Pelangi » Keluarga | Sabtu, 12 Oktober 2013 pukul 19:19 WIB

7 Faktor Kehancuran Keluarga

Penulis : Mumtahah Annisa

Di dalam rumah tangga, selalu memiliki rintangan dan penyebab kehancuran. Dalam pandangan Psikofitrah, ada 7 penyebab kehancuran keluarga. Kehancuran keluarga di tengah masyarakat, berarti juga kehancuran satu bangsa, sebab keluarga adalah cermin dari satu bangsa.

1. Aqidah yang keliru atau sesat, misalnya mempercayai kekuatan dukun, magis, dan sebangsanya. Bimbingan dukun dan sebangsanya bukan saja membuat langkah hidup tidak rasionil, tetapi juga bisa menyesatkan pada bencana yang fatal.

2. Makanan yang tidak halalan thayyiban. Menurut hadits Nabi, sepotong daging dalam tubuh manusia yang berasal dari makanan haram, cenderung mendorong pada perbuatan yang haram juga. Semakna dengan makanan, juga rumah, mobil, pakaian, dan lain-lainnya.

3. Kemewahan. Menurut Al-Qur'an, kehancuran suatu bangsa dimulai dengan kecenderungan hidup mewah, mutrafin (QS. 17 : 16). Sebaliknya, kesederhanaan akan menjadi benteng kebenaran. Keluarga yang memiliki pola hidup mewah, mudah terjerumus pada keserakahan dan perilaku menyimpang yang ujungnya menghancurkan keindahan hidup berkeluarga.

4. Pergaulan yang tidak terjaga kesopanannya (dapat mendatangkan WIL dan PIL). Oleh karena itu, suami atau isteri harus menjauhi "berduaan" dengan yang bukan muhrim, sebab meskipun pada mulanya tidak ada maksud apa-apa atau bahkan bermaksud baik, tetapi suasana psikologis "berduaan" akan dapat menggiring pada perselingkuhan.

5. Kebodohan. Kebodohan ada yang bersifat matematis, logis, dan ada juga kebodohan sosial. Pertimbangan hidup tidak selamanya matematis dan logis, tetapi juga ada pertimbangan logika sosial dan matematika sosial.

6. Akhlak yang rendah. Akhlak adalah keadaan batin yang menjadi penggerak tingkah laku. Orang yang kualitas batinnya rendah mudah terjerumus pada perilaku rendah yang sangat merugikan.

7. Jauh dari agama. Agama adalah tuntunan hidup. Orang yang mematuhi agama meski tidak pandai, dijamin perjalanan hidupnya tidak menyimpang terlalu jauh dari rel kebenaran. Orang yang jauh dari agama mudah tertipu oleh sesuatu yang seakan-akan "menjanjikan" padahal palsu.

Dari Tulisan Agus Syafi'i

KotaSantri.com 2002-2022