HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
Alamat Akun
http://nuraulia.kotasantri.com
Bergabung
1 Maret 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bogor - Jawa Barat
Pekerjaan
Jurnalis
Tulisan Aris Lainnya
Tak Bersedih Berkepanjangan
9 Maret 2010 pukul 18:11 WIB
Anak Cermin Orangtuanya
2 Maret 2010 pukul 20:00 WIB
PKI, Timbang Dulu
11 Februari 2010 pukul 20:55 WIB
Pempek Palembang
7 Februari 2010 pukul 20:45 WIB
Menangkap Peluang Bisnis Saat Krisis
30 Januari 2010 pukul 20:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Muslimah

Kamis, 11 Maret 2010 pukul 20:55 WIB

Tirani Kecantikan

Penulis : Aris Solikhah

Cantik itu putih. Saya pengen yang putih bersih merona. Begitu ujar seorang pria dalam cuplikan iklan kosmetika di televisi. Girls, tanpa kita sadari, iklan pemutih dan pelangsing tadi bersama iklan-iklan alat-alat kosmetika lain membentuk pola pemikiran dan persepsi baru mengenai kecantikan.

Belum lagi ritual berbagai pagelaran pemujaan kecantikan tiap tahun yang diberitakan media masa. Ritual-ritual tersebut bukan sekedar masalah fashion dan pembentukan citra diri. Lebih dari itu, mengendalikan cara berpikir perempuan. Di Barat, mitos kecantikan mengisi ruang kosong kepercayaan terhadap Tuhan. Menjadi agama baru menggantikan agama lama yang diabaikan. Agama baru ini berkembang pesat berkat campur tangan industri-industri kosmetik kapitalis. Sekarang, perempuan lebih banyak dinilai dari sifat-sifat fisiknya daripada sisi kepribadian, kecerdasan, atau profesionalismenya.

Girls, yang memprihatikan, akibat persepsi kecantikan dan tuntutan penampilan prima, seorang ibu di Jakarta memprioritaskan membeli peralatan kecantikan, dibandingkan makanan bergizi bagi anaknya yang busung lapar.

Girls, kini kecantikan telah menjadi alat tukar. Ia sangat diinginkan perempuan. Sayangnya, kecantikan lebih sulit didapatkan daripada rupiah dan dollar. Sebab, masyarakat khususnya laki-laki, senantiasa mengubah-ubah nilai mata uang ini. Tidak ada standar universal bagi kecantikan. Kecantikan adalah idola imaginer laki-laki yang berstandar ganda. Sesuatu yang tidak mungkin diraih ibu, saudara perempuan, maupun anak gadisnya. Termasuk girls sekalian. Di Barat, masyarakat dan laki-laki berhak menilai penampilan fisik perempuan.

Tatkala perempuan di sana memilih terjun di wilayah publik, demi memburu kebebasan, mereka pun terperosok dalam jebakan yang dipasang industri kecantikan.Tahu nggak, girls, Ismail Adam Petel dalam buku Perempuan, Feminisme, dan Islam menulis para kapitalis yang bergerak dalam industri kecantikan telah memanipulasi perempuan untuk membelanjakan lebih dari 33 miliar dollar per tahun untuk produk-produk diet, 20 miliar dollar untuk alat-alat kecantikan, 300 juta dollar untuk bedah kosmetik, dan lebih dari 7 milliar dollar untuk pornografi.

Pornografi, bisnis yang sangat menguntungkan. Pendapatan industri pornografi global pada 2006 sebanyak 97,06 Miliar dolar AS, dengan empat besar negara peraih pendapatan terbanyak, yaitu China sebanyak 27,40 Miliar dolar AS, Korea Selatan sebanyak 25,73 Miliar dolar AS, Jepang sebanyak 19,98 Miliar dolar AS, dan Amerika sebanyak 13,33 Miliar dolar AS.

Selama ini, pornografi lebih banyak dikonsumsi laki-laki. Perempuan terjebak perangkap yang dipasang sangat hati-hati oleh orang-orang yang mengganggap melakukan pornografi dan mengkonsumsinya sebuah perkara normal bagi perempuan bebas dan merdeka.

Pornografi -yang tidak pernah menggambarkan hubungan intim antara suami istri sah- telah memberikan dampak buruk bagi benak orang yang tidak berpikir panjang. Mereka lalu menganggap perselingkuhan, perzinaan, dan pemerkosaan, masalah yang bisa diterima masyarakat. Selain itu, perempuan terobsesi bentuk tubuh dan kecantikan bintang pornografi.

Dampak mitos kecantikan luar biasa harus dipikul perempuan. Banyak waktu, usaha, dan uang yang harus dikeluarkan perempuan untuk mempercantik penampilannya. Sementara tidak ada tuntutan demikian untuk laki-laki. Betul nggak, girls? Standar kecantikan tidak mungkin dicapai perempuan, karena selalu berubah. Terkadang standar kecantikan bersifat sangat kaku, terbatas, dan mustahil diraih mayoritas perempuan biasa. Misalnya bentuk tubuh fashionable, kurus, langsing, putih, tinggi, atau padat berisi. Sementara perempuan dengan bentuk tubuh berbeda tidak pernah dinilai fashionable, dan beresiko mengalami rendah diri, depresi, dan sebagainya.

Media ikut bertanggungjawab dalam hal ini. Industri fashion memaksa para perempuan untuk melawan sifat alami tubuh mereka untuk melakukan bedah kosmetik, menekan tubuh mereka dengan pakaian rok ketat atau menonjolkan keseksian tubuh, membuat pincang kaki dengan sepatu hak tinggi, menahan perut untuk lapar atas nama diet. Sungguh tragis, girls!

Girls, perlu dicatat pula, Asosiasi Anorexia dan Bulimia Amerika menyatakan penyakit anorexia dan bulimia menyerang satu juta perempuan setiap tahunnya. Setiap tahun, 150 ribu perempuan Amerika mati karena penyakit Anorexia. Penyakit ini juga sebagai penyebab kematian nomor satu di antara penyakit jiwa yang melanda Amerika. Tubuh perempuan telah menjadi milik publik, bukan milik pribadi lagi. Sikap ini bertentangan dengan Islam yang menilai dan menghargai seseorang berdasarkan tingkat ketakwaannya.

Inilah yang dicapai oleh feminisme. Bukannya menentang dominasi laki-laki, justru menuntut perempuan tampil sensual dan menyenangkan kaum laki-laki. Tidaklah mengherankan jika gerakan feminis di sana mendapatkan dukungan paling besar dari perusahaan-perusahaan kapitalis melalui donasinya dan laki-laki “play boy”.

Berbagai tuntutan ini telah menghancurkan perempuan, baik secara moral, psikis, maupun spiritual. Girls, kita harus membebaskan diri dari tuntutan ini. Untuk meraih kebebasan bukanlah lobi-lobi atau undang-undang pemerintahan yang dibutuhkan. Namun yang harus kita lakukan, kembali pada suatu pemikiran yang membebaskan perempuan dari tirani fashion dan tokoh-tokoh idola.

Pemikiran yang menghargai perempuan dari sisi kepribadiannya dan menilai mereka dari sifat-sifatnya, bukan dari sisi kecantikan fisik atau simpanan hartanya. Pemikiran yang mengembalikan identitas pribadi dan martabat perempuan. Pemikiran seperti itu hanya ditemukan di dalam Islam. Melalui busana muslimah, kesederhanaan, kesahajaan, dan kesopanan, perempuan Islam merasakan kebebasan sejati. Eksistensinya dihargai dan dihormati karena kualitas dirinya semata. Inilah salah satu alasan, perempuan-perempuan muda Barat terdidik, perlahan namun pasti mulai menyadari dan merasa tertarik dengan kebenaran ajaran Islam.

Wallahu a'lam bishshawab.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aris Solikhah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Aw Windarti | Guru
Allahu Akbar!!! KSC itu media penyejuk jiwa-jiwa yang gersang.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1061 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels