QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. "
Alamat Akun
http://yudie.kotasantri.com
Bergabung
18 Maret 2010 pukul 04:47 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Karyawan
http://tetapbersyukur.wordpress.com
yudi_aja56@yahoo.co.id
mas.yudiii
http://facebook.com/Wahyudi Yusuf
Tulisan Wahyudi Lainnya
Bubur Ayam Kuah Kuning
1 September 2013 pukul 23:32 WIB
Zuhud dan Materialisme
20 Agustus 2013 pukul 23:00 WIB
Ketoprak khas Betawi
11 Agustus 2013 pukul 23:00 WIB
Selat Solo
21 Juli 2013 pukul 22:22 WIB
Tipe-tipe Wanita dalam Al-Qur'an
18 Juli 2013 pukul 22:22 WIB
Pelangi
Pelangi » Muslimah

Kamis, 12 September 2013 pukul 22:00 WIB

Hijaber? Antara Modernitas dan Syari'at

Penulis : Wahyudi

Melihat tren berpakaian muslimah, dalam hal ini komunitas hijab, membuat saya berdialektika di alam pikiran saya. Apakah muslimah harus modis? Apalagi anggota dari komunitas ini bisa dikatakan diisi oleh orang-orang yang secara finansial berlebih.

Nah, sebenarnya kembali lagi ke prinsip dasar dari hijab. Tujuan utama hijab adalah menutup aurat dan tidak menonjolkan bentuk tubuh dari wanita agar terhindar dari segala kejahatan, terutama syahwat. Dengan didukung oleh ayat-ayat Al-Qur'an (QS. Al-Ahzaab : 56 dan 59), sangat jelas tentang manfaat dari menutup aurat bagi wanita.

Seiring berjalannya waktu dengan dinamika tren mode yang berjalan, agaknya sedikit terjadi perubahan pada mode/cara berjilbab yang "konvensional" menuju tren yang "modis" seperti kebanyakaan anggota komunitas hijaber. Atas tuntutan zaman pula, mode tren berjilbab cara lama yang dianggap "ketinggalan zaman", menuntut mode berjilbab harus berjibaku dengan kerasnya perkembangan mode jilbab, yang kemudian muncul mode hijab modis yang kebanyakan kita kenal.

ALLAH SWT tidak membatasi umatnya untuk berkreasi. Silakan menciptakan mode-mode jilbab terbaru, yang pastinya mengikuti perkembangan zaman dan memenuhi prinsip syar'i hijab.

Tapi ingatlah, mode yang terlalu wah terkadang menciptakan gap antara pelaku yang satu dengan yang lainnya. Lagi-lagi, hal ini berkaitan dengan behaviour yang sudah mendarah daging di kehidupan sosial kebanyakan orang. Apalagi, kesan ekslusif dari mode hijab ini sangat terpancar jelas, sehingga para wong cilik yang melihat cara berjilbab komunitas hijaber memberikan reaksi "melawan". Kemungkinan besar, menurut saya, para wong cilik ini melawan lantaran tidak adanya rasa empati dan simpati yang ditunjukkan para anggota hijaber ini begitu mereka saling berinteraksi dari segi mode berpakaian. Wallahu a'lam.

Bukan sekedar mengejar perkembangan mode ataupun menjadi trend setter, tapi diperlukan adanya tujuan suci mengapa hijab harus mengikuti perkembangan zaman. Saya pikir, salah besar kalau anggota hijaber hanya sekedar ikut-ikutan mengikuti perkembangan mode jilbab. Dan saya pikirpun, tidak ada kontribusi/korelasi apapun antara perkembangan mode jilbab dengan peningkatan kesejahteraan umat dan peningkatan kualitas diri individunya. Hal ini juga terbukti dengan pengalaman saya berdiskusi dengan salah satu anggota komunitas hijaber yang modis. Terbelalak saya ketika secara eksplisit bahwa dengan berhijab, dirinya menitikberatkan pada kemodisan, tapi setengah-setengah terhadap syar'i. Bahkan masih (maaf) tampak tonjol sana tonjol sini walaupun masih menggunakan hijab modisnya yang katanya mengikuti syar'i.

Hal yang paradokspun juga terjadi pada para hijaber zaman baheula. Mereka ini bisa dikatakan katrok dan gaptek mengikuti perkembangan mode jilbab (masih ikut maunya syar'i). Tapi untuk soal kualitas diri, jujur, mereka ini jauh lebih cerdas ketimbang anggota komunitas hijaber. Pilih mana? Yang luarnya biasa-biasa saja tapi isinya luar biasa atau isi dalamnya biasa-biasa saja tapi bagian luarnya luar biasa?

Merupakan tujuan yang mulia ketika dengan berhijab modis, tidak terjadi gap yang jauh antara pelaku yang satu dengan pelaku wong cilik lainnya, dibarengi dengan peningkatan kualitas diri dan tetap dalam lingkup syar'i dalam berjilbab.

Mari berhijab tanpa melupakan nilai-nilai sosial, peningkatan kualitas diri, dan syar'i.

Diambil dari tulisannya King Hairunsyah di harianking.blogspot.com.

http://tetapbersyukur.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Wahyudi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Desy Rahayu | Pegawai
Saya baru bergabung di KotaSantri.com setelah saya membaca beberapa cerita yang sangat menarik, saya berkeinginan juga untuk berbagi cerita dengan Anda semua.
KotaSantri.com © 2002 - 2020
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1402 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels