|
HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
|

Selasa, 29 September 2009 pukul 18:00 WIB
Penulis : Iffa Lathifah
Sahabat, dalam mengarungi kehidupan ada satu hal yang selalu dimiliki manusia, yaitu pilihan. Bahkan saat manusia merasa ia tak punya pilihan lain, sebenarnya ia tetap punya pilihan untuk tidak melakukannya beserta konsekuensi yang membuatnya sangat berat untuk dipilih.
Dalam hidup yang senantiasa kita lakoni, kita memerlukan panduan bagaimana menjalani kehidupan ini. Akal berperan dalam memperhitungkan secara logika matematis, hati berperan dalam merasakan dan mengantar pesan Tuhan yang jika masih berfungsi dengan benar, seharusnya akan protes keras bila yang dilakukan tergolong dosa, sedang jasmani bertugas melayani apa pun yang dikehendaki akal dan hati dengan segala batasan indera.
Akal adalah urusan kita, sehingga kita berusaha dan dapat menguasainya, kecuali ketika kita kehilangan kesadaran seperti tidur, pingsan, gila, dan sebagainya. Hati adalah separuh urusan kita dan separuh urusan Tuhan. Kita tidak dapat mengatur kapan kita jatuh cinta, kita hanya dapat mengiyakan atau membantah apa yang kita rasa. Jasmani juga separuh urusan kita dan separuh urusan Tuhan. Untuk otot polos tidak ada kendali kita atasnya, jika Allah Ta’ala berkehendak menghentikan jantung atau otak, berhentilah tanda-tanda kehidupan. Untuk fungsi otot lurik, kita memiliki kendali, walau jika Allah berkehendak membuatnya lumpuh, itu hanya untuk diterima dan bukan dihujat.
Kita mengambil pilihan dan mengandalkan nasib kita pada pilihan yang kita buat. Kita mempertaruhkan seluruh hidup kita pada setiap pilihan yang kita buat, kita hanya bisa memperkirakan apa yang mungkin terjadi dan seberapa besar kemungkinannya dan kita bisa memperkirakan bahaya macam apa yang muncul.
Dalam banyak waktu, manusia harus memilih, pada dasarnya kita tidak tahu manakah yang terbaik untuk kita. Memang kita tahu yang kita inginkan itu jika kita memang sudah tetap hati dan punya bayangan pasti tentang apa yang kita mau, akan tetapi kita tidak tahu apa dan bagaimana ujung jalan dari pilihan yang kita ambil.
Sahabat, bagaimana pun kita bisa memilih permulaan, kita dapat memperkirakan bagaimana jalannya, mengandaikan bahwa semua dapat berjalan sesuai yang kita perhitungkan atau membayangkan pemecahan masalahnya andaikan muncul penghalang. Akan tetapi kita tidak dapat memilih hasil dari langkah yang kita tempuh.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS 2 : 216).
Ya Allah, ajari hamba untuk bersabar, bila memang hamba harus kembali mengeja.
Ya Allah, ajari hamba untuk senantiasa ridha atas takdirMu, bila kurang paham dalam membaca makna yang tidak terlihat dari susunan abjadMu.
Sahabat, kalau kita mencari sisi baik dalam diri orang lain, kita akan menemukan sisi terbaik dalam diri kita. Kita tak akan bisa memilih bagaimana kita akan mati atau kapan waktunya, kita hanya memutuskan bagaimana kita menjalani kehidupan kita sekarang ini.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Iffa Lathifah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.