QS. At-Taubah 9 : 129 : "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung."
Alamat Akun
http://karitasurya.kotasantri.com
Bergabung
21 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bekasi - Jawa Barat
Pekerjaan
Ibu Rumah Tangga
http://karitasurya.multiply.com
ratu_karitasurya
Tulisan Ratu Lainnya
Hadiah yang Paling Berharga adalah Senyum
13 April 2013 pukul 13:00 WIB
Kiat Memulai Hidup Berumah Tangga
23 Februari 2013 pukul 11:00 WIB
Suamiku, Sahabatku
12 Januari 2013 pukul 11:00 WIB
Dialog Rasulullah SAW dengan Iblis
27 November 2012 pukul 15:00 WIB
Menjadi Muslimah Produktif dari Rumah
15 November 2012 pukul 14:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Muslimah

Kamis, 25 April 2013 pukul 23:00 WIB

Resiko Muslimah Bekerja

Penulis : Ratu Karitasurya

Saya bekerja sebagai PNS di sebuah instansi pemerintah. Bidang yang saya tangani di kantor adalah bidang teknis yang bekerja lebih banyak dengan kaum Adam. Di ruangan saya, hanya ada dua karyawati, termasuk saya. Berdasarkan latar belakang pendidikan, sebenarnya saya harus terjun langsung ke lapangan untuk mendapatkan data, tapi alhamdulillah, saya cukup bekerja di ruangan untuk mengolah data di komputer, sehingga cukup aman untuk tidak bepergian dengan lawan jenis. Bekerja dalam satu ruangan dengan rekan kerja yang kebanyakan bapak-bapak, ada suka dukanya selain kehati-hatian dalam menjaga hati dan sikap. Sukanya adalah mereka tidak suka ngerumpi dan ringan tangan jika dimintai tolong.

Dukanya? Karena di ruangan saya belum ada AC dan rata-rata dari mereka perokok berat, otomatis setiap hari saya selalu berjuang keras menghindari asap rokok. Sedangkan dari segi obrolan bapak-bapak, sebenarnya relatif aman, tidak menjurus ke hal-hal yang pornoisme, kecuali kalau kedatangan tamu karyawati dari ruang sebelah yang suka memancing pembicaraan itu. Kalau sudah begitu, biasanya saya berusaha mengalihkan perhatian, menghindar, atau kadang saya sengaja memutar lagu-lagu nasyid dari komputer saya dengan keras.

Pada awal saya bekerja di tahun 1999, mereka agak kaget dengan "adat" saya, seperti tidak mau berjabat tangan dan berboncengan dengan lawan jenis. Ada yang maklum, ada yang menghargai, dan ada yang membuatnya sebagai bahan bercanda. Ada pula yang nekat menjabat tangan saya saat saya hanya menangkupkan tangan di dada dan membuatnya bangga berhasil menggoda saya. Saya berusaha untuk bersikap tegas dan bukan galak dalam menghadapinya.

Kalau diuraikan, sebenarnya banyak hal-hal yang bertentangan dengan nurani/prinsip saya. Rasanya kadang membuat malas bekerja, sesak di dada, dan bahkan ada keinginan ke luar dari pekerjaan. Mungkin akan jadi poin 1, 2, 3, dan seterusnya serta menunggu untuk dijawab solusinya. Sering saya bawa dalam forum kajian rutin mingguan untuk sharing. The Show Must Go On, orang bilang. Segala hal positif dan negatif yang saya alami sejak bekerja, saya anggap sebagai sebuah proses menuju dakwah di kantor.

Menjadi wanita bekerja sudah menjadi sebuah pilihan buat saya dan wanita-wanita lainnya, saat tuntutan hidup harus ditempuh. Dan yang pasti membawa resiko yang harus dihadapi selama berinteraksi di lingkungan kerjanya. Tetapi bagaimana kita mampu menghadapinya dan menjadikan sebuah sarana pengembangan diri dan sarana ibadah. Seperti kita ketahui bahwa, menjadi wanita bekerja, hukumnya boleh, dengan catatan memperhatikan dan menjaga batas-batas/adat Islam, yaitu tidak ikhtilat, berbaur antara laki-laki dan perempuan, tidak membuka aurat, tidak khalwat atau berdua dengan lelaki bukan muhrimnya, dan terhindar dari fitnah.

Insya Allah, selama dalam bekerja kita memegang teguh apa yang sudah digariskan atau diatur oleh Islam, kita akan aman dan tentram menjalaninya. Akan lebih baik lagi jika kita mampu membuka peluang dakwah di antara rekan kerja. Bukankah dakwah tidak harus dengan ceramah di depan mereka? Tetapi dengan akhlak dan tingkah laku kita yang bernuansa Islami, semoga mampu membuka cakrawala baru untuk mereka dalam memahami Islam. Kita niatkan bekerja untuk membantu suami buat yang sudah menikah, maupun membantu orangtua selain juga untuk meraih Ridha Allah. Bukan karena tuntutan emansipasi wanita yang kebablasan sehingga beranggapan bahwa wanita harus setara dengan laki-laki. Karena bagaimana pun, peran dan fungsi wanita adalah berbeda dengan laki-laki.

Tusti Sri Wahyuni
Penulis adalah Pengurus SALIMAH Kota Blitar

~Diambil dari sebuah milis.~

http://karitasurya.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ratu Karitasurya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Aw Windarti | Guru
Allahu Akbar!!! KSC itu media penyejuk jiwa-jiwa yang gersang.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0538 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels