|
Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
|
|
|
http://dik2.multiply.com |
|
andhika.ramdhan |
|
|
ramadhan_adhi |
|
andhika.ramdhan@gmail.com |
|
andhika.ramdhan@gmail.com |
|
http://twitter.com/AndhikaRamdhan |





Selasa, 1 Desember 2009 pukul 17:15 WIB
Penulis : Dikdik Andhika Ramdhan
Hanya ada dua pilihan, bermain lagi atau menunggu sampai akhirnya permainan ini berakhir. Kiranya seperti itulah kehidupan ini. Setiap kali waktu berlalu, kita akan selalu dihadapkan pada pilihan yang sama.
Tentunya ini akan lebih kita rasakan ketika kegagalan menghampiri episode kehidupan kita. Terkadang kita lupa bahkan memandang bahwa kegagalan adalah akhir dari segalanya. Kita terpuruk, kaku, dunia seakan runtuh. Tidak ada lagi secercah harap yang terbit seiring hadirnya kembali mentari di esok pagi. Gulita menjadi selimut yang telah menutup mata dan ruang pikir kita. Semua berlabuh di satu kesimpulan, aku gagal!
Padahal mungkin akan menjadi lebih bijak kiranya ketika kita mencoba untuk memaknai apa yang terjadi. Kehidupan ini memang sebuah permainan yang layaknya permainan-permainan lainnya yang memberikan dua pilihan ketika kita gagal saat memainkannya, Play Again atau Game Over.
Seandainya kita memilih untuk mengakhiri permainan, maka semua akan tertutup, dan tinggalah kita terpaku di sana tanpa tahu apa yang mungkin terjadi seandainya kita bisa memulainya kembali dan menyelesaikannya sampai di akhir permainan.
Tapi akan lain halnya ketika kita memilih pilihan untuk bermain lagi. Meskipun mungkin kita harus memulainya kembali dari awal, namun sebetulnya kita sudah memiliki poin lebih, kita tahu apa yang akan terjadi, setidaknya sampai sesaat sebelum kesempatan bermain pertama kali tadi berakhir. Kita mengetahui di mana letak kesalahan kita, kita mengetahui hal apa yang harus kita perbaiki, dan kita pun akan berusaha untuk tidak mengulang kesalahan yang sama di permainan kedua.
Semestinya tidak ada alasan untuk kita berhenti begitu saja, menyerah, dan mengakhiri permainan ini.
Sebuah motivasi telah Rasulullah sampaikan kepada kita dalam sabdanya. Ia bersabda bahwa andainya kiamat itu datang, maka biji yang ada di genggaman tangan harus tetap kita tanam. Kiranya memang sebuah makna untuk tidak berhenti berusaha, terukir jelas di sana.
Bercermin dari kesuksesan orang lain, ternyata mereka pun tidak meraihnya dengan mudah dan sesederhana yang kita kira. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali mereka kembali bangkit setelah terjatuh di atas kegagalan atas apa yang dialaminya.
Dan ini memang yang semestinya pula kita lakukan. Angkat kepala, tatap, dan jalani esok hari dengan usaha dan do'a yang lebih maksimal. Janganlah berhenti! Bukankah ketika satu pintu tertutup, maka pintu lain akan terbuka? Jalanilah segalanya. Biarlah kegagalan itu berlalu dan menjadi bekal kita untuk meraih kesuksesan di lain waktu.
Sampaikanlah pada kegagalan dan masa lalu itu, "Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku takkan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu takkan pernah melihatku termenung sedetik pun untuk mengingatimu. Kamu telah pergi meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi!"
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Dikdik Andhika Ramdhan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.