Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
Alamat Akun
http://mumtahah_annisa.kotasantri.com
Bergabung
19 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta Barat - DKI Jakarta
Pekerjaan
IRT
http://li4ni.multiply.com
Tulisan Mumtahah Lainnya
7 Faktor Kehancuran Keluarga
12 Oktober 2013 pukul 19:19 WIB
5 Pilar Keluarga Sakinah
31 Agustus 2013 pukul 21:21 WIB
Kejarlah Ilmu, Wahai Muslimah
29 Agustus 2013 pukul 22:00 WIB
Ramadhan Bulan Keluarga
13 Juli 2013 pukul 21:21 WIB
Keikutsertaan Wanita dalam Masalah Warisan
20 Juni 2013 pukul 21:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Muslimah

Kamis, 17 Oktober 2013 pukul 20:00 WIB

Bagaimana Seorang Muslimah Memanfaatkan Waktunya?

Penulis : Mumtahah Annisa

Waktu hidup sangatlah terbatas dan berharga. Namun pada kenyataan, kita sering melewatkan waktu yang sempit tadi, berlalu begitu saja tanpa makna. Ada yang mengibaratkan waktu sebagai sebilah pedang. kalau kita tidak gunakan untuk menebas maka kita lah yang akan ditebasnya. Hari-hari berlalu begitu cepatnya, detik, menit, jam hari, minggu, bulan dan seterusnya berlalu dengan cepatnya. Ia selalu bergerak dan tak mempedulikan orang yang ada di atasnya. Bila manusia tak peduli juga dan tidak turut bergerak niscaya ia akan tertinggal.

Apabila manusia turut bergerak menyertai waktu, maka mesti ia perhatikan apa aktivitas yang ia lakukan dalam mengikuti pergerakan waktu. Apakah aktivitas kebaikan ataukah sebaliknya. Kalau aktivitas jelek yang ia lakukan niscaya ia akan merugi dan bila kebaikan niscaya keuntunganlah yang akan ia raih. Kita pun mesti ingat bahwa setiap aktivitas tadi baik berupa perbuatan maupun perkataan ada yang mengawasi dan mencatat. Firman Allah, "Apa-apa yang kamu ucapkan dari perkataan maka disisinya ada malaikat yang dekat dan selalu menyertai." (QS. Qaf : 18).

Kenyataan seperti ini tentu akan menggugah diri seorang insan beriman untuk melihat dan mengetahui amala kebaikan yang semestinya ia lakukan dalam bergerak bersama waktu.

1. Tilawah Al-Qur'an. Kita semestinya menyempatkan dan mengagendakan waktu kita untuk membaca firman-firman Allah. Membaca Al-Qur'an adalah bentuk aktivitas yang bagus untuk memanfaatkan waktu kita. Bahkan padanya ada pahala yang besar. Pada setiap huruf dari ayat yang kita baca bermuatan pahala, ada 1 kebaikan. Padahal pada 1 kebaikan diganjar 10-700 kali lipat. Salafus-shalih (para pendahulu yang shalih) senantiasa menjaga kontinuitas dalam membaca Al-Qur'an dan mereka terbiasa mengkhatamkan Al Qur'an beberapa kali dalam sebulan. Adapun kita, apabila mempunyai kesibukan yang banyak maka paling tidak, kita mengkhatamkan Al-Qur'an minimal satu kali dalam sebulan. Untuk kontinuitasnya maka sebaiknya kita mulai membaca Al-Qur'an pada awal bulan, nomor juz yang kita baca disesuaikan dengan tanggal yang ada. Hari ke 1 bulan tersebut kita baca juz 1, hari kedua juz dua hari ketiga juz tiga dan seterusnya sampai genap tiga puluh hari kita selesaikan tiga puluh juz Al-Qur'an.

2. Membaca buku-buku yang bermanfaat. Aktivitas ini kita lakukan dengan tujuan menambah ilmu dan staqofah kita. Mulailah kita baca buku-buku Islam yang membuat kita mampu berislam dengaan baik dan beribadah kepada Allah dengan ilmu yang benar. Dengan aktivitas membaca ini, kita akan tahu tentang bagaimana sebenarnya kedudukan wanita di zaman jahiliah sebelum islam. Kita pun akan mengetahui bagaimana sebenarnya kerancuan-kerancuan yang dibuat oleh musuh-musuh Islam untuk menghancurkan keislaman seorang muslimah.

3. Berdzikir Kepada Allah. Jadikan umur kita yang terbatas ini untuk terus ingat kepada Allah. Dzikir ini sebenarnya mudah untuk dilakukan dan semua muslimah bisa menjalankan dimanapun berada. Dzikir bisa kita hiaskan di bibir kita, ketika kita beraktivitas di rumah misalnya. Kenapa ia tak selayaknya kita tinggalkan? Karena ternyata keutamaan dzikir sangatlah banyak, "Dan laki-laki serta perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah". Rasul pun pernah bersabda, "Perumpamaan orang yang berdzikir dan tidak berdzikir seperti orang yang hidup dan orang yang mati." (HR. Bukhari dan muslim).
Seorang badui pernah berkata kepada Rasulullah, "Sungguh syariat itu sangat banyak bagi saya, maka nasehatilah aku." Nabi bersabda, "Jadikanlah lisanmu selalu dalam keadaan dzikir kepadaa Allah." (HR. Ahmad).
Membaca Al-Qur'an adalah dzkir, demikian pula tasbih, tahmid, tahlil, dan doa. Dan sebenarnya, dzikir itu sendiri merupakan wujud kesyukuran kita kepada Allah Ta'ala.

4. Mendidik anak. Pendidikan anak merupakan tanggung jawab seorang ibu. Tarbiyah yang terpenting bagi seorang anak adalah adalah tarbiyah shalihah dan menumbuhkan sang anak di atas manhaj rabbani yang lurus. Tarbiyah seorang ibu dari sisi ini memegang peran yang sangat besar daripada seorang ayah, yang memang lebih banyak bertugas di luar rumah. Ibu shalihah yang menumbuhkembahkan anak dengan akhlaq yang mulia dan muamalah yang baik jelas akan menjadi qudwah bagi sang anak.

5. Silaturrahiim. Aktivitas wajib bagi kita. Semestinya dengan aktivitas ini kita dapat memberikan lebih banyak manfaat kepada kerabat kita, dengan berkata dengan kata-kata yang baik, atau dengan memberikan kaset keislaman, buku-buku dan menasehati ketika dia lalai. Karena Rasulullah pernah bersabda, "Orang yang menunjuki kebaikan maka (pahalanya) seperti orang yang melakukan." (HR. Bazzar).

6. Mendengar kaset kaset yang bermanfaat. Kaset-kaset yang berisi ilmu-ilmu islam di saat ini begitu mudah untuk diperoleh dan mudah pula kita gunakan, khususnya bagi wanita yang punya kesibukan di rumah tangga bersama anak-anaknya. Kita dapat mendengarkan kaset tersebut ketika di dapur mempersiapkan makanan. Jangan kita biarkan sedikit pun waktu kita berlalu tanpa manfaat.

7. Membantu orangtua kita. Bagi yang belum berkeluarga, kadang beberapa pelajar atau mahasiswi di musim-musim ujian menggunakan sebagian besar waktunya untuk belajar dan meninggalkan pekerjaan rumah agar dikerjakan oleh ibu atau pembantu. Benarkah yang demikian ini? Jawabnya adalah tidak benar, kita bisa belajar namun tugas rumah pun tak pantas kita tinggalkan,dan tentunya kita pun ingin agar ibu kita bisa banyak beribadah kepada Allah Ta'ala.

Diambil dari M-MyQ

http://li4ni.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mumtahah Annisa sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Samsul M | Wiraswasta
Mulai buka site ini di tahun 2003, tapi baru sekarang saya ikut partisipasi. Maklum, baru ada waktu luang banyak.
KotaSantri.com © 2002 - 2019
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0518 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels