Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
Alamat Akun
http://karitasurya.kotasantri.com
Bergabung
21 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bekasi - Jawa Barat
Pekerjaan
Ibu Rumah Tangga
http://karitasurya.multiply.com
ratu_karitasurya
Tulisan Ratu Lainnya
Resiko Muslimah Bekerja
25 April 2013 pukul 23:00 WIB
Hadiah yang Paling Berharga adalah Senyum
13 April 2013 pukul 13:00 WIB
Kiat Memulai Hidup Berumah Tangga
23 Februari 2013 pukul 11:00 WIB
Suamiku, Sahabatku
12 Januari 2013 pukul 11:00 WIB
Dialog Rasulullah SAW dengan Iblis
27 November 2012 pukul 15:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Muslimah

Kamis, 4 Juli 2013 pukul 22:00 WIB

Saat Muslimah 'Harus' Jadi Umahat Kreatif

Penulis : Ratu Karitasurya

Istri cerdik dan shalihah
Penyejuk mata, penawar hati, penajam pikiran
Di rumah ia istri, di jalanan kawan
Di waktu kita buntu, dia penunjuk jalan

Farid boleh jadi lelaki beruntung mendapatkan istri seperti Shinta. Sudah berparas cantik, kreatif pula. Tidak hanya pintar menata rumah, tapi Shinta juga pintar memasak. Bahan-bahan sederhana seperti singkong saja, di tangan Shinta dapat diolah menjadi menu makanan yang variatif dan sudah barang tentu menggugah selera.

Makanya, ketika badai pemutusan hubungan kerja (PHK) menerpa, dan Farid harus kehilangan pekerjaan yang selama ini menjadi gantungan kebutuhan sehari-hari bersama istri tercintanya, tak sedikitpun membuat oleng biduk rumah tangga pasangan muda ini. Pasalnya, kedua pasangan ini sudah terbiasa hidup dalam balutan pola yang sederhana. Dan dalam hal ini, peran Shinta sangatlah penting. Berkat Shinta yang kreatif, kebiasaan makan Farid semasa bujang yang “selera restoran”, misalnya, dapat dihentikan. Kepiawaian Shinta memasak membuat Farid tak bisa berpaling ke masakan yang lain. Itu membuat anggaran bulanan dapat diirit sedemikian rupa.

Tak hanya itu, Shinta juga piawai menata rumah. Meski mereka masih tinggal di kontrakan sempit, berkat kreativitas Shinta, rumah itu menjadi hunian yang cukup nyaman. Shinta, misalnya, sering membuat surprise kepada Farid soal perubahan letak perabot rumah. Sehingga rumah sempit itu bagai terasa luas. Selalu terasa ada suasana baru yang menghadirkan kegembiraan tersendiri. Rumah sempit itupun menjelma bagai surga yang memberikan sejuta kenyamanan.

Tak aneh kalau di mata Farid, Shinta bagai sosok yang dilukiskan dalam bait-bait nasyid Istri Shalihah-nya The Zikr yang petikan baitnya dikutip di atas.

***

Bagaikan Surga

Marie von Ebner-Eschenbach seperti dikutip Muhammad Fauzil Adhim dalam bukunya Agar Cinta Bersemi Indah pernah berkata, “Seandainya di dunia ini ada surga, surga itu adalah pernikahan yang bahagia.” Akan tetapi, bila ada neraka, ia adalah rumah tangga yang hancur berantakan.

Rumah-rumah tipe yang terakhirlah kini banyak kita temukan di panggung kehidupan modern. Rumah-rumah bagai neraka yang tiada memberi kenyamanan bagi segenap penghuninya. Rumah yang seharusnya menjadi surga tempat kasih bermuara, malah menjadi neraka yang menyiksa jiwa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam (SAW), telah menunjukkan secara cemerlang bagaimana membangun mahligai rumah tangga bagai surga. Rasulullah SAW bersaksi tentang rumahtangganya dengan untaian kata sederhana ‘baiti jannati’ (rumahku surgaku). Suasana surgawi itu tiada ‘wajib’ terbangun dari bangunan rumah yang megah, perabot rumah yang serba mewah, dan hidangan yang serba ‘wah’. Jika rumah yang megah dan perobot yang mewah penyebab timbulnya sakinah, tak akan ada kisah indah yang dapat kita petik dari pernikahan Rasulullah SAW. Sebab, tak ada perlengkapan rumah yang bisa disebut mewah. Tempat tidur Nabi SAW hanyalah pelepah kurma yang disusun, sehingga bekasnya tampak di pipi setiap kali beliau bangun tidur. Hidangan di keluarga Nabi pun sederhana. Makan hanya sekadarnya saja, bahkan beliau sering kekurangan makanan, sehingga memaksanya berpuasa.

Anas bin Malik bercerita, “Sesungguhnya tidak pernah terdapat dalam makan siang Rasulullah atau makan malamnya, roti dan daging, kecuali sangat sedikit dan kekurangan.” (Riwayat Tirmidzi).

Tipologi rumah Nabi sendiri adalah tipologi rumah sederhana, tidak ada kehidupan bermewah-mewahan di dalam, atau di sekitar lingkungan rumahnya. Rumahnya kecil berderet seperti kamar-kamar atau hujurat. Di rumah yang kecil-kecil itu Nabi tinggal dengan penuh kesederhanaan dan kedamaian. Nabi mendatangi rumah-rumah ini secara bergiliran dengan penjadwalan yang rapi. Para istrinya hidup dalam kesederhanaan ekonomi.

Namun dari kesederhanaan itulah terpancar suasana surga di dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah SAW. Suasana sakinah (tentram), mawaddah (saling mencintai), dan rahmah (saling menyayangi).

***

Perlu Kemampuan Teknis

Saat ini, saat zaman semakin modern, dan pergulatan hidup semakin ganas, cita-cita membangun mahligai rumah tangga bagai surga, membutuhkan komitmen yang kuat. Tidak hanya dari suami atau istri secara sepihak, tapi harus dari kedua-duanya. Pembagian peran, tugas, dan tanggungjawab masing-masing secara jelas akan membantu merealisasikan rencana itu.

Suami bekerja banting-tulang untuk menafkahi keluarga, sedang istri di rumah me-manage rumah tangga dengan penuh tanggungjawab. Itu semua akan membentuk sebuah harmoni yang indah. Sayangnya, saat ini banyak para istri yang gagap dan kurang memiliki kepiawaian dalam persoalan-persoalan rumah tangga, terutama persoalan yang bersifat teknis. Hal itu karena umumnya para Muslimah kita dewasa ini kurang melengkapi diri dengan kemampuan mengurus persoalan-persolan teknis rumah tangga.

Persoalan-persoalan teknis seperti membersihkan lantai, memelihara perabot rumah tangga, belanja, memasak, merawat anak, dan bejibun pekerjaan rumah tangga yang lain, akan membuat mereka menyerah dan memilih membiarkan rumah “apa adanya”. Padahal, kreativitas seorang istri mengelola rumah tangga, memberi peranan penting dalam menghadirkan suasana “surga” di rumah tangga.

Khalid Ahmad Asy-Syantuh dalam bukunya Pendidikan Anak Putri dalam Keluarga Muslim mengatakan, wanita merupakan pondasi pertama untuk membangun suatu keluarga. Dialah yang mendidik anak dan merupakan poros evolusi keluarga. Kepadanya seorang suami kembali untuk menenangkan semua ketegangan syarafnya, mendapatkan ketenangan jiwa dan kebahagiaan hati. Dari tubuhnya, seorang bayi akan lahir. Di bawah kepak sayapnya, bayi itu tumbuh menjadi besar. Wanita adalah tiang penyangga rumah tangga, sebagai ibu sekaligus istri. Suatu rumah tangga tidak akan memiliki tiang penyangga bila tidak ada wanitanya.

Karena itu, tidak ada salahnya, bahkan boleh jadi “wajib” hukumnya bagi seorang istri untuk membekali diri dengan kepiawaian dalam mengurusi pernik-pernik pekerjaan rumah tangga. Di zaman kehidupan Rasulullah SAW, gadis-gadis telah mendapatkan pelajaran mengenai kehidupan berkeluarga sebelum mereka baligh. Sehingga ketika datang saat baligh, mereka telah dewasa dan siap untuk menjalani hidup di medan kehidupan rumah tangga.

Dalam Islam, aktivitas dalam rumah tangga merupakan salah satu bentuk ibadah yang dapat mendekatkan seorang ummahat (ibu rumah tangga) kepada Allah SWT, baik aktivitas itu diberikan untuk suami, anak-anak, maupun orangtuanya. Ia menggunakan waktunya untuk membantu anggota keluarga yang lain sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Asma’ binti Abu Bakar RA.

Diceritakan, Asma’ senantiasa menyediakan makanan bagi suaminya, Zubair bin Awwam. Ia juga menumbuk biji yang matang dan menyiramkan air serta membikin adonan.

Selain itu, ingatlah sabda Rasulullah SAW, “Wanita (istri) itu adalah pemimpin di rumah suaminya dan bakal ditanya tentang kepemimpinannya itu serta tentang harta suaminya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Badiatul Muchlisin Asti / Suara Hidayatullah APRIL 2008

http://karitasurya.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ratu Karitasurya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

AMMAR Hi HABIB | Mahasiswa
Wadah inspiratif dan motivatif dalam hidup dan menjadi ruang untuk berekspresi.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0455 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels