|
QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
|
|
|
http://vienmuhadi.wordpress.com |





Kamis, 29 Oktober 2009 pukul 20:50 WIB
Penulis : Sylvia Nurhadi
Siapakah mereka itu? Ibu-ibu kitakah, para istri, anak-anak perempuan kita, kakak-kakak kita, adik-adik kita, atau teman-teman perempuan kitakah? Semuanya bisa jadi, akan tetapi perempuan yang bagaimanakah mereka itu? Biasanya bila orang menyebut kata perempuan, maka yang ada di benak dan langsung terbayang adalah sebuah sosok rapuh, sosok lemah, sosok yang mempunyai perasaan amat peka dan sensitif atas segala sesuatu, yang mudah dipermainkan oleh perasaan takut dan khawatir, serta yang tak jarang pula dianggap remeh oleh lawan jenisnya, yaitu kaum lelaki. Tetapi benarkah semua itu?
Bila demikian, marilah kita bayangkan sejenak ibu-ibu kita, ibu yang telah melahirkan kita ke dunia ini yang hanya dengan perantaraannyalah Sang Maha Pencipta mempercayakan kelahiran seorang manusia, semua manusia, kecuali tentu saja manusia pertama yang langsung diciptakanNya dengan ‘Kun Fayakun’, maka jadilah ia. Untuk sementara, sisihkan dahulu bayangan ibu yang telah beranjak senja. Bayangkanlah ibu ketika beliau masih muda, ketika beliau mengandung dan harus menanggung beban dalam rahimnya selama lebih-kurang 9 bulan, dan kemudian bayangkanlah perjuangannya untuk melahirkan anak-anaknya. Kemudian disusuinya selama 2 tahun, dipelihara, dididik, dan dibesarkannya dengan penuh kesabaran dan kasih-sayang tanpa mengharap imbalan sedikit pun. Ibu yang tak mengenal lelah, siang dan malam bekerja di rumah demi menjaga keutuhan keluarganya. Bahkan tak jarang pula ibu yang terpaksa bekerja keras di luar rumah membanting tulang untuk membantu sang suami mencari nafkah. Maka mungkinkah kita katakan bahwa mereka itu mahluk yang lemah?
Maka untuk itu pulalah, sebagai imbalan atas jerih payahnya, Allah berfirman, “Dan telah Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu-lah kembalimu.” (QS. Luqman [31] : 14).
Perempuan tangguh juga adalah mereka yang berpendirian teguh, yang kuat tekadnya untuk mempertahankan keyakinan dan agamanya. Ia tidak mudah terpengaruh oleh apa pun dan siapa pun walau lingkungan di sekitar menentangnya. Perempuan yang mau dan mampu menggunakan akalnya untuk berpikir apakah hakekat hidup ini, apakah tujuan hidup ini, mengapa ia hidup, siapa yang menghidupkannya, kepada apa dan siapa ia harus mempertanggungjawabkan hidup ini. Yang kemudian untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, ia mau mencari jawabnya. Perempuan yang dengan penuh keridhaannya mau menerima ketetapanNya secara kaffah, tidak memilah-milah dan memisah-misahkan ayat-ayat mana yang disukainya dan mana yang tidak disukainya. Semua diyakininya.
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah [ 2] : 208).
Mereka yang mau berpikir, mengapa hanya kaumnya saja yang diberi kemampuan untuk melahirkan dan yang kemudian dapat menerima kodratnya sebagai perempuan. Maka dengan demikian ia tahu persis apa yang menjadi hak dan tanggungjawabnya sebagai perempuan, sebagai istri, sebagai ibu, maupun sebagai anak perempuan. Sebagai istri misalnya, ia akan berani mengingatkan sang suami untuk terus berada di jalan yang benar, tetapi di lain pihak tetap dapat menghormatinya sebagai kepala keluarga.
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh(mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka ta’at kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”. (QS. At-Taubah [ 9] : 71).
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisaa’ [4] : 34).
“Para ibu hendaklah menyusukan anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf." (QS. Al-Baqarah [2] : 233).
Rasullullah SAW bersabda, “Dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, dinar yang kamu nafkahkan untuk budak, dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin, dan dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu. "Yang lebih besar pahalanya adalah yang kamu nafkahkan kepada keluargamu."
Perempuan-perempuan seperti inilah yang kelak akan mencetak manusia-manusia berkualitas, manusia-manusia bermoral yang akan mampu memimpin sebuah bangsa besar. Mereka itu bagaikan bibit unggul yang akan menghasilkan benih-benih yang unggul pula. Rasullullah bersabda, “Pilihlah untuk benih-benih kalian, karena sesungguhnya keturunan itu direncanakan." Karena sesungguhnya perkawinan bukanlah sekedar pemenuhan keinginan biologis dan penyaluran dorongan hawa nafsu semata, akan tetapi jauh lebih mulia. Rasullullah juga menambahkan, ”Barangsiapa ingin bertemu dengan Allah dalam keadaan suci dan mensucikan, maka hendaklah ia mengawini wanita yang menjaga kehormatannya."
Allah berfirman, “Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karuniaNya." (QS. An-Nuur [24] : 33).
Tampaknya pepatah yang berbunyi, “Maju-mundurnya sebuah bangsa tergantung kaum perempuannya,” ataupun “Surga di bawah telapak kaki ibu,” tidaklah keliru.
Selain itu, karena kehidupan dunia adalah bagaikan ladang untuk mencari amal-shaleh yang kemudian hasilnya akan dibawa kelak ke akhirat, maka perempuan-perempuan tangguh adalah juga mereka yang mau menuntut ilmu yang bermanfaat dan yang kemudian diamalkannya untuk kebaikan umat. Rasullulah menegaskan, tiga hal yang tidak terputus pahalanya dan terus mengalir bagi manusia walaupun ia telah tiada, yaitu amal shalehnya, ilmunya yang terus diamalkan untuk kebaikan umat, dan do'a anak yang shaleh.
Allah berfirman, ”Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.” (QS. An-Nisaa’ [4] : 124).
Ada banyak perempuan tangguh yang patut dijadikan suri teladan, empat di antaranya adalah :
1. Siti Khadijah RA, istri Rasullullah SAW, Ummul Mukminin. Beliau adalah seorang perempuan kaya raya bangsa Quraisy yang termasuk elit masyarakat Arab saat itu. Beliau adalah seorang perempuan yang cerdas yang menguasai ilmu perniagaan dengan sangat baik. Beliau adalah seorang saudagar perempuan yang sukses, sangat dihormati, dan amat dikenal. Beliaulah orang yang pertama beriman dan langsung mempercayai kerasulan Muhammad SAW disaat yang lain masih mengingkari dan mencemoohnya. Bahkan jauh sebelum kerasulan, beliau telah amat menghormati suaminya itu walaupun usia Rasulullah jauh lebih muda dari beliau sendiri. Beliau rela mengorbankan jiwa dan hartanya untuk dakwah Rasullullah.
2. Siti Maryam, ibunda Isa AS. Beliaulah satu-satunya perempuan di dunia ini yang atas kehendak dan mukzizatNya mengandung tanpa sedikit pun sentuhan lelaki. Beliau adalah seorang putri keluarga Imran, keluarga yang amat shaleh. Ketika ibunya dikabarkan akan melahirkan seorang bayi padahal usianya telah amat tua, maka beliau dinazarkan untuk menjadi hamba yang shaleh dan berkhidmat di Baitul Maqdis. Beliau dibesarkan di bawah pemeliharaan Zakaria AS. Beliau menerima cobaan Allah untuk mengandung bayinya itu dengan pasrah dan berserah diri.
3. Asiya, istri Firaun. Beliau adalah istri Firaun, seorang raja Mesir yang menganggap dirinya Tuhan, seorang yang amat mengingkari Tuhannya. Walaupun Asiya berada di bawah kekuasaan suami yang dzalim, ia tetap bertahan menjadi hamba Allah yang shalehah.
4. Sumayyah, seorang budak. Bersama suami dan anaknya, Ammar, beliau termasuk orang-orang awal yang beriman dan mengakui kerasulan Muhammad SAW. Beliau adalah perempuan yang berasal dari keluarga miskin. Beliau dan keluarganya disiksa oleh kaum musyrikin Mekkah saat itu karena mempertahankan keimanannya tersebut. Beliau akhirnya ditikam bagian bawah perutnya dengan tombak oleh Abu Jahal hingga rahimnya koyak dan tewas saat itu juga. Beliaulah orang pertama yang mati syahid dalam Islam.
Keempat perempuan shalehah ini telah dijanjikan masuk surga sebagai imbalan atas ketakwaan mereka.
Wallahu a'lam.
http://vienmuhadi.wordpress.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sylvia Nurhadi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.