HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
Alamat Akun
http://fijri.kotasantri.com
Bergabung
12 Agustus 2011 pukul 08:27 WIB
Domisili
Bandar Lampung - Lampung
Pekerjaan
Pengajar
Saya cuma wanita biasa yg tak ingin biasa-biasa saja. Terlahir sbg anak bungsu dari 4 bersaudara yg berkepribadian plagmatis damai, gak suka ribet apalagi ribut. Seneng dengerin curhatan orang lain & berharap bisa membuat org yg punya masalah bisa tersenyum lagi...
opietalone@yahoo.co.id
http://facebook.com/Konselor Fijriani
http://twitter.com/Fijriopiet
Pelangi
Pelangi » Muslimah

Kamis, 25 Agustus 2011 pukul 14:00 WIB

Wanita Tangguh, Where are You?

Penulis : Fijriani

Kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, bingung, dan galau sangat wajar dialami oleh jiwa-jiwa yang punya rasa. Iya, kan? Terutama kita kaum hawa. Karena banyak yang bilang, ‘rasa’ lebih mendominasi wanita ketimbang ‘pikiran’. Uppss... Apa iya?!. Sedikit nggak sepakat sih, karena kebanyakan persepsi kaum Adam yang kutangkap tentang hal ini, jadi sedikit mendeskriminasikan kaum wanita. Mereka bilang, wanita itu kalau ‘ngomong’ suka nggak pakek logika. Hemm... gitu ya? Ya, mungkin ada benernya sih. ‘Rasa’ lebih mendominasi wanita ketimbang ‘pikiran’. Makanya kebanyakan wanita kalau berbicara sering menggunakan kata-kata “pe-ra-sa-an”. Contohnya, “Perasaan, bukan aku yang salah.”, “Perasaan, nggak gitu deh.” Biasanya sih akan berbeda kalau laki-laki yang ngomong, kata-katanya jadi seperti ini, “Saya pikir, bukan saya yang salah.”, “Seharusnya, nggak gitu deh.” Ini membuktikan kalau laki-laki lebih senang menggunakan logika ketimbang perasaan. Allahu a'lam, itu hanya kesimpulan pribadi.

So, menyikapi perihal ‘rasa’ di atas, jangan lupa, bahwa Allah SWT juga mengkaruniakan pada setiap manusia (baik laki-laki maupun perempuan) akal dan pikiran yang seharusnya bisa membatasi ruang gerak rasa. Agar rasa muncul tak melebihi batas nalar manusia.
Ya An-Nissa, seharusnya kita bersyukur bahwa Allah SWT melebihkan kita pada sisi rasa. Jangan justru melemahkan diri karena hal itu. Menjadikan posisi wanita sebagai mahluk yang patut dikasihani. Menjadikan air mata sebagai senjata pamungkas agar yang lain iba. Mungkin kita tak bisa berlari dari kenyataan, bahwa “wanita itu perasa”, “wanita itu sensitif”. Bagiku, kata-kata itu tak ada yang salah. Aku sebagai wanita berkata, ‘Itu fakta!’ Tapi aku tetap meyakini, bahwa ketika ‘rasa’ dan ‘logika’ bersinergi dalam diri seorang wanita, itu akan menjadi kekuatan yang luar biasa yang tak bisa diungkapkan oleh kata. Ya, “Wanita Luar Biasa” atau aku lebih senang menyebutnya “Wanita Tangguh”.

Jangan terlalu berlebihan, kawan. Membayangkan ‘Wanita Tangguh’ seperti wanita perkasa. Bagiku, wanita tangguh adalah mereka yang memiliki sifat sekeras batu karang. Wanita tangguh memperlihatkan keberaniannya meskipun sebenarnya ia sedang merasa ketakutan. Wanita tangguh memberikan yang terbaik yang ada pada dirinya kepada orang lain, khususnya orang-orang yang mereka cintai. Wanita tangguh mengetahui dengan jelas bahwa Penciptanya akan selalu menopang ketika ia lemah. Wanita tangguh memiliki iman bahwa sepanjang perjalanan hidupnya ia akan tumbuh semakin kuat. Wanita tangguh itu, tetap membawa serta kelembutan dalam tiap langkah kehidupannya, tapi ia memiliki kekuatan untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Tidak hanya mampu berfikir, tapi juga mampu bernegosiasi. Wanita tangguh, tidak menjadikan air matanya sebagai simbol bahwa ia sedang rapuh, tapi ia menjadikan air matanya untuk sekedar mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan, untuk kemudian mengambil kekuatan setelahnya. Wanita tangguh mampu menyimpan kebahagiaan dengan caranya sendiri, dan ia juga mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit.

Saat ini, aku merindukan wanita-wanita tangguh itu. Bahkan aku memimpikan bahwa aku adalah bagian dari mereka. Itu harapanku yang kusampaikan sebagai do'a kepada Pemilikku. Aku hanya wanita biasa yang ingin bisa setangguh Aisyah dan setegar Fatimah.

Allahu a'lam bishshawab.

Suka
Widia Aslima menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fijriani sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Indra | Full Time Jobseeker
Alhamdulillah KSC bagus banget, jadi pengen nyoba KSC Mobile-nya.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0443 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels