Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
Alamat Akun
http://nuraulia.kotasantri.com
Bergabung
1 Maret 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bogor - Jawa Barat
Pekerjaan
Jurnalis
Tulisan Aris Lainnya
Kejujuran itu Mahal
30 Juni 2010 pukul 16:09 WIB
Belajar dari Ilmu Padi, Luar Biasa!
18 Juni 2010 pukul 16:00 WIB
Gula-Gula Media
10 Juni 2010 pukul 20:31 WIB
Kecoa Suka Tantangan
8 Juni 2010 pukul 15:50 WIB
Rezeki Ada Hingga Mati
29 Mei 2010 pukul 15:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Muslimah

Kamis, 8 Juli 2010 pukul 20:55 WIB

Ketika Perempuan-perempuan Menulis

Penulis : Aris Solikhah

Kebiasaan anak gadis mengeluarkan isi hati alias curhat pada sobatnya. Emang enak, bisa berbagi beban dengan orang terdekat. Hati terasa plong dan ringan. Tapi kadang-kadang aktivitas ini mendatangkan ‘bencana’ tersendiri. Tak semua temen-temen kita bisa menjaga rahasia. Bayangkan, masalah pribadi diumbar di publik! Wah gaswat! Jadi gosip antar relasi, dibumbui macem-macem lagi (kayak masak sayur saja). Rasa hati ini dongkol, malu, sebel, dan keseeeel banget. Ya, inilah salah satu sisi sebuah persahabatan.

Sebenarnya ada kok cara jitu agar kita bisa menumpahkan perasaan kita dengan aman bebas. Menulis di diary (buku harian). Dijamin deh rahasia terjaga abadi, asal nggak ketahuan aja. Banyak manfaat yang bisa dipetik dari aktivitas menulis ini. Selain aman, catatan harian akan menjadi saksi sejarah bila kelak kita ditakdirkan menjadi orang besar atau terkenal.

Seperti kata mbak Helvy Tiana Rosa (HTR), Kartini lebih terkenal dan dianggap pahlawan yang memperjuangkan perempuan dibanding Dewi Sartika, Laksamana Kemala Hayati, Cut Nyak Dien, dan Cristina Martha Tiahahu. Hingga saking ‘dipujanya’, setiap tanggal 21 April khusus diperingati hari Kartini. Padahal kalau dibandingkan heroik-nya Laksamana Kemala Hayati saja, pasti Kartini kalah jauh deh. Nggak percaya? Pejuang muslimah Aceh ini memimpin 100 armada laut yang masing-masing terdiri dari 500 orang. Melalui komando dia, Portugis di Malaka bisa dipukul mundur. Dialah aktor di balik pembebasan pejuang Aceh yang kerapkali masuk bui gara-gara menentang penjajah dulu. Bahkan, menurut berbagai sumber, dia satu-satunya perempuan tersukses yang mampu memimpin pasukan laut di dunia. Hebat kan!

Namun kenapa Kartini yang kemudian menjadi ikon pejuang perempuan di Indonesia? Alasannya simpel. Terlepas aspek politisnya, karena Kartini punya bukti otentik dalam teks-teks surat yang dia kirim ke pada temen-temennya di luar negeri seperti ke Nyonya JH Abendanon. Surat ini kemudian dibukukan dan bisa dibaca oleh generasi mana pun, kapan pun, serta di mana pun berada. Menjadi inspirasi tak lekang bagi para pejuang kesetaraan gender. Konon, Kartini juga terbiasa menulis diary. Mungkin kalau Kartini hidup, dia tak akan pernah percaya coretan tangannya berpengaruh sekali.

Kini, penulis muda perempuan berjamuran ikut menyemarakkan tumpukan-tumpukan etalase toko-toko buku. Satu sisi ini sangat menggembirakan buat kita semua. Lonjakan karya berupa buku dari penulis perempuan mencitrakan peningkatan melek huruf dan intelektulitasnya. Sisi lain ada dari penulis-penulis muda tersebut membawa misi tersendiri. Menulis sebagai tanda pemberontakan terhadap ketidakadilan yang melingkupi dunia perempuan dalam perspektif kesetaraan peran perempuan di segala aspek kehidupan. Mereka pun memilih jalur dunia sastra yang sedang naik daun. Selain bentuknya beragam dan mudah dikonsumsi publik, akhir-akhir ini dunia sastra mendapat respon baik dari khalayak.

Karya-karya mereka berusaha menyaingi ”sastra” pria yang berani mengekplorasi seksualitas. Kalau pria aja berani, kenapa perempuan tidak? Bahkan penulis perempuan ini lebih vulgar dalam penggambarannya. Penulis perempuan yang beralasan demikian di antaranya Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, Fira Basuki, dan lain-lain. Seperti Supernova, buku karya Dewi Lestari. Buku ini mengisahkan Diva, Pelacur kelas kakap yang berkarakter mandiri, berwawasan luas, suka membantu orang, kritis, cerdas, dan punya pilihan hidup. Tentu saja didalamnya dibumbui ”adegan bapak ibu”, perselingkuhan dan sebagainya. Kata penulisnya, ini menepis ketidakberdayaan tokoh perempuan yang banyak digambarkan sastra lama. Seakan-akan menunjukkan hargai pilihan hidup orang dan pekerjaan pelacur adalah pekerjaan sangat terhormat.

Tak hanya sastra, tulisan pop (populer) semisal, komik, Teenlit, dan Chicklit juga membanjiri dunia buku. Gaya penulisannya yang ringan dan enak membuat bacaan ini digandrungi remaja. Pasalnya, isi buku pop itu tak jauh-jauh dari propaganda kehidupan “gaul” bebas nilai.

Terus, saking berjubelnya buku-buku yang gitu deh isinya, apa lantas bikin kita (kaum perempuan) fobi baca? Iya, jangan dong! Jangan bersedih. Ada beberapa tulisan muslimah yang bermutu dan sarat nilai. Meski jumlahnya ya, masih terbatas pula.

Misalnya tulisannya novel-novel mbak Helvy Tiana Rosa. Konon tulisan beliau ini banyak menghantarkan perempuan kepada hidayah Allah. Penulis sekaligus pejuang muslimah Zainab Al-Ghazali juga rajin menggoreskan perjalanan hidupnya selama enam tahun di penjara semasa Pemerintahan Mesir Gamal Abdul Naser. Kisah duka beliau menggugah hati bagi siapapun yang membacanya. Bagaimana beliau dicampuk, berhari-hari tanpa makan, diumpankan anjing kelaparan, berulangkali makar pembunuhan, dan sebagainya. Kisah ini bisa dijumpai di bukunya ”Peran dan Tugas Wanita Muslimah” atau di ”Hari-hari dalam Hidupku (Ayyamun Min Hayaati)".

Keberhasilan Karen Amstrong dalam menulis bisa juga dicontoh. Lewat buku A History Of God, Karen mencoba mengkritisi sikap skeptis agama terhadap sains. Karen memprediksi, agama akan mengemban peran lebih besar pada abad ke-21. Dimana manusia secara serius menghadapi krisis moral, sosial, lingkungan, ekonomi, dan politik. Buku ini menjadi acuan dari para ahli filsafat, sains, dan orang-orang yang sedang mencari kebenaran.

Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam memilih bacaan. Sebab bacaan mempengaruhi karya tulisan seseorang. Di samping itu, bacaan dan tulisan memiliki pengaruh kuat terhadap pembentukan perilaku seseorang. Tingkah laku seseorang tak jauh dari apa yang ia baca dan tulis. Apalagi kalau kita belum punya barrier atau saringan iman yang kokoh. Hati-hati pilih-pilih bacaan fiksi. Mendingan pilih buku non fiksi kayak buku pelajaran, ilmu pengetahuan, bibliografi, ekonomi, politik, sosial, masyarakat, dan sebagainya. Mencerdaskan dan terasa manfaatnya karena aplikatif . Awalnya perlu dipaksa, berat serta boring, tapi yakin deh, bacaan-bacaan itu membantu kerja stimulasi otak kita. Kalau kita terbiasa, kata orang, bacaan ‘berat’ -bukan berat bukunya lho, ada juga novel beratnya berkilo-kilo kayak Sam Hok atau Mushasi-, maka membaca bacaan fiksi terasa mudah dan cepat. Nggak percaya, buktikan sendiri ya!

Kalau penulis muslimah yang mampu menulis buku “bergizi" masih terbatas, ini tantangan buat kita. Soalnya, dengan menulis kita bisa membagi pengalaman, ilmu pengetahuan, dan mempengaruhi orang. Semisalnya nih, kita nggak sreg ama tayangan sebuah tayangan tivi yang pornografi dan pornoaksi, kita bisa ngajak temen-temen dekat untuk bikin surat pembaca ke media. Walhasil surat pembaca kita dimuat dan dibaca banyak orang. Jika itu terus-menerus dilakukan, orang terpengaruh juga, hasilnya tayangan itu dicabut dari peredaran.

Bagi seorang penulis perempuan yang terkenal, Fatima Mernissi pernah mengatakan atau barangkali menuliskan bahwa dengan menulis setiap hari, kulit kita akan menjadi bercahaya dan kencang! Bayangin aja betapa hebatnya khasiat menulis itu.

Agar kita nggak keblablasan, yang perlu diperhatikan dalam menulis adalah apa pesan yang ingin disampaikan, sebab tulisan atau tangan itu kelak juga akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Al-Khalik. Allah akan menggantikan setiap tetes keringat penulis yang menulis demi tegaknya kalimat-kalimat-Nya di muka bumi ini.

So girls, jangan ragu-ragu untuk menulis sekarang. Ingat pesan penulis Harry Potter, J.K. Rowling, ”Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui, tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri.” Pepatah Arab mengatakan, Man Jada wa Jada (Siapa yang sungguh-sungguh berusaha, ia akan dapat mewujudkan impiannya).

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aris Solikhah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ridwan | Mahasiswa
Mari kita jalin silaturahmi dan ukhuwah di KSC ini. Mudah-mudahan kita semua dapat tambahan ilmu dan manfaat. Aamiin.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1049 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels