Pelangi » Muslimah | Kamis, 14 November 2013 pukul 21:00 WIB

Kembali kepada Fitrah adalah Jalan Keselamatan

Penulis : Redaksi KSC

Segala sesuatu akan menjadi baik jika berada diatas fitrahnya. Ikan akan tetap hidup jika ia tinggal di air, burung akan terjaga kelestariannya jika mereka terbang di udara dan tinggal di pucuk-pucuk pohon, dan cacing akan selamat jika ia tetap tinggal di dalam tanah. Bencana akan menimpa mereka ketika masing-masing telah jenuh dengan apa yang menjadi fitrahnya.

Demikian halnya dengan manusia, dia akan tetap baik ketika menerima dengan apa yang menjadi fitharahnya. Jika wanita sudah menjadi laki-laki, dan laki-laki memerankan wanita, maka kerusakanpun akan terjadi. Oleh karena itu Rasulullah SAW melaknat wanita yang menyerupai (meniru) laki-laki dan laki-laki yang menyerupai (meniru) wanita.

Wanita ibarat pedang bermata dua, apabila dia baik, menunaikan tugas dan peranannya yang hakiki, serta berjalan diatas fitrah yang telah digariskan oleh Allah SWT, maka ia ibarat batu bata yang baik bagi sebuah bangunan masyarakat Islam yang komitmen dengan ketinggian akhlak dan cita-cita yang luhur. Akan tetapi, ketika mereka menyimpang dari tugas pokoknya dan menyerobot tugas yang bukan menjadi tanggungjawabnya serta latah mengikuti para budak hawa nafsu, maka dia menjadi musuh besar bagi manusia yang hendak meraih kejayaan di dunia dan akhirat.

Karenanya, Rasulullah SAW menyuruh kita waspada terhadap bahaya besar yang ditimbulkan oleh wanita semacam ini. Beliau bersabda : "Sesungguhnya dunia itu manis dan menggiurkan. Dan sesungguhnya Allah SWT menyerahkan dunia kepada kalian. Kemudian hendak melihat apa yang kalian perbuat terhadapnya. Maka hati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita. Sesungguhnya fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah karena wanita." (HR. Muslim).

Beliau juga bersaba : "Aku tidak meninggalkan fitnah sepeninggalku yang lebih berat bagi laki-laki dari fitnah wanita." (HR. Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Sa'id bin Musayyib berkata, "Ketika syaitan merasa kewalahan menggoda manusia, maka ia bersembunyi di balik wanita (memperalatnya)." Benar, seringkali wanita mampu berbuat dengan sesuatu yang tidak dapat diperbuat oleh syaitan. Ia mampu menimbulkan kerusakan yang lebih besar dari kerusakan yang ditimbulkan oleh syaitan. Kapankah itu? Yakni ketika ia bosan dengan apa yang telah digariskan oleh Allah SWT atasnya. Wanita semacam ini akan menjadi senjata pamungkas bagi syaitan untuk menghadapi manusia.

Kenyataannya itulah yang telah diketahui oleh syaitan-syaitan, jin, dan manusia. Maka mereka berupaya untuk menyimpangkan wanita dari tugasnya yang utama, agar ia mau berperang di pihaknya dan membela misinya.

* Wanita, Bila Bosan dengan Fitrahnya (II/III)

Ibnu Qittun # Dimuat Ulang dari Arsip KSC @ 19-01-2005

KotaSantri.com 2002-2021