Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
Alamat Akun
http://muhammadrizqon.kotasantri.com
Bergabung
9 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bekasi - Jawa Barat
Pekerjaan
Konsultan
http://muhammadrizqon.multiply.com
rizqon.ak@gmail.com
Tulisan Muhammad Lainnya
Selipkan Sebaris Do'a untuk Palestina
6 Februari 2009 pukul 03:20 WIB
Semangat Hijrah untuk Pembebasan
5 Februari 2009 pukul 05:22 WIB
Pelangi
Pelangi » Muslimah

Ahad, 8 Februari 2009 pukul 05:22 WIB

Antusiasme Muslimah dalam Belajar Baca Al-Qur'an

Penulis : Muhammad Rizqon

Rutinitas kerja dan kesibukan dunia yang tiada habisnya, sering menjadi penyebab dari hati yang kering, meranggas, dan gersang dari sumber mata air iman yang menyejukkan. Ibarat kafilah yang melintas di padang pasir dengan muatan harta yang berlimpah, ia menjadi tidak bernilai tatkala kehausan (dehidrasi) memenuhi sekujur raganya. Setetes air, yang tatkala dalam kondisi wajar harganya tiada seberapa, menjadi bernilai luar biasa dalam kondisi jiwa yang dirundung kegersangan tiada tara.

Itulah fithrah dari orang-orang beriman, yang senantiasa mendamba nilai-nilai yang mampu menyuburkan keimanannya. Itu pula yang dirasakan sekelompok muslimah yang bekerja sebagai karyawati atau eksekutif di salah satu gedung perkantoran kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Di tengah kondisi berkecukupan karena manfaat (benefit) dari status karier yang dimilikinya, hati mereka sebenarnya tidak sepenuhnya tercukupi kebutuhannya. Jiwa mereka dahaga. Mereka mendamba keluasan hati laksana samudera, kesejukan jiwa laksana embun di pagi hari, dan kedamaian laksana bunyi debur ombak yang menenteramkan jiwa.

Sebagai anggota komunitas yang menghuni kawasan perkantoran modern, para muslimah itu tidak ketinggalan informasi aktual, khususnya menyangkut informasi keislaman dan keimanan, baik berupa taujih, tausyiah, perenungan, tafakkur, atau kisah-kisah singkat yang sarat pesan dan inspirasi tentang bagaimana seharusnya mengelola kehidupan menuju ridhaNya. Namun semua itu rasanya tiada cukup manakala mereka belum berinteraksi dan bersentuhan langsung dengan sumber penawar dahaga keimanan, yaitu Al-Qur'an.

Sudah masyhur di tengah perbincangan mereka bahwa bagi yang membaca Al-Qur'an, maka satu huruf yang dibacanya berbalas dengan sepuluh kebaikan. Dan bukanlah "Alif Lam Mim" itu satu huruf, akan tetapi "Alif" satu huruf, "Lam" satu huruf, dan "Mim" satu huruf. Luar biasa, dengan membaca "Alif Lam Mim" saja, pembaca Al-Qur'an sudah mendapatkan tiga puluh kebaikan. Subhanallah. Ketakjuban terasa memenuhi relung jiwa mereka. Ini baru membaca saja. Apatah lagi jika memahami isinya dan apatah lagi jika ayat-ayat itu diamalkan dalam kehidupan nyata. Tentu, pribadi-pribadi yang dihiasi dengan nilai Al-Qur'an akan memancarkan kedamaian dan kesejukan yang luar biasa. Jiwanya penuh kebaikan. Dan kebaikan itu tidak melahirkan apa pun selain kebaikan yang berlipat.

Sungguh indah gambaran seorang pembaca Al-Qur'an, pohonnya bagus dan buahnya wangi. Itu adalah balasan Allah di dunia. Dan di akhirat, Al-Qur'an akan memberikan syafa'at bagi pembacanya, sehingga ia terhindar dari jilatan api neraka yang menyala-nyala. Sekelompok muslimah itu jelas tersentuh mendengar kabar gembira ini, dan motivasi untuk segera mewujudkannya semakin membesar dan menggelora di dada.

Akhirnya, mereka pun menempuh beberapa cara. Langkah pertama yang dilakukan mereka adalah menghubungi guru tahsin Al-Qur'an di kawasan Bekasi. Mereka mengemukakan hasrat keinginan belajar baca Al-Qur'an kepada seorang guru dari sana. Ada sedikit kegamangan dari para guru untuk memenuhi keinginan sekelompok muslimah di gedung perkantoran itu karena lokasinya yang cukup jauh. Bagi guru muslimah yang harus memfokuskan diri pada tugas-tugas kerumahtanggaan, hadir ke lokasi yang jauh cukup terasa memberatkan. Tidak sekedar dibutuhkan waktu dan energi yang cukup besar yang boleh jadi tidak sebanding dengan honor yang akan diterima, guru muslimah itu boleh jadi lebih nyaman mengajar di lingkungan sekitar tempat tinggalnya, sehingga masih bisa memantau keadaan anak-anak yang diasuhnya.

Syukurlah, ada seorang guru yang menaruh perhatian kepada mereka. Dialah Ustadzah Aisyah. Bagi sang guru itu, keinginan belajar dari sekelompok muslimah di perkantoran itu ibarat benih yang harus dipelihara dan disediakan media pertumbuhannya. Alangkah sayangnya jika benih itu dibiarkan mati sebelum ditanam. Dakwah yang sejatinya adalah menumbuhsuburkan kebaikan, baik pada diri sendiri maupun orang lain, memang membutuhkan pengorbanan yang tiada kecil dari para pelakunya.

Langkah kedua, setelah mereka mengetahui bahwa keinginan mereka bakal terwujud, mereka segera berkoordinasi menyediakan waktu luang dan menyediakan tempat yang memadai untuk belajar baca Al-Qur'an. Mereka berpatungan untuk mendukung operasional kegiatan. Layaknya organisasi, mereka membentuk ketua, bendahara, dan sekretaris. Pengetahuan organisasi yang mereka miliki, mereka terapkan guna kelancaran dan keberhasilan proses belajar dan mengajar.

***

Tidak semua upaya yang dilakukan oleh beberapa kelompok muslimah untuk menghadirkan guru tahsin menemukan kemudahannya. Bagi sekelompok muslimah di perkantoran itu, bisa mendatangkan seorang guru untuk hadir ke kantor menyambangi mereka adalah satu hal yang patut disyukuri. Pertama, pertimbangannya tentu karena untuk datang sendiri-sendiri ke lembaga tahsin pada hari Sabtu atau Ahad, bagi mereka adalah suatu pekerjaan yang teramat berat karena mereka merasa harus siaga di rumah mendampingi suami dan anak-anak, sebagai kompensasi ketidakhadiran mereka pada hari-hari lainnya akibat bekerja di kantor.

Kedua, mereka menemukan guru yang mau membimbing mereka karena dorongan kecintaan untuk menyebarkan nilai-nilai Al-Qur'an. Meski dirasakan cukup berat, sang guru itu berkomitmen melangkahkan kaki ke gedung perkantoran guna mengajari ibu-ibu dan para muslimah yang dahaga dengan bacaan Al-Qur'an. Kadang untuk pergi ke sana, sang guru tidak segan menumpang taksi untuk mengejar ketepatan waktu pembelajaran. Terkadang pula, sang guru harus berhimpit-himpitan beberapa kali naik moda transportasi, menahan lelah akibat mengurus anak-anak sebelumnya, dan berjuang melawan asap rokok dan debu-debu yang beterbangan di sekelilingnya. Ya, kondisi badannya memang rentan. Tetapi kecintaan kepada ibu-ibu dan kaum muslimah yang mendamba oase iman dari lautan kalam Ilahi itu, menjadikannya harus melupakan kondisi berat yang kadang dijumpainya.

Ketiga, mereka mendapatkan guru bukan sembarang guru. Tetapi guru dari lembaga tahsin terpercaya, yang telah memiliki kurikulum baku dalam pengajaran baca Al-Qur'annya.

Menyadari keberuntungan-keberuntungan itu, mereka pun berlatih dengan keras dan berdisiplin. Alhamdulillah, dalam jangka waktu tidak lama, mereka pun mampu membaca Al-Qur'an secara baik.

***

Sebagian besar ummat Islam saat ini, tidak dipungkiri, memiliki tingkat kedekatan yang rendah dengan Al-Qur'an. Jangankan berbicara masalah penerapan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan, pemahaman akan isi dan kandungan Al-Qur'an sebagian besar ummat Islam pun masih terasa sangat kurang. Terbukti makin merebaknya aliran-aliran sesat yang menyusup di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Terlepas apakah merebaknya aliran sesat itu adalah wujud konspirasi atau bukan, seharusnya fenomena-fenomena itu menyadarkan seorang muslim untuk lebih dekat kepada sumber agamanya. Salah satunya dengan belajar dan berlatih berinteraksi lebih dekat dengan Al-Qur'an, yang dimulai dengan interaksi dengan cara belajar membacanya.

Betapa banyak orang mengaku tidak bisa membaca Al-Qur'an, tetapi tidak banyak yang menindaklanjuti dengan membentuk kelas pengajaran seperti dilakukan oleh para muslimah di perkantoran itu. Betapa banyak orang yang mengaku dahaga dan jiwanya kering, tetapi mereka malah hanyut dengan lagu-lagu "ruhani", bukan berinteraksi sedekat-dekatnya dengan Al-Qur'an penyubur jiwa.

Tidak semua orang bisa peduli dengan Al-Qur'an, padahal Al-Qur'an adalah salah satu pusaka (selain Al-Hadits) yang mampu menyelamatkan kehidupan manusia, baik di dunia ini maupun sesudahnya, dari malapetaka dan marabahaya. Tidak semua orang bisa menghadirkan nilai-nilai Al-Qur'an di relung jiwa. Hanya mereka yang berhati bersih dan ikhlas sajalah yang mampu melakukannya.

Ada baiknya setiap hamba bertanya kepada diri masing-masing, "Sudah adakah Al-Qur'an dalam hatiku?" Ya, sebab jika bukan Al-Qur'an yang ada dalam hati, berarti ada nilai-nilai non-Qur'ani yang bersarang dan mendominasi jiwa, yang boleh jadi bukan menuntun, akan tetapi menyesatkan sang hamba dari jalan kebenaran.

Nampaknya, kita perlu belajar dari kaum muslimah dalam kisah tersebut yang berusaha memenuhi relung jiwanya dengan Al-Qur'an. Meski baru hendak belajar membacanya, hal Itu adalah awal mula yang sangat baik, sebab hanya dengan belajar, kesuksesan dunia atau akhirat pun bisa diraih dan dikejar.

Wallaahu a'lamu bishshawaab.

http://muhammadrizqon.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Rizqon sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Andree | Karyawan
Walaupun saya baru di KotaSantri.com, tapi saya sangat puas, karena penuh dengan ilmu agama, dan penggunaannya pun sederhana gak seperti yang lain, yang penuh dengan instruksi bahasa orang kafir, kasihan kan yang ingin ikut silaturrahmi tapi gak ngerti bahasanya seperti saya.
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0405 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels