|
HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |




Selasa, 3 Maret 2009 pukul 01:14 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Di sini... Ya, tepat di sini, ada nada-nada baru yang hadir berpadu dalam irama kehidupan, mendendangkan simfoni rasa yang menyentuh lembut permukaan hati, ketika terpuaskan dengan sketsa di antara dua sujud dalam bilangan rakaat. Menyadari kembali tentang kesempurnaan ciptaanNya pada diri. Dari sesuatu yang hina bahkan menjijikkan, menjadi manusia dengan fasilitas akal, ruh, dan jasad.
Tertunduk, mensyukuri setiap anugerah untuk kemudian berusaha menjaganya sebagai amanah. Tersungkur, mengakui segala ketidakberdayaan dalam penghambaan yang masih saja jauh dari sempurna, membingkai lirih istighfar dari tulusnya permohonan.
Kembali memekarkan kuncup-kuncup kepasrahan di pekarangan jiwa, indah, semerbak mewangi, memenuhi lorong-lorong keimanan dalam senyap sunyi. Meneguhkan kembali perjanjian dengan kekasih dalam indah mahabbah pada kepak sayap raja' (harap) dan khauf (takut), "Sesungguhnya hidupku, matiku, dan ibadahku hanya untukMU." Mengangkasakan mata hati dalam dimensi tak berbatas, agar dapat melihat segala penjuru mata angin hakikat penciptaan.
Menikmati secangkir keindahan dalam perpaduan aroma ketenangan yang menceriakan jiwa. Sejenak merebahkan kesibukan yang menguras energi diri dan jatah waktu. Mengulas mimpi-mimpi dalam lingkar kecil asa dan fakta, menyampaikannya pada Illahi Rabbi dalam kemesraan berkhalwat di sepertiga malam.
Masih di sini. Ya, tepat di sini, pemaknaan diri kembali menemui fitrahnya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.