|
Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
|





Jum'at, 23 Juli 2010 pukul 18:22 WIB
Penulis : Pretty Kurnia
Apabila saat ini ada perasaan negatif melanda hati, sedih, cemas, kecewa, takut tanpa sebab yang jelas, gelisah, gundah, ingin sendiri, maka janganlah segera mengusirnya. Biarkanlah ia tetap di sana, sewajarnya. Karena semakin kau ingin cepat-cepat mengusirnya, maka ia akan semakin meraja. Dalam tidaknya perasaan negatif itu tergantung pada sejauh mana kau izinkan ia tetap berada di sana, mencengkram sukmamu.
Biarkan perasaan negatif itu pergi, pelan tapi pasti. Dan nikmatilah saat-saat ketidakberdayaanmu, saat-saat kerapuhanmu, dengan hanya menyandarkan harapan hanya padaNya, Pemilik dan Penguasa diri. Nikmatilah saat-saat kau takluk akan KeMahaAgunganNya, karena kau memang tak punya kuasa apapun, bahkan atas dirimu sendiri. Ingatlah selalu dalam jiwamu, bahwa apabila malam semakin kelam, maka itu pertanda pagi akan segera menjelang, pagi yang membawa harapan baru, kehidupan baru, dan semangat baru. Dunia tidaklah hitam dan putih.
Lihatlah di luar sana, di dunia sana, bandingkan dengan orang yang lebih menderita dari dirimu. Kau memang tidak memiliki segalanya, tapi kau masih punya satu hal yang bisa memperkaya batin, dengan hidup dalam cahaya iman, nikmatnya kesehatan, manisnya persahabatan, dan persaudaraan yang kuat. Jadi, mulailah bahagia tanpa syarat mulai dari sekarang. Jangan mengembel-embeli kebahagiaan dengan skala dan syarat tertentu, apalagi capaian dunia yang tiada habisnya. Jika kau melakukan itu, maka kau akan selalu menunda kebahagiaanmu sendiri, menunda kebahagiaan berarti selalu hidup dalam ketidakbahagiaan. Bahagialah dan syukuri dengan apa yang kau miliki sekarang. Mulailah dari satu senyum di pagi ini.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Pretty Kurnia sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.