|
Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Selasa, 5 Januari 2010 pukul 18:50 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Tentang satu hal yang barangkali tak pernah ingin kau ketahui. Bahwa hidup tak selalu mengiyakan apa yang engkau inginkan. Tentang hari esok yang telah usai sebelum datang. Dan tak pernah ada yang tahu seberapa hidupmu hampa kecuali dirimu saat ini.
Pada kenyataannya, memang hidup tak selalu menyenangkan. Namun betapa luar biasanya ketika engkau mampu mengubah setiap hal yang tidak menyenangkan menjadi energi positif melecut pribadimu untuk lebih baik lagi. Itupun jika kau memang menginginkan kebaikan dalam hidupmu. Namun bagaimana mungkin kau menginginkannya jika kau sendiri tak memahami apa itu kebaikan?
Mungkin ia telah datang dalam wujud yang tak kau sukai. Dan sia-sialah pencarianmu jika memang demikian adanya. Maka, tak ada pilihan lain kecuali engkau belajar tentang apa itu kebaikan. Karena di situlah mula mengarahkan hidup menuju arah positif.
Setiap kita mempunyai kesempatan dan potensi. Namun tak setiap kita cukup tahu bagaimana memperlakukan hal itu. Sementara jelas, hidup hanya sekali dan teramat singkat.
Kita, yang telah diciptakanNya sebagai sebaik-baik penciptaan. Tak inginkah berucap serius meski hanya dalam hati, bahwa akan menyelesaikan perjalanan hidup ini dengan sebaik baiknya. Tidak hanya menapak pada jalan yang lurus, namun juga memberi arti dalam sebaik-baik pemaknaan hidup.
Inilah hidup, sarat konsekuensi dalam setiap pergerakannya.
***
* Tuk "adikku", kewajibanku hanya memberi pertimbangan. Keputusan tetap ada di tanganmu.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.