Pelangi » Keluarga | Sabtu, 2 November 2013 pukul 21:21 WIB

Merasa Dianaktirikan

Penulis : Redaksi KSC

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, diceritakan tentang sahabat Rasulullah, Nu'man bin Basyir RA. Ayah Nu'man yaitu Basyir, membawanya menghadap Rasulullah SAW dan dia becerita padanya bahwa dia memberikan salah seorang budaknya untuk menjadi pelayan hanya kepada Nu'man, sedangkan anak-anaknya yang lain tidak mendapatkannya. Mendengar hal itu, Rasulullah menyuruhnya untuk membatalkan pemberian tersebut karena dianggap tidak adil.

Kemudian dalam riwayat lain dijelaskan, Rasulullah SAW bertanya kepada Basyir, "Apakah engkau senang jika mereka itu dalam berbuat baik kepada kamu semuanya sama?" Jawabnya, "Ya." Maka sabdanya, "Nah, begitu juga mereka."

Kasus semacam itu tidak terjadi pada zaman Rasulullah saja, jauh sebelumnya pada zaman Nabi Ya'qub pun terjadi. Anak-anak Nabi Ya'qub dari istri pertamanya yang berjumlah sepuluh orang menganggap bahwa perlakuan ayahnya sangat beda terhadap mereka. Mereka merasa bahwa perhatian dan kasih sayang ayahnya lebih besar tercurah pada Yusuf dan Benyamin, anak dari istri keduanya.

Penilaian terhadap perlakuan ayahnya diukur berdasarkan fitrah mereka sebagai anak, yaitu menuntut orangtua mereka untuk berlaku adil pada anak-anaknya. Anak-anak seringkali menuntut orangtua untuk memberikan kasih sayang yang sama. Mereka tidak mau jika diperlakukan beda. Tapi, masalah kasih sayang adalah masalah perasaan, sehingga seringkali orangtua tidak sejalan dengan keinginan anaknya.

Saat ini pun banyak terjadi peristiwa semacam itu. Seorang remaja melakukan 'curhat' pada temannya tentang perasaan 'dianaktirikan' dalam keluarganya. Dia menilai kecenderungan orangtuanya yang lebih mencintai anak tertentu itu adalah sebuah kekeliruan tatkala rasa cinta dan kasih sayangnya diwujudkan dalam bentuk perilaku dan materi.

Kecenderungan semacam itu akan menyebabkan hubungan antara orangtua dan anak menjadi tidak harmonis. Si anak memilih jauh dari orangtuanya dan mengambil aksi tutup mulut. Apa pun yang diinginkan orangtua akan dia lakukan jika itu dapat mengubah sikap mereka terhadapnya. Namun, jika itu tidak terjadi, banyak anak yang memilih untuk keluar dari rumah orangtuanya.

Tentunya hal itu tidak diinginkan para orangtua, karena mereka akan lebih mengkhawatirkan kondisi anaknya yang berada jauh dari pengawasan mereka. Oleh karena itu, diperlukan sebuah koreksi. Orangtua dan anak sama-sama belajar untuk bersikap objektif.

Keretakan hubungan orangtua-anak yang dialami oleh beberapa keluarga disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya si anak merasa dianaktirikan. Tapi, apakah hal itu betul-betul menjadi penyebab utama disharmonis dalam sebuah keluarga?

Islam mengoreksi ketidakadilan yang terjadi dalam sebuah keluarga. Orangtua mengharapkan anaknya untuk memuliakan mereka, dan begitu pun sebaliknya, anak pun menginginkan orangtuanya bersikap jujur dan adil dalam memperlakukan anak-anaknya.

Tentu saja tolok ukur adil ini akan sangat berbeda. Pada satu kesempatan, adil bisa diartikan perlakuan yang sama terhadap beberapa orang. Dan pada saat lain, tolok ukur itu tidak berlaku, karena belum tentu yang sama itu adil jika lebih cenderung pada kesesuaian pemenuhan kebutuhan.

Dalam hal ini, si anak juga perlu mengoreksi dirinya, apakah benar dia telah diperlakukan tidak adil oleh orangtuanya? Faktor apa yang menyebabkan orangtuanya lebih mencintai saudara?

Siapa pun orangnya, akan sangat tidak menyukai ketidakadilan itu terjadi padanya. Memang merupakan fitrah orangtua jika lebih menyayangi anak tertentu karena itu adalah sebuah perasaan. Pada saat perasaan itu tidak diwujudkan dalam perbedaan perilaku dan materi yang nyata, maka hal itu bukanlah suatu kesalahan. Dan sebaliknya, orangtua telah melakukan kesalahan saat kecenderungan itu diwujudkan dalam memperlakukan anak-anaknya secara tidak adil. Rasulullah SAW bersabda, "Takutlah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu!"

Tim MQP - RoL

KotaSantri.com 2002-2019