Pelangi » Percik | Rabu, 18 Maret 2009 pukul 21:15 WIB

Ini Bukan Satu Sama!

Penulis : Dikdik Andhika Ramdhan

Melepas lelah di pinggir jalanan ibu kota disaat segala lelah dan penat telah menggunung tinggi membuatku semakin tergoda. Menyaksikan merayapnya malam semakin hitam atau menunggu pagi yang semakin lama-semakin mengantar hingar bingar jalanan untuk berubah diam.

Beberapa hari terakhir, mencoba berjibaku untuk sebuah cita-cita dengan menerima beberapa tawaran untuk bekerja part time di beberapa tempat telah cukup membuatku kewalahan dalam mengatur waktu. Membuatku kini hampir selalu bersahabat dengan larutnya malam setiap harinya. Kalaulah tidak ingat bahwa untuk sukses itu perlu perjuangan, mungkin lebih baik aku tertidur lelap saja di kamar kost-ku, berselimut kain sarung dan merasakan indahnya malam.

Aku mendekat ke arah seorang bapak, bergabung bersama beliau untuk menikmati malam yang telah berselimut hitam ini. Duduk beralas lantai trotoar dan beratapkan keangkuhan langit Jakarta.

Kulitnya yang tua masih terlihat di antara remangnya lampu jalanan. Berbalut dengan baju lusuh yang kini semakin menambah uzur penampilannya. Tarikan-tarikan nafas panjang satu persatu berlalu dari dirinya, menguap dan terlepas, namun tak pernah bisa membawa serta seluruh beban dan berjuta masalah yang dihadapinya untuk pergi dan berlalu. Setidaknya itu yang aku temui dari air mukanya saat itu.

"Asalkan bapak jangan lupa bahwa Allah masih ada dan akan selalu ada bagi setiap hamba yang mendambanya," ujarku ketika beliau mengeluhkan segala derita serta beban hidup yang dihadapinya.

"Kadang, saya juga bingung, padahal saya sudah berusaha untuk tidak pernah jauh dari Allah, berusaha untuk selalu mensyukuri nikmatNya, namun mengapa segala masalah hidup ini selalu saja datang silih berganti," jawabnya kemudian.

Aku menggeserkan letak dudukku, bersandar pada tiang lampu jalanan yang cahayanya kini mulai pudar dimakan usia.

Serasa aku ditampar oleh kenyataan, begitu sering padahal aku pun merasa demikian, merasa diri telah melakukan segalanya untuk beribadah kepadaNya, padahal tak terasa ternyata tak jarang pula semakin aku melakukan semua amal itu, aku pun menabung dosa dengan berbagai prasangka ataupun bersikap riya'. Na'udzubillah...

Astaghfirullah...
Ampuni aku, yaa Rabb...

Aku mengerti bahwa andaikan ini adalah sebuah permainan, maka tak ada istilah satu sama. Ketika kita melakukan satu kebaikan yang berbuah pahala dan berharap itu akan menjadi satu penebus bagi satu dosa kita. Karena apabila semakin kita berpikir demikian, tak akan pernah berhenti kita dibuatnya untuk kemudian berbuat dosa dan berbuat dosa lagi di kemudiannya.

Tak ada jaminan atas semua kebaikan yang telah kita lakukan itu betul-betul diterima menjadi satu amal shalih dihadapan Allah. Karena bukanlah tidak mungkin ketika kita melakukannya, sejuta rasa telah menjelma menjadi penggugur atas pahalanya. Namun sebaliknya, ketika kita berbuat dosa, maka bukanlah sebuah keniscayaan semua itu telah pasti menjerumuskan kita pada sebuah tabungan dosa berjangka yang akan menghancurkan kita dalam rentang waktu yang tak dapat kita kira.

Bukankah ketika satu demi satu dosa kita perbuat dan ketika menganggapnya seakan remeh dalam pandangan kita, namun ternyata hari demi hari semua itu akan menjadi begitu nampak besar di hadapan Allah? Kalaulah demikian kiranya, mengapa masih saja kita dibuatnya seakan terbiasa?

Aku menundukkan pandangku.
Kini aku seakan berada di hadapan sebuah meja persidangan, menunggu satu ketukan palu yang akan membawaku ke dalam kejelasan surga-kah atau neraka-kah? Tak ada lagi alasan bagiku untuk mengelak dari semuanya.

Yaa Rabb...
Ampuni aku.

Semakin tersadar, semakin rasanya aku malu dibuatnya. Malu atas ketidakberdayaan ini.

Kini malam telah semakin larut. Jauh dari dalam hati, aku bersyukur bahwa Allah telah mempertemukanku dengan bapak ini. Andaikan penyesalan ini datang tatkala tak ada lagi kesempatan diberikan oleh Allah pada diri ini, mungkin jadilah aku seorang yang teramat sangat merugi. Namun ternyata Allah masih sayang, membiarkanku untuk mampu membaca hati dan pikiran dan mentafakuri semuanya.

Aku melangkah mengayunkan kaki ini, berlalu dari satu putaran waktu untuk berharap pada sebuah episode baru atas keteguhan iman dan keshalihan akhlak yang kini menggelayut dalam angan.

Aku mendambaMu, yaa Rabb...

KotaSantri.com © 2002-2012