|
QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
"
|
|
mujahidah.qonitat |
|
|
jilbab_is_good |
|
jilbab_is_good@yahoo.com |
|
http://twitter.com/am_meeta |


Kamis, 14 Mei 2009 pukul 20:32 WIB
Penulis : Yuli Harmita
Jika kita memperbandingkan lingkungan hidup Islam dengan Barat, akan dapat kita saksikan suatu kerumunan di sekitar wanita yang hanya terjadi pada kemerekahan dalam kecantikan wajahnya. Disaat itu dia diperebutkan, dimanja, dan diberi kedudukan yang menarik serta menggiurkan. Namun setelah masa memoles keputihan rambutnya, dengan goresan kerut wajah semakin mendalam yang beriring dengan kepudaran daya tariknya, maka bergeserlah fungsi sang primadona menjadi pelengkap kebutuhan dapur.
Di sekitarnya kini, sudah tidak ditemukan orang yang memperhatikan lagi, bahkan putra-putrinya pun tidak menyayanginya. Mereka selama ini memandangnya sebagai hiasan belaka, setelah kesegaran dan kecantikannya memudar, maka usailah semuanya. Sang anak pun tidak memperdulikannya lagi, bahkan tidak tahu bagaimana cara hidupnya kini, mungkin ia pergi ke panti jompo untuk mengakhiri masa hidupnya di sana. Mengapa terjadi?
Masa-masa usia muda belia, ia terayu bisikan setan yang menasihatkan, "Manfaatkan masa remajamu demi kesenangan diri sendiri," dan kepada anak-anaknya pun diserukan, "Belajar dan berusaha mandiri." Sang anak tidak berkesempatan mendapat belaian kasih dan rindu ibu. Mereka hidup dalam krisis kasih sayang, maka wajarlah kalau mereka menyelenggarakan "hari ibu" setahun sekali yang mempertemukan ibu dan putranya untuk mempertautkan hati dalam kegersangan dan kebekuan.
Di dalam masyarakat Islam tidak mengenal hari ibu, di sini kita menyelenggarakan hari ibu setiap saat. Pada waktu ibu sudah tua, dengan ditandai oleh rambutnya yang memutih, justru pada saat inilah kecantikannya semakin mempesona, jasanya semakin agung, kewibawaannya pun semakin menjulang.
Sang anak memanjakannya, dengan penuh rasa kasih sayang dan dikatakan kepada ibunya, "Ibu kini tidak usah bekerja, cukup shalat, berdo'a pada Allah untuk kesejahteraan keluarga." Segenap keluarga mengharap do'a dan ridhanya, ia ditempatkan sebagai sesepuh yang diagungkan dalam rumah tangga. Islam mendidik umatnya untuk mencintai, menghormati, dan mengagungkan ibunya.
Berbeda dengan wanita barat yang menuntut diadakannya hari ibu, untuk mengingatkan anak-anaknya bahwa mereka masih punya ibu, dan bahwa sang ibu membutuhkan hadiah dan kado dari anak cucunya. Sedang dalam Islam, hari ibu terjadi setiap saat dan sepanjang hayat.
Kita dengan segenap anggota keluarga baru ke luar rumah setelah mencium tangan ibu dan meminta do'anya. Setiap saat kita bersimpuh di hadapanNya, memohonkan panjang usianya kepada Allah SWT. Semakin bertambah putih rambutnya, bertambah pula rasa cinta, rindu, dan penghargaan kepadanya.
Itulah kedudukan kaum wanita dalam masyarakat Islam, dan demikianlah pandangan kita terhadap kaum wanita menurut ajaran agama Islam. Ingat, syurga itu ada di bawah telapak kaki ibu. Maka sayangilah ibu yang telah melahirkan kita.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Yuli Harmita sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.