HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
Alamat Akun
http://nonnie.kotasantri.com
Bergabung
3 Maret 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Tegal - Jawa Tengah
Pekerjaan
Karyawati
Tulisan Eka Lainnya
Masihkah Kau Ragu Akan Eksistensi Allah?
8 Januari 2010 pukul 18:11 WIB
Birul Walidain sebagai Perwujudan Syukur
30 Desember 2009 pukul 18:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Selasa, 26 Januari 2010 pukul 18:55 WIB

Hidup Sederhana Bukanlah Hidup dalam Kemiskinan

Penulis : Eka Naningsih

Saudaraku yang dikasihi Allah, hidup sederhana adalah hidup yang diajarkan Rasulullah SAW. Sudah seharusnya dalam kehidupan kita sehari-hari untuk selalu meneladani gaya hidup ala Rasulullah tercinta. Rasulullah makhluk yang paling mulia di muka bumi ini adalah sebaik-baik contoh bagi umatnya.

Wahai saudaraku yang selalu rindu akan cinta Allah, pemilik jiwa-jiwa yang suci, hidup sederhana bukanlah berarti hidup susah dan senang menderita, tapi hidup yang mengerti mana kebutuhan dan mana keinginan, bukan berarti juga meninggalkan kesenangan dunia, akan tetapi sadar bahwa setiap kesenangan pasti akan dimintai pertanggungjawaban.

Kita sering kali lupa bahwa kita akan mempertanggungjawabkan nikmat yang kita terima, seperti, "Kemudian sungguh, pada hari itu kamu akan ditanya tentang kenikmatan yang kamu peroleh hari ini (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)." (QS. At-Takatsur, 102 : 8).

"Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemewahannya, berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia : Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar."

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang–orang yang beriman dan beramal shaleh." (QS. Al-Qashash, 28 : 79-80).

"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan beramal shaleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya sedikit pun." (QS. Maryam, 19 : 59-60).

Ayat tersebut menerangkan keadaan orang yang bermegah-megahan dan disibukkan oleh harta benda dan orang-orang yang mempunyai sifat selalu menuruti hawa nafsunya, padahal Allah telah dengan tegas mengatakan, "Sesungguhnya manusia itu benar–benar dalam kerugian." (QS. Al-Ashr, 103 : 2).

Seperti Umar Ibnu Khattab semasa menjabat menjadi khalifah, beliau lebih memilih menyisakan kesenangan untuk hari akhir daripada kesenangannya sekarang. Umar berlaku demikian karena mencontoh sunnah Rasulullah SAW.

Ia bercerita, "Aku pernah minta izin menemui Rasulullah, aku mendapatkan beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar, sebagian tubuh beliau berada di atas tanah, beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya, aku tidak sanggup menahan tangisku."

"Mengapa engkau menangis, hai putra Khattab?" Rasulullah bertanya.

Aku berkata, "Bagaimana aku tidak menangis, tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau. Engkau ini nabi Allah, kekasihNya, kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Padahal di tempat sana, Kisra dan Kaisar duduk di atas kastil emas, berbantalkan sutera."

Nabi yang mulia berkata, "Mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga, kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir kita. Perumpamaanku dengan dunia seperti seseorang yang bepergian pada musim panas, ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya." (Hayat Al-Shahabah, 2 : 352).

Ingatlah saudaraku, hidup dengan bermegah-megahan hanya akan membuat hati kita menjadi keras, sombong, dan akan lebih menjauhkan diri kita dari cinta dan kasih Allah. Kondisi seperti ini adalah seburuk-buruk hati, bukankah Allah sangat membenci sesuatu yang serba berlebih-lebihan?

Al-Muhasibi berbisik parau, "Kesederhanaan adalah kemuliaan, kesederhanaan baru bisa terwujud kala kita menyadari bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan dari perjalanan panjang manusia menuju Tuhan."

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eka Naningsih sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Endang Supriatna, S.Pd. | Guru
Ingin bergabung pada web yang sangat bermanfaat bagi ummat ini. Semoga web ini benar -benar menjadi media ukhuwah dan penebar ilmu. Amien.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1032 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels