HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
Alamat Akun
http://iffalathifah.kotasantri.com
Bergabung
7 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Banjarmasin - Kalimantan selatan
Pekerjaan
Pendidik
Tulisan Iffa Lainnya
Sebuah Pilihan
29 September 2009 pukul 18:00 WIB
Goresan Sekeping Hati
21 Mei 2009 pukul 17:22 WIB
Pelangi
Pelangi » Muslimah

Kamis, 8 Oktober 2009 pukul 19:25 WIB

Memposisikan Kodrat

Penulis : Iffa Lathifah

Perempuan, bukanlah sekedar pemuas nafsu seksual laki-laki. Perempuan memiliki arti yang lebih luhur sebagai pendamping hidup. Citra perempuan menjadi bayangan indah suatu kelembutan dan kasih sayang, karena perempuan menjadi payung peneduh jiwa. Cinta perempuan bisa menjadi inspirasi berharga bagi diri seorang laki-laki. Betapa kesucian bagi seorang perempuan memiliki makna yang agung, menjadi identitas suci dalam diri, menjadi tahta mulia dalam jiwa. Kesucian memiliki nilai sakral bagi diri perempuan.

Islam diturunkan sebagai pembawa rahmat ke seluruh alam, termasuk kaum perempuan. Nilai-nilai fundamental yang mendasari ajaran Islam seperti perdamaian, pembebasan, dan egalitarianisme termasuk persamaan derajat antara lelaki dan perempuan banyak tercermin dalam ayat-ayat Al-Qur'an. Kisah-kisah tentang peran penting kaum perempuan di zaman Rasulullah SAW seperti Siti Khadijah, Siti Aisyah, dan lain-lain telah banyak ditulis. Begitu pula tentang sikap beliau yang menghormati kaum perempuan dan memperlakukannya sebagai mitra dalam perjuangan.

Namun dalam kenyataan, dewasa ini dijumpai kesenjangan antara ajaran Islam yang mulia tersebut dengan kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari. Khusus tentang kesederajatan antara laki-laki dan perempuan, masih banyak tantangan dijumpai dalam merealisasikan ajaran ini, bahkan di tengah masyarakat Islam sekalipun. Kaum perempuan masih tertinggal dalam banyak hal dari mitra lelaki mereka. Dengan mengkaji data dan mencermati fakta yang menyangkut kaum perempuan seperti tingkat pendidikan, derajat kesehatan, partisipasi mereka dalam mengambil keputusan, tindak kekerasan terhadap perempuan, pelecehan seksual dan perkosaan, eksploitasi terhadap tenaga kerja wanita, dan sebagainya, kita dapat menyimpulkan betapa masih memprihatinkannya status kaum perempuan.

Perjuangan untuk mencapai kesederajatan dengan kaum lelaki sebagaimana diajarkan Al-Qur'an masih panjang dan memerlukan dukungan dari semua pihak, termasuk kaum lelaki. Bagaimana pun juga, masalah perempuan adalah masalah kemanusiaan, termasuk di dalamnya kaum lelaki. Sebagaimana disebut dalam Al-Qur'an, lelaki dan perempuan itu saling menolong, saling memuliakan, dan saling melengkapi. Kitab suci Al-Qur'an mengingatkan dalam surah Annisa (4 : 32), "Janganlah iri hati terhadap keistimewaan yang dianugerahkan Allah terhadap sebagian kamu atas sebagian yang lain, lelaki mempunyai hak atas apa yang diusahakan. Ayat ini mengisyaratkan perbedaan dan bahwa masing-masing memiliki keistimewaan walau tidak menjelaskan apa keistimewaan dan perbedaan itu."

Al-Qur'an tidak mengajarkan diskriminasi antara laki-laki dan perempuan sebagai manusia. Di hadapan Tuhan, laki-laki dan perempuan mempunyai derajat yang sama. Namun masalah terletak pada implementasi atau operasionalisasi ajaran tersebut banyak faktor, seperti lingkungan budaya dan tradisi yang patriarkat sistem (termasuk sistem ekonomi dan politik) serta sikap individual yang menentukan status perempuan dan ketimpangan gender tersebut.

Dalam kondisi ini, yang perlu dilakukan adalah pemberdayaan terhadap kaum perempuan serta penyadaran akan hak dan status mereka yang Islami. Penyadaran juga perlu dilakukan terhadap kaum lelaki, sehingga pengistimewaan yang mereka nikmati karena kultur patriarkat dapat dikurangi. Kesejajaran akan tercapai jika perempuan di satu sisi meningkatkan kemampuannya dan lelaki di satu sisi mengurangi tuntutan akan pengistimewaan tersebut.

Diri perempuan memiliki keunikan tersendiri, banyak lika-liku kepribadian yang sulit dipahami, ada lorong-lorong rahasia dalam kepribadian perempuan yang tersembunyi dan tak terungkap, karena Allah Ta’ala menciptakan perempuan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Secara naluriah perempuan sudah dilengkapi perasaan dan emosi yang sangat berbeda dengan laki-laki.

Perempuan tulus dalam perilaku dan perbuatan akan tercermin dalam aura wajahnya yang mengandung pesona luar biasa yang sanggup mengharu biru hati laki-laki, namun perempuan dalam kedudukannya sebagai manusia ciptaan Ilahi, tidak membuatnya lebih tinggi atau lebih rendah dari kaum laki-laki.

Memahami diri perempuan tidaklah sulit, namun tidak gampang menaklukkan hatinya. Karena perempuan dianugerahi sifat-sifat azali yang membuatnya berbeda dalam sikap dan kepribadian dengan laki-laki. Walau dalam kedudukannya perempuan tidak lebih tinggi atau lebih rendah derajatnya dari kaum laki-laki, namun di mata Allah Ta’ala perempuan akan mendapat kemuliaan jika ia memiliki :
1. keteguhan iman, menjadikan Allah satu-satunya Rabb dan Hanya Allah tempat kembalinya,
2. menjadi istri yang taat dan patuh pada suami,
3. menjaga kesucian dirinya sebagai perempuan muslimah.
Adalah suatu kesalahan besar jika perempuan modern tak pernah menjadikan perempuan-perempuan mulia yang hadir dalam peradaban Islam seperti Khadijah RA, Fatimah RA, Aisyah RA, dan Maryam sebagai panutan.

Sebagai muslimah, sudah sepatutnya dalam era modern ini kita waspada dalam menyikapi banyak paham dan budaya. Hal ini sedikit banyaknya akan berpengaruh pada pendidikan dan akhlaq generasi muda kita. Ingat, di tangan perempuanlah kelangsungan sebuah generasi. Jadi peran perempuan sebagai pembimbing generasi berada dalam posisi sentral yang sangat signifikan dalam menentukan maju mundurnya generasi bangsa.

Saat ini, identitas perempuan muslimah sudah semakin luntur. Hal ini disebabkan oleh karena pengaruh modernisasi barat yang kian tidak terbendung lagi, sehingga banyak perempuan yang meninggalkan jati dirinya karena terhipnotis oleh obsesi kebebasan sebagaimana yang terjadi di Barat.

Jati diri seorang perempuan bukan semacam benda yang dapat diperjualbelikan, karena hakekatnya jati diri adalah bagian dari kepribadian yang dimiliki seseorang dengan semua karekteristiknya. Perempuan yang sadar siapa dirinya, tentu akan sadar pula dengan kepribadiannya, sehingga perempuan tak akan membiarkan hidupnya berlangsung dengan tanpa tujuan.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Iffa Lathifah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ida Jubaidah | Guru
Terima kasih sudah diundang untuk memasuki KotaSantri.com. Blom apa-apa juga, perasaan mah udah betah.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1197 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels