QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Uji Coba Versi Baru

Saran dan masukan silahkan disampaikan melalui Form Kontak.
Alamat Akun
http://rifafarida.kotasantri.com
Bergabung
11 Februari 2009 pukul 06:00 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Entrepreneur sukses, insyaAllah^_^
Melati yang Memawar
http://rifarida.multiply.com
rifa_farida
rifa_farda
http://facebook.com/rifa_farida
Tulisan Rifatul Lainnya
Episode Hidup
22 Januari 2010 pukul 11:05 WIB
Wanita yang Menginspirasi
18 Januari 2010 pukul 11:30 WIB
Serasa Ada Jarum Menusuk Hatiku, Sakit!
10 Januari 2010 pukul 10:45 WIB
Melecut Pribadi
5 Januari 2010 pukul 11:50 WIB
Tahukah Kau Tentang Mawar?
31 Desember 2009 pukul 11:20 WIB
Santri
Iwan Surjadi
Karyawan Swasta
Jakarta Utara
wawan gunawan
asmen.
Jakarta Timur
Rinna Fridiana
Karyawati Swasta
Bandung
Forum
Suara
septyawaty : Mau tanya dong maksud dari: "oleh sebab itu , barang siapa yang menyerang kamu,maka seranglah mereka sebagaimana mereka menyerang kamu" (Al-Baqarah ;194)
gerhana : pagi ini mnyenangkan..... +++++ alhamdulillah.... g percuma masak air pagi2
ida : Aku kotor...bagai kertas bernoda yg penuh debu.."aku sibuk membicarakan kekurangan org lain namun lalai atas kekuranganku"
Pelangi
Pelangi » Percik

Selasa, 9 Februari 2010 pukul 11:50 WIB

Ketegasan Sketsa dari Siluet Rasa

Penulis : Rifatul Farida

Bila perasaan itu mewujud, mungkin setiap mata akan melihatnya menjadi lukisan siluet dengan ketegasan sketsa. Meski remang, namun jelas adanya. Dan akan tetap menjadi bayang yang tak mudah dideskripsikan, namun di saat yang lain dalam perubahan cepat begitu tegas padu padan garis-garisnya.

Kala keyakinan menjadi penopangnya, dan gundah memagarinya di kanan dan kiri, depan dan belakang, sementara asa mulai meletupkan obsesi. Maka sesungguhnya tolak ukur diri tak kan lagi mampu menjadi standarisasi jiwa. Karena keinginan adalah bagian dari visi yang pangkal mulanya adalah bentukan nilai-nilai yang diserap otak. Dan bila jatuh ke hati, maka akan sangat mungkin mempengaruhi suasana jiwa, mendominasi mentalitas, membentuk karakter, dan melahirkan sikap fisik, yang dikenal dengan nama perilaku.

Ya, perilaku. Sesungguhnya adalah cermin kebenaran siapa sejatinya dan bagaimana sebenarnya yang ada di jiwa, di pikiran, di hati, dan bergerak dalam kesimpulan tentang kefahaman dari kumparan-kumparan iman. Bahwa memang benar pada kenyataannya, akhlaq akan menjadi tolak ukur keshalehan seseorang. Itulah mengapa sebabnya Nabi SAW diutus untuk menyempurnakan akhlaq. Hal yang sepertinya sederhana, namun begitu kompleks dan menjadi titik penting.

Masih memandangi perasaan dalam bayangan mewujud, sesuatu yang untuk saat ini berubah-ubah hanya dalam hitungan detik, sebagai gerak suasana jiwa yang luar biasa percepatannya. Dan terjadi spontanitas tanpa kendali. Namun sungguh, ada ikhtiar luar biasa ketika telah menjalar kepada perilaku, untuk dikondisikan sedemikian rupa. Agar tak ada yang terugikan, terdzalimi, tersakiti, dan tetap merunut setiap lembar hidup dengan rentetan catatan kebaikan.

Sesungguhnya Allah menciptakan manusia dari segenggam tanah dan setiup ruh. Dari material dan non material, dua dimensi yang berbeda, namun harus dikenali secara sempurna dan diakomodir dalam ketepatan dan keseimbangan. Maka pantaslah demikian, korelasi antara seberapa mengenali diri, sebegitu seseorang mengenali Tuhannya.

Ada yang nyata dan abstrak pada setiap diri yang Allah ciptakan, dalam penciptaan sempurna. Dilengkapi dengan keterangan gamblang tentang tujuan penciptaanNya. Yang menjadi pertanyaan kemudian, kita, sebagai makhluk yang telah sempurna diciptaNya, sudah seberapa kenal padaNya? Untuk kemudian mengetahui secara pasti, setiap langkah hidup adalah keputusan benar menujuNya.

Pun, demikian dengan setiap perasaan hati yang abstrak namun ada. Dimensi lain dalam diri yang begitu lembut dan ada kalanya dibutuhkan kesadaran kepekaan untuk mendeteksinya. Memudarkan simpul-simpulnya, mengurai pada kondisi seperti apa jiwa kita berada. Hingga ketika wujudnya adalah hanya sebuah siluet dengan sketsa jelas namun sulit untuk dideskripsikan, sesungguhnya hanya padaNyalah akhirnya semua urusan dikembalikan, dalam ucapan permohonan agar selalu dalam bimbinganNya.

~~~
rf_yang masih terus belajar mengenali diri sendiri untuk keridhaanNya.

--- Suka ---

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Tulisan Favorit
Hendi | Desain Grafis
Mari gabung di sini. Artikelnya bagus-bagus dan banyak hikmahnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2010
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1156 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels