|
Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
|
|
|
http://alfach.com |
|
alfachrie |
|
|
alfcah02 |
|
alfachrie@gmail.com |





Jum'at, 19 Juni 2009 pukul 18:00 WIB
Penulis : Achmad Fachrie
Pernah melihat daun yang menua berwarna kecoklatan berguguran lalu berganti dengan daun yang muda berwarna hjau cerah? Di situ terlihat dan tercermin adanya pergantian. Pergantian yang menunjukkan berlakunya suatu masa (waktu) dalam kehidupan. Pergantian yang menunjukkan bahwa perubahan merupakan bagian dari kehidupan yang selalu dijalani. Fisik yang kuat ini kelak akan bertemu pada saatnya untuk mengendur. Pandangan yang halus kelak akan berganti menjadi kasar menyamar.
Warna yang dulu terlihat jelas, kelak akan berganti menjadi kabur memudar. Genggaman yang dulu kuat, kelak akan melemah seakan tak mampu menggenggam. Pengertian yang dulu kita pahami, mungkin bisa berganti ketika bertemu dengan pemahaman yang lain. Dalam arti, bisa memperkaya atau pun menggantinya dengan yang lebih baik. Hingga dikatakan, tidak ada yang tetap kecuali perubahan itu sendiri.
Karena hidup adalah roda yang berputar. Tak selamanya engkau berada di atas, dan tak selamanya pula engkau berada di bawah. Seperti yang dikatakan Aidh Al-Qarni, kelak masa-masa kejayaan itu pun akan tergantikan. Engkau tidak bisa menahan waktu untuk tetap bersamamu. Engkau tak bisa meminta waktu untuk terus menemanimu. Berjalanlah bersama waktu, untuk menerima semua yang terjadi dalam ridhaNya, maka kelak engkau akan memahaminya.
Lalu pernah melihat rambut yang hitam kelak berganti menjadi warna putih, uban? Jika belum, kelak (insya Allah) engkau pun akan merasakannya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Achmad Fachrie sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.