Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
Alamat Akun
http://permata.kotasantri.com
Bergabung
1 Maret 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
sigli - nanggroe aceh darussalam
Pekerjaan
ibu rumah tangga
http://ridhakemuning.blogspot.com
ridhakemuning
Tulisan Nurfaridah Lainnya
Bapak Hilang Ditelan Hujan
16 Oktober 2011 pukul 12:30 WIB
Gejolak
12 September 2011 pukul 12:00 WIB
Yang Pernah Hilang
4 September 2011 pukul 11:00 WIB
Jangan Abaikan Hal yang Sepele
23 Agustus 2011 pukul 13:55 WIB
Hak Allah itu Nyata
16 Agustus 2011 pukul 09:55 WIB
Pelangi
Pelangi » Muslimah

Kamis, 2 April 2009 pukul 20:05 WIB

Jilbabku Hari Ini

Penulis : Nurfaridah

Sekali lagi, kupandangi penampilanku yang baru. Perasaan senang, bangga, sesal, muncul satu persatu di lubuk hati ini. Entahlah, semua tampak lebih sempurna. Memang, jilbab bukanlah hal baru dalam hidupku, tapi kenyataan hari ini telah membuka mataku bahwa inilah sebenarnya busana muslimah sejati. Jilbab yang lebar menutup dada, baju longgar, hingga paduan rok yang longgar pula mampu menjadikan seorang mahluk yang bernama perempuan lebih bermartabat dan menawan tanpa harus pamer kemolekan tubuhnya.

Sekali lagi, aku kagum dengan diriku. "Kenapa nggak dari dulu-dulu ya kamu kayak gini?" Pertanyaan itu kulontarkan pada bayanganku di cermin. Dengan tekad yang bulat dan niat yang kuat, seolah aku ingin mengatakan pada semua, bahwa mulai hari ini aku ingin menjadi muslimah yang senantiasa menjaga dirinya.

Hari ini, teman-teman mengadakan acara makan bersama, aku pun hadir dalam acara itu, karena aku adalah bagian dari gank mereka, meski di antara kami hanya aku dan seorang temenku yang menggunakan jilbab. Namun, jilbab itu tak ubahnya hanya kain penutup kepala, bukan penutup aurat. Layaknya remaja muslim kebanyakan yang suka mengikuti tren jilbab terbaru.

Kenangan semasa di sekolah menengah memang sulit untuk dilupakan. Begitu indah. Tapi bagiku, itu tidak berlangsung lama, karena jika aku terkenang masa itu, hanya membuat aku merasa tersudut sebagai muslimah remaja yang sekolah di madrasah, namun tak mengerti apa makna dari jilbab itu sendiri. Malu rasanya mengenang masa-masa itu, dimana aku dan teman-teman pria bebas bermain bersama tanpa ada batas. Padahal kami sudah baligh dan sudah sepatutnya menjaga diri dari melakukan hal-hal yang sia-sia.

Tidak hanya itu, setelah aku lulus madrasah, serta merta kedua orangtuaku berniat memasukkan aku ke pesantren. Tidak lain hanyalah mereka ingin agar aku tidak bergaul bebas dan dapat menambah pengetahuanku tentang agama Islam. Agama yang sudah kuanut dari kecil. Tapi lagi-lagi, aku masih suka bergaul dengan teman-teman pria dibanding bergaul dengan teman-teman wanita disaat-saat liburan pesantren. Lagi-lagi aku masih suka memasang jilbab dengan melilitkannya di leherku. Namun meskipun begitu, aku telah istiqamah dalam memakai jilbab.

Alhamdulillah. Allah telah memberikanku teman hidup (suami) yang selalu mengingatkan aku untuk memakai jilbab yang benar-benar menutup aurat. Sejak itulah, aku mulai sadar akan fungsi jilbab yang sebenarnya, yakni penutup aurat, bukan sekedar penutup kepala. Kini, aku sering membuka kembali buku-buku atau apa pun yang berkaitan dengan indahnya menjalani kehidupan yang Islami.

Saat inilah, aku dapat merasakan, ternyata menggunakan pakaian yang sesuai syari'at itu sangat nyaman dan menyenangkan, bahkan sangat risih ketika melihat gadis-gadis remaja yang memakai jilbab tapi pakaian mereka ketat dan mengundang syahwat. Wahai teman-teman muslimah, mari kita senantiasa menjadikan jilbab sebagai penutup diri sekaligus penutup hati untuk menuju keridhaan Illahi Rabbi.

http://ridhakemuning.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nurfaridah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Anna | Staff UPT Laboratorium
Subhanallah... KotaSantri.com isinya bagus, menarik, dan yang pasti banyak artikel-artikel yang menambah ilmu dan pengalaman.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1017 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels