|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|
|
|
http://alfach.com |
|
alfachrie |
|
|
alfcah02 |
|
alfachrie@gmail.com |





Selasa, 5 Mei 2009 pukul 18:11 WIB
Penulis : Achmad Fachrie
Di matanya, dunia ini semakin terasa asing baginya. Di mana ketika kejujuran sudah dianggap sebagai kebodohan. Ketulusan seolah sudah menjadi barang langka yang sulit ditemukan dalam hidup ini. Betapa mahalnya sebuah ketulusan untuk bisa diberikan dan didapatkan. Karena ketika mencoba melakukannya, seringkali dipatahkan oleh dugaan yang keliru dari ketulusan tersebut. Rasa sakit pun terkadang terberi dalam ketulusan, yang ikut menghasut menepikan nurani. Lalu haruskah mempertahankannya ketika terus dipatahkan?
Lalu ia pun terkadang memilih diam mencoba mengerti. Ketulusan layaknya membisu. Karena ketulusan tidak bersuara, ia bekerja dalam diam, tapi memberi dengan sepenuh hati. Ia bekerja tanpa pamrih, melupakan dan tanpa mengerti arti meminta. Hanya memberi tanpa berharap diberi. Ia halus dalam kasat mata, tak tertangkap indera. Karena ketika menampakkan ketulusan itu, maka akan mengurangi arti ketulusan itu sendiri. Maka ia mengendap-endap dalam sunyi, melangkah, dan memberi dalam gelap yang tidak engkau sadari. Ya, ia telah berdo'a untukmu.
Terkadang bagimu ia terlihat lugu. Walau terkadang ketulusan adalah sesuatu yang lugu. Tapi ia keluguan yang cerdas. Mencerdaskan hati, mencerdaskan jiwa, dan juga mencerdaskan bagi siapa yang tersentuh akan ketulusan itu. Ia lugu, karena ketulusan adalah sesuatu yang jujur, murni, tak menutupi, lurus apa adanya. Ia adalah sesuatu yang begitu halus dan lembut sehingga tidak terasakan ketika ia sedang bekerja. Hingga akhirnya...
Teringat dan ingin rasanya ia meneladani Rasulullah SAW. Ya, seperti Rasulullah SAW yang menyuapi makanan kepada pengemis buta yang walau senantiasa menghardiknya. Memberi makan dengan tulus, menghaluskan setiap makanan yang hendak disuapinya. Dan ketika Rasulullah SAW meninggal, seketika itu pula digantikan oleh Abu Bakr. Pengemis buta itu pun berteriak menolak, “Engkau bukan orang yang biasa menyuapiku. Orang yang biasa menyuapiku selalu menghaluskan makanannya hingga terasa dengan mudah di mulutku." Abu Bakr pun menangis menjelaskan kepada pengemis buta tersebut. “Orang yang biasa menyuapimu ialah Rasulullah SAW, dan kini ia telah tiada." Menangis tersedulah pengemis tersebut, dan akhirnya ia pun bersaksi, “Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad Rasulullah."
Dalam renungnya, Ia lebih memilih diam, terjaga dalam ucapan juga keteguhan hati yang tidak terbaca olehmu. Walau begitu, ketulusan yang sejati akan terus bekerja walau terus dipatahkan oleh dugaan-dugaan yang bisa melunturkan kesejatiannya. Karena itu justru semakin menguatkan akar ketulusan tersebut, justru semakin menghujam dalam keharuan yang tidak terkira untuk dipertahankan. Semakin dalam ketulusan tersebut, maka semakin dalam pula bagi siapa pun tak menyadari ketulusan sedang bekerja dan telah menghantarkan serta menumbuhkanmu menjadi lebih baik hingga engkau menyadari telah kehilangannya.
Dan walau ketulusan itu langka, di sini ia masih menyadari bahwa ketulusan itu masih ada. Ia adalah ketulusan yang tidak terbaca, ketulusan yang bersandar kepadaNya.
Wallahu a'lam bish-shawab
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Achmad Fachrie sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.