Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
Alamat Akun
http://meraldanindyasti.kotasantri.com
Bergabung
9 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Sidoarjo-Malang - Jawa Timur
Pekerjaan
Mahasiswa
Tulisan Meralda Lainnya
Boleh Kuminta?
2 Juli 2010 pukul 19:50 WIB
Terimalah, Kado ini Untukmu
29 Juni 2010 pukul 17:25 WIB
Pamrih itu Boleh
25 Juni 2010 pukul 16:09 WIB
Tolong, Aku Ada Masalah Lagi Terdesak!
11 Juni 2010 pukul 16:00 WIB
Catatan Hati Tomat (Tobat tapi Maksiat)
17 Mei 2010 pukul 17:10 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Jum'at, 9 Juli 2010 pukul 18:00 WIB

The Walking Qur'an. Who's The Next?

Penulis : Meralda Nindyasti

“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir." (QS. Al-Hasyr : 21).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah SWT menurunkan ayat tersebut untuk menggugah kesadaran manusia tentang kedahsyatan Al-Qur’an. Gunung yang besar, keras, dan tuli saja bisa begitu takutnya pada Allah atas kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an. Lantas, bagaimana dengan manusia yang jelas-jelas dikaruniai pendengaran, penglihatan, dan hati?

Ya, itulah Tuhan kita. Yang ingin menyadarkan manusia bahwa Al-Qur’an bukanlah sembarang karunia. Karena Al-Qur’an bisa mengubah hidup. Manusia yang lemah setelah mengimani Al-Qur’an akan menjadi manusia yang kuat. Manusia yang semula berakhlak bobrok akan menjadi manusia mulia, bahkan bangsa yang tadinya rendah akan menjadi tinggi berwibawa. Ya, kitab ini bisa mengantar manusia mengubah wajah peradaban. Maka benarlah sabda Rasulullah yang diriwayatkan Muslim, “Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur’an ini suatu bangsa dan merendahkan bangsa yang lain."

Jika kita sering mendengar seseorang dijuluki kamus berjalan, maka itu artinya orang tersebut memiliki daya hafal yang luar biasa, sehingga apapun yang ditanyakan padanya, ia akan mampu menjawab. Maka bagaimana halnya dengan Al-Qur’an berjalan? Tentu julukan ini bukanlah julukan main-main. Karena the walking Qur’an artinya orang ini bisa dijadikan tempat bertanya sekaligus juga sebagi tauladan. Ia tak hanya hafal ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga mampu memahaminya dan menjalankannya dengan baik. Kehadirannya tak sekadar membantu, tapi juga menuntun manusia keluar dari dunia yang gelap gulita menuju cahaya.

Suatu hari Aisyah RA ditanya oleh para sahabat tentang pribadi Rasulullah. Ia menjawab dengan kalimat singkat, “Beliau berkepribadian Qur’ani.” Jawaban sesingkat itu bukan tidak memuaskan, justru para sahabat sangat paham walau hanya disajikan jawaban sependek itu. Ya, the walking Qur’an itu adalah Rasulullah.

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang agung." (QS. Al-Qalam : 4).

Pada mulanya berakhlak Al-Qur’an itu “aneh” di tengah masyarakat yang memuja materi dan berperilaku hedonis. Menolong tanpa pamrih misalnya, adalah perbuatan aneh di tengah kondisi masyarakat yang menghitung segala sesuatu dengan transaksi materi. Memaafkan kesalahan orang lain misalnya, adalah perbuatan yang sangat aneh di tengah kondisi masyarakat yang egois, mementingkan dirinya sendiri. Patriotisme misalnya, pun adalah sebuah akhlak yang aneh di tengah kondisi masyarakat yang mengedepankan kapitalisme dalam berkorban.

Orang yang berakhlak artinya orang yang menyadari arti penciptaan dirinya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan. Oleh karena itu, ia menyadari siapa dirinya, dari mana ia berasal, akan ke mana perjalanan hidupnya, dan untuk apa ia dihidupkan di dunia.

Maka, sudah selayaknya kita merenung, telah sekuat apa Al-Qur’an menjadi pribadi kita? Sulitkan menjadi the next walking Qur’an?

“Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” (QS. Thaha : 2).

Inilah janji Allah, bahwa dengan kita semakin Qur’ani, maka hidup kita pun semakin mudah. Tinggal kita, mau atau tidak, tergerak atau enggan, untuk membuktikan janji Allah itu?

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meralda Nindyasti sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Nia | Guru
KotaSantri.com top dech. Artikelnya bagus-bagus banget, sangat menyentuh kalbuku sampe berurai air mata membacanya dan sarat dengan hikmah. Bukankah hikmah adalah milik para mukmin yang tercecer? So, buruan gabung.
KotaSantri.com © 2002 - 2019
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0648 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels