HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Alamat Akun
http://idaernawati.kotasantri.com
Bergabung
7 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Yogyakarta - DI Yogyakarta
Pekerjaan
PNS
Aku adalah muslimah biasa yang selalu merindukanNya..... : merindukan cintaNya... BerkahNya.. RahmatNya... HidayahNya... dan ingin berjumpa denganNya....
http://dhidaerna.multiply.com
Tulisan Ida Lainnya
Penyejuk Jiwa adalah Saat Bertemu dengan-Nya
15 April 2011 pukul 11:11 WIB
Jika Takut Menghadapi Kegagalan
11 Maret 2011 pukul 13:31 WIB
Sebiji Kacang
7 Mei 2010 pukul 16:25 WIB
Hidup Penuh dengan Pilihan
25 April 2010 pukul 15:00 WIB
Aku Belum Siap untuk Menjadi Ustadzah
25 Juni 2009 pukul 17:55 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Ahad, 15 Februari 2009 pukul 05:22 WIB

Hidup adalah Berpacu dengan Waktu

Penulis : Ida Ernawati

Pernah suatu saat aku melihat seseorang yang begitu putus asa dalam menghadapi hidup. Bahkan dia tidak mau lagi mempunyai cita-cita atau tujuan hidup karena dia tidak tahu untuk apa hidup itu sebenarnya.

Ketika semua hal sudah didapatkan, dari karir, keluarga yang lengkap, harta, prestise, isteri yang cantik, suami yang tampan, semua sudah ada dalam tangannya. Tetapi kemudian dia merasa bosan, bingung untuk apa selanjutnya hidup ini.

Perasaan hampa dan kosong begitu sering mengganggu malam-malamnya. Ada sesuatu yang tidak bisa dilihat tetapi begitu mengganggu. Rasa resah dan membutuhkan sesuatu, ada yang terasa kurang, tetapi apa?

Hidup yang kita jalani selama ini mungkin belum memberikan makna yang berarti pada jiwa kita, kadang kita merasa kecewa walaupun banyak yang kita inginkan sudah terwujud.

Kita tidak tahu apa tujuan hidup kita sebenarnya, mengapa kita bekerja, dan untuk siapa kita bekerja? Jika tujuan kita bekerja hanya untuk mendapatkan uang, kita akan kecewa karena uang yang kita terima tidak sesuai yang kita inginkan, ketika kita kuliah hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus, kita akan kecewa jika kita mendapatkan nilai yang jelek.

Ketika kita bekerja dengan tujuan untuk menyenangkan isteri atau anak, kita akan kecewa kalau anak dan istri bersikap tidak seperti yang kita inginkan. Bahkan ketika kita beribadah karena hanya ingin mendapatkan pujian dari orang lain atau untuk mendapatkan imbalan, maka kita akan kecewa kalau orang lain tidak memberikan pujian ataupun imbalan kepada kita.

Tujuan hidup yang sebenarnya adalah bukan untuk sekedar mendapatkan uang, atau nilai yang bagus, atau untuk menyenangkan anak isteri atau suami. Karena ketika kita sudah mendapatkan semuanya dan merasa tidak ada lagi yang dicari, maka kehampaan itu akan datang dan sungguh sulit untuk memenuhinya.

Pertanyaan demi pertanyaan selalu ada di benak, ketika kita mencari dan mencari terus jawabannya, apa sebetulnya yang harus dikejar dalam hidup ini, agar sebuah ruang hampa di dalam hati bisa terisi. Jawaban ini baru kutemukan akhir-akhir ini. Sungguh luar biasa, aku menemukan sesuatu yang tidak pernah kutemukan sebelumnya.

Ketika kaki ini bersimpuh di hadapan Allah saat menyadari terlalu banyak kesalahan yang sudah aku lakukan selama ini, bahkan kemarin-kemarin aku kadang tidak merasa bersalah atas apa yang aku lakukan, aku sadar sudah cukup lama aku hidup dalam ketidaktahuan.

Allah berfirman bahwa kesalahan ataupun kebaikan sekecil apapun yang kita lakukan, yang katanya sebiji sawi pun akan mendapatkan balasannya. Allah Mahaadil, kesalahan yang nampak ataupun tidak nampak di mata manusia, Allah Yang Maha Mengetahui pasti akan tahu.

Berdasar dari hal tersebut, hatiku seperti dipaksa untuk melihat betapa banyak kesalahan yang telah aku lakukan. Belenggu diri yang sering menghantui hidupku, kesombongan, dan sifat takaburku telah menjadikan hambatan untuk mendapatkan makna hidup sesungguhnya.

Bukankah tujuan hidup sebenarnya adalah mempersiapkan diri untuk kehidupan abadi di akhirat nanti? Bukan untuk uang, untuk anak, untuk isteri, atau untuk prestise?

Subhanallah... Sungguh sesuatu yang kadang tidak kita sadari mengenai kematian yang akan mengantarkan kita kepada kehidupan abadi itu sendiri. Kematian itu pasti datang, sahabat, bahwa tiap-tiap yang berjiwa pasti akan mengalami mati.

Mungkin kita tidak menyadari bahwa malaikat maut setiap dua kali sehari mengitari rumah kita, dia mencari-cari siapakah yang akan dicabut nyawanya hari itu, dia mencari-cari siapakah orang yang sudah tidak akan mendapat rejeki lagi, dan ketika dia melihat orang tertawa-tawa dia heran, bukankah orang-orang itu belum mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Allah.

Bukankah amalan-amalannya belum cukup untuk membuat dia tenang, dan kehidupan di akhirat nanti belum tahu akan masuk kemana, surga atau neraka?

Hidup kita ini berpacu dengan waktu, bisa jadi setahun lagi kita sudah meninggal, atau sebulan lagi, seminggu lagi, atau bahkan besok pagi kita sudah tidak bangun lagi, bukankah itu rahasia yang kita sama sekali tidak tahu.

Perbuatan apakah yang sedang kita lakukan ketika malaikat maut mencabut nyawa kita, apakah saat itu kita sedang memberikan infaq atau sedekah kepada seorang anak yatim, atau apakah saat itu kita sedang berdzikir memuji Dia? Atau bahkan mungkinkah saat itu kita sedang asyik melakukan perbuatan yang tidak terpuji?

Astaghfirullah, setiap detik sangat berharga bagi kita, berbuatlah sesuatu yang disukai Allah terus menerus, baik dalam tidur, dalam bekerja, dalam berjalan, dalam lelap maupun terjaga. Karena ketika Allah menghendaki kita kembali, tidak ada waktu sedetik pun untuk mengelak.

Dia memutuskan semua rejeki kita dan memisahkan kita dari kehidupan dunia kecuali tiga hal, amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendo'akan orangtuanya.

Bersiaplah, dan tunggulah semua itu dengan perbuatan yang disukai Allah, karena tidak ada yang bisa menjamin kita masuk surga kecuali Rahmat Allah semata, maka berlomba-lombalah untuk mendapatkan RahmatNya, cintailah Dia, sayangilah Dia, dan selalu mohon ampunlah kepadaNya karena ketika Dia menghendaki kita kembali kita tidak punya waktu lagi untuk memohon ampun. Berdo'alah agar kita disambut dengan salamNya di surga. Aamin...

Wallahu a'lam.

http://dhidaerna.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ida Ernawati sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Arry Rahmawan | Penulis dan Trainer
Subhanallah, akhirnya KotaSantri.com semakin berkembang. Artikelnya bagus dan dapat menambah wawasan kita semua. Maju terus KotaSantri.com... ^^
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0411 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels