyaman. Sementara mereka menunggu kesempatan yang menurutnya benar-benar pas dengan keinginannya. Mereka mengharapkan sesuatu yang diharapkan.
Dan ketika sudah tua, kita baru sadar, apa pun yang kita ketahui, apa pun yang ada di kepala kita, tak akan ada buktinya apabila kita tidak melakukan.
Seorang sarjana tak akan terlihat sebagai intelek apabila ia tidak melakukan apa-apa. Seorang pemikir, ide-idenya akan menguap apabila ide-ide tersebut hanya sampai di mulut dengan beretorika ke sana ke mari. Seseorang yang bisa berimajinasi, akan sia-sia apabila ia hanya menyalurkannya pada malam menjelang tidur sambil melamun membayangkan.
Potensi apapun yang kita miliki tidak akan berarti apa-apa apabila kita tidak membuktikannya. Lakukan apa yang menurut kita harus dilakukan. Jangan ragu atau menunda. Ragu akan meminimalkan hasil kerja, menunda berarti memanjangkan waktu dari pekerjaan yang seharusnya selesai dalam satu minggu menjadi sebulan atau bahkan setahun.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Catur Catriks sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.