|
HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
|





Kamis, 22 Desember 2011 pukul 16:50 WIB
Penulis : Salman Rafan Ghazi
Jika pejuang adalah seorang laki-laki, itu hal yang wajar dan biasa. Jika yang menjadi pejuang adalah perempuan, itu baru luar biasa. Tidak bisa dipungkiri jika sejarah mencatat peran perempuan dalam perjuangan Islam sangatlah besar. Kontribusi mereka begitu nyata dalam menegakkan agama Allah di muka bumi ini. Sudah sepantasnya bagi kita meneladani keistiqamahan mereka dalam menegakkan kalimat haq.
Rasulullah bersabda, “wanita-wanita terbaik di dunia ada empat, yaitu Maryam binti Imran, Asiah binti Khuzaim (istri Fir’aun), Khadijah binti Khuwalid (istri Rasul), dan Fatimah binti Muhammad (putri kesayangan rasul).
Maryam binti Imran, Allah melebihkan beliau dengan tiga keutamaan. Pertama, malaikat sepakat dalam menyampaikan pesan Allah bahwa Allah telah memilih Maryam sebagai wanita terbaik, kedua Maryam adalah wanita yang suci, dan Maryam adalah wanita yang dilebihkan atas wanita-wanita yang lain (Ali Imran : 42). Dan Maryam adalah wanita yang terjaga dalam ibadahnya. “Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku' “ (Ali Imran:43).
Asiah binti Khuzaim. Beliau adalah istri dari Fir’aun. Beliau beriman di tengah kekejian dan kezaliman Fir’aun terhadap kaumnya. Dengarkanlah doa beliau kepada Allah karena kecintaan terhadap Allah, “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim” (At Tahrim:11). Allah mengabulkannya, memasukkan beliau ke dalam golongan orang yang beriman dan menyelamatkan beliau dari Fir’aun.
Khadijah binti Khuwalid. Beliaulah istri tercinta dari Rasulullah. Beliau satu-satunya istri Rasul yang memberikan keturunan. Khadijah adalah orang petama yang memeluk Islam. Khadijah pula yang meneguhkan Rasul agar terus berdakwah. Di saat semua orang tidak beriman kepada Allah dan Rasul, beliau menyemangati Rasul untuk terus melakukan syiar Islam. Ketika semua orang mendustai Rasul dan menganggap Rasul gila, khadijah lah yang membela Rasul. Dan ketika semua orang menahan hartanya untuk dijuangkan di jalan Allah, khadijah memberikan seluruh hartanya untuk fi sabilillah. Selain sebagai istri, khadijah adalah sahabat dekat, penasihat, dan ibu bagi seluruh keluarga Rasul.
Fatimah binti Muhammad. Putri Rasul tercinta, kesayangan Rasul, putri yang menemani kemanapun Rasul pergi. Sehingga beliau tahu persis apa yang disukai dan dibenci oleh Rasul. Fatimahlah orang yang mempunyai sifat dan sikap menyerupai Rasul. Bahkan setelah menikah dengan Ali, setiap malam Rasul mengetuk pintu rumag Fatimah untuk bertanya apakah sudah sholat malam atau belum.
Ada beberapa wanita yang tidak disebutkan namanya, tetapi disebutkan di dalam AlQur’an. Dalam surat Al Qashash ayat 11 disebutkan, “Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: "Ikutilah dia" Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya”. Dia adalah kakak Musa a.s. Salah satu potret akhwat terbaik. Mendapat amanat seperti itu dari ibunya, beliau begitu berani mengikuti Musa kecil yang telah dihanyutkan ke sungai Nil untuk menghindari kebijakan Fir’aun. Di tengah pengawasan dan penjagaan ketat tentara-tentara Fir’aun di sepanjang sungai Nil, kakak Musa a.s berlari di atas jalan yang bergelombang dan licin untuk mengikuti aliran keranjang Musa kecil di sungai Nil. Betapa kuatnya fisik dan betapa berat perjuangan kakak Musa a.s tersebut. Andai akhwat sekarang setangguh beliau.
Dalam surat Al Qashash ayat 23 disebutkan pula ada dua orang wanita pekerja keras –anak Nabi Syuaib a.s– di Negeri Madyan. Mereka begitu menjaga sikapnya dari ikhtilat dan begitu sayang kepada kedua orangtuanya. Mereka bersabar menunggu penggembala –laki-laki– lain pulang terlebih dahulu agar bisa memberi minum ternak-ternaknya. Lihatlah, betapa mereka sangat menjaga diri dari ikhtilat dengan laki-laki. Tengoklah tutur katanya saat menhampiri Musa a.s untuk berterimakasih berikut, “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami” (Al Qashash:28). Betapa kalimat tersebut mencerminkan seorang wanita yang suci. Mereka tidak mengatasnamakan mereka untuk berterimakasih, karena mereka tahu adab pergaulan. Tidak seperti kebanyakan wanita sekarang yang tidak sungkan untuk mengajak laki-laki yang bukan muhrim kerumahnya.
Selain mereka ada nama-nama seperti Khansa’ yang mengantarkan empat anaknya menjemput syahadah dalam perang melawan Romawi. Di Negara kita ada pejuang Aceh Cut Nyak Dien yang berhasil mengusir penjajah dari tanah rencong. Dan yang paling kental dalam ingatan kita adalah seorang Kartini. Di sekitar kita masih banyak pejuang-pejuang muslimah yang lain. Tengoklah kuli panggul di pasar-pasar tradisional yang kebanyakan adalah wanita. Mereka adalah pejuang sejati, mereka rela diupah hanya seribu-duaribu perak untuk sekali panggul. Dalam hati mereka hanya ada satu cita-cita, yaitu menyekolahkan anak setinggi mungkin. Lihat, sungguh mulianya mereka. Tidak salah jika Rasul lebih memuliakan wanita di atas laki-laki. Ibumu, ibumu, ibumu, lalu ayahmu.
�
.::13.55.DuaEnamAprilDuaRibuDelapan::.
Rangkuman materi tasqif dari ustadz Ari Purbono. Semangat hari Kartini, semangat meneladani perjuangan pejuang Muslimah…!! Go..go..go..mujahadah..!
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Salman Rafan Ghazi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.