Pelangi » Keluarga | Sabtu, 14 Desember 2013 pukul 21:00 WIB

Baiti Jannati

Penulis : Febrian Hadi Santoso

Setiap orang ingin masuk surga, namun tidak semua orang tahu jalan pintas menuju surga. Setiap orang tahu bahwa jannah itu artinya surga, namun tak semua orang sadar bahwa di rumah juga ada surga. Tersebab itu, nabi SAW berpesan, “baiti jannati”, rumahku adalah surgaku. Artinya, kita tak perlu jauh-jauh mencari surga, karena kita bisa mendapatkannya di rumah sendiri. Namun bodohnya, kita malah sibuk menggali surga yang jauh, tapi lupa menggali surga yang dekat.

Baiti jannati itu bukanlah rumah mewah yang penuh dengan gemerlap lampu, namun penghuni di dalamnya merasa gelap batinnya. Bukan pula rumah mewah yang luasnya menyamai lapangan golf, namun hati para penghuninya sempit bagai kuburan. Baiti jannati itu yang di rumahnya terdapat ketaatan dan keharmonisan hingga mendatangkan ketenangan antar anggota keluarga.

Dalam satu kesempatan; Ust. Ahmad Alhabsyi menyampaikan 3 hal kesalahan utama yang sering kita lakukan ketika mengejar surga di rumah :

1. Sibuk mencari surga yang jauh, namun melewatkan surga yang dekat.

Pada kesalahan pertama ini, sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari. Begitu semangat kita bersedekah, menyumbang saudara yang terkena bencana, hingga mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk menunaikan haji. Namun sering kali ada amalan-amalan penting yang justru kita lupakan, yang mana amalan-amalan itu ada di rumah kita sendiri. Seperti memuliakan orangtua contohnya.

2. Mampu menciptakan kebahagiaan di luar rumah, namun lupa menciptakan kebahagiaan di dalam rumah.

Untuk kesalahan kedua ini, kita putar lagi memori saat kita pertama kali mendapatkan gaji. Siapa yang kita traktir untuk berbagi? Teman-teman? Padahal mereka semua notabene adalah orang yang baru kita kenal. Namun kita lupa, ada yang jauh lebih berhak dari teman-teman kita, ialah keluarga kita, orangtua kita di rumah (meski terkadang tidak mau dengan alasan untuk disimpan saja).

“Kembalilah kepada orangtuamu dan buatlah keduanya tersenyum bahagia,” begitu ujar sang nabi. Demikianlah yang dimaksud bahwa di rumah juga ada kebahagiaan (surga). Tidak perlu jauh-jauh kita mencarinya, karena ia ada bersama kita di rumah.

3. Mampu membangun kemuliaan surga di luar rumah, namun tidak mampu membuat kemuliaan surga di rumah.

Kesalahan ketiga ini sering kita jumpai saat pengajian, seringkali kita temui orang-orang yang berebut menyalami dan menciumi tangan sang ustadz. Parahnya, tak sedikit para penggemar yang ingin bersalaman dengan artis-artis yang diidolakannya. Pertanyaan yang timbul adalah seberapa sering dari mereka yang di rumah berebutan menciumi tangan ayah-bundanya?

Inilah yang dimaksudkan oleh ust. Alhabsyi, bahwa mampu membangun kemuliaan di luar rumah, namun tidak mampu membuat kemuliaan surga di umah kita sendiri.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Allah telah menyediakan kita surga, bahkan di rumah kita sendiri. Tidak hanya orangtua, melainkan suami/istri atau nanak-anak dan saudara kita. Jelas, berbuat kebaikan di luar rumah bukan sebuah larangan, namun alangkah lebih sempurna bila ibadah kita diridhai orangtua sebagaimana sabda nabi bahwa “ridha Allah ada pada ridha orangtua”.

KotaSantri.com 2002-2022