HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
Alamat Akun
http://vit.kotasantri.com
Bergabung
2 Juni 2009 pukul 21:23 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Arsitek Jiwa
Seorang insan yang berusaha untuk menjadi lebih baik...
vtree_mq@yahoo.com
Tulisan Melody Lainnya
Mendidik Anak dengan Mendidik Diri
22 Juni 2013 pukul 10:00 WIB
Membangun Spiritualitas Anak
27 April 2013 pukul 23:25 WIB
Mendidik Anak
9 Maret 2013 pukul 14:00 WIB
Ungkapan Jujur Seorang Anak
5 Desember 2010 pukul 05:15 WIB
Hati-hati dengan Permainan Anak di Sekolah
13 November 2010 pukul 18:22 WIB
Pelangi
Pelangi » Keluarga

Sabtu, 3 Agustus 2013 pukul 22:00 WIB

Memberi Hadiah Lebaran pada Anak

Penulis : Melody Nada Surgawi

Ketika Lebaran tiba, apakah Anda adalah salah satu dari orangtua yang suka memberikan hadiah kepada anak? Ibu Yus, misalnya adalah ibu rumah tangga berusia 37 tahun yang punya dua anak lelaki berusia 7 dan 6 tahun. Sebelumnya, dia tidak pernah memberikan hadiah Lebaran kepada anak-anaknya. Namun demikian, ibu-ibu tetangga di sekitar rumahnya selalu bercerita bahwa adalah merupakan "kebiasaan" untuk memberikan hadiah Lebaran kepada anaknya.

Akibatnya, Ibu Yus sekarang kebingungan, apakah dia perlu memberikan hadiah Lebaran kepada anaknya yang masih kelas 1 dan 2 SD? Kalaupun diberikan, ia juga bingung hadiah apa yang akan ia berikan. Apakah baju, mainan, atau malah uang?

Perlukah Memberikan Hadiah Lebaran?

Kebiasaan pemberian hadiah Lebaran kepada anak sebetulnya bisa dipahami, mengingat orangtua biasanya mendapatkan THR (Tunjangan Hari Raya). THR itu, pada gilirannya lalu disisihkan pada orangtua dalam bentuk hadiah Lebaran. Entah itu berupa pemberian barang atau uang. Namun demikian, jangan lupa bahwa tidak semua orangtua mendapatkan THR, sehingga orangtua tidak selalu dalam kondisi keuangan yang memungkinkan untuk memberikan hadiah Lebaran.

Tapi bagi si anak, seringkali pemberian hadiah Lebaran itu memiliki akibat lain. Saya sendiri kebetulan juga merayakan Lebaran. Ketika masih kecil, saya ingat sekali bahwa orangtua saya pernah beberapa kali memberikan hadiah Lebaran. Sejak saat itu, bagi saya, Lebaran selalu identik dengan hadiah. Akhirnya, ketika suatu kali Lebaran tiba dan orangtua saya tidak memberikan hadiah, saya pun protes, "Mana hadiahnya?"

Kalau tak salah, saat itu saya kelas 6 SD. Saya tidak tahu kenapa mereka absen memberikan hadiah. Tapi yang mungkin tidak saya sadari, bisa saja waktu itu keadaan keuangan orangtua saya tidak begitu bagus. Tapi sejak orangtua saya tidak lagi memberi hadiah Lebaran, maka pada tahun-tahun berikutnya saya tidak lagi mengidentikkan Lebaran dengan adanya keharusan mendapatkan hadiah.

Saya menganggap bahwa Lebaran memang suatu hari yang harus dilewati tiap tahunnya. Dan hadiah hanyalah seperti pemberian bonus dari orangtua pada anak. Namanya bonus, tentu tidak dikasih juga tidak apa-apa dong?

Mengerti maksud saya? Yang ingin saya tekankan disini adalah, walaupun sepele, tidak ada salahnya bila Anda berhati-hati dengan pemberian hadiah Lebaran. Jangan sampai anak menganggap hadiah Lebaran adalah hak mereka. Tekankan bahwa bila Anda memberikan hadiah, sifatnya cuma sesekali dan itu lebih mirip bonus. Dengan demikian, bila kelak situasi dan kondisi tidak memungkinkan Anda memberi hadiah Lebaran, anak tidak akan "menuntut".

Anak Remaja Tidak Perlu Hadiah?

Banyak yang berhadiah Lebaran hanya pantas diberikan pada anak kecil, bukan pada anak-anak yang sudah remaja. "Ah, masak anak sudah besar masih harus diberikan hadiah sih?" Begitu mungkin pikir Anda. Jangan salah, hadiah sebetulnya bisa diberikan kapan saja dan kepada orang dengan umur berapa pun.

Kalau Anda datang ke sebuah Acara Ulang Tahun, misalnya, seringkali kita melihat bahwa orang yang berulang tahun mendapatkan hadiah, bahkan nilainya cukup besar. Padahal mereka yang berulang tahun tersebut seringkali tidak bisa dibilang muda lagi. Malahan, banyak orangtua merasa senang kalau mereka yang justru diberi hadiah oleh anak-anaknya sebagai tanda perhatian pada orangtua.

Jadi, walaupun anak Anda sudah remaja, tidak jadi masalah kalau Anda memang ingin memberikan hadiah Lebaran untuknya. Asalkan itu tadi, jangan sampai si anak merasa bahwa hadiah Lebaran hak yang wajib diberikan padanya.

Hadiah Apa yang Pantas?

Lagu anak-anak tentang Lebaran yang biasa diperdengarkan ketika saya masih kecil biasanya selalu mengandung kalimat bahwa Lebaran biasanya identik dengan hadiah berupa baju baru. Akhirnya, saya sempat mengganggap bahwa hadiah Lebaran harus selalu berupa baju.

Namun demikian, seringkali hadiah baju tidak terlalu menarik perhatian saya. Maklum, namanya juga anak lelaki. Kebanyakan mungkin lebih senang kalau diberikan hadiah berupa mainan, entah itu mainan kecil atau besar. Mainan yang paling saya suka ketika kecil dulu adalah lego, sebuah mainan kreativitas yang memungkinkan saya untuk membuat berbagai macam barang.

Dengan lego saya bisa membuat sebuah mobil yang dengan bantuan mesin kecil bisa berjalan dan memenuhi imajinasi saya akan sebuah mobil. Dengan lego, saya bisa membuat sebuah bangunan, entah itu rumah atau gedung tinggi, dan membuat kota kecil disekelilingnya. Pendeknya, lego membuat saya bisa mewujudkan kreativitas saya.

Selain mainan, barang yang biasanya saya minati adalah buku-buku bacaan. Entah itu komik atau bacaan biasa tanpa gambar. Dengan membaca, maka ketika besar saya jadi sudah terbiasa membaca berbagai macam buku. Ini tentunya sangat bermanfaat buat saya mengingat ada banyak sekali ilmu yang bisa didapatkan pada sebuah buku. Dan sekarang, alih-alih hanya membaca, saya malah sudah menulis beberapa buah buku tentang keuangan keluarga.

Selain hadiah berupa barang atau bacaan, maka Anda juga bisa memberikan hadiah berupa uang tunai. Suatu kali ketika saya menginjak remaja, saya pernah senang sekali ketika setelah beberapa tahun tidak memberikan hadiah lebaran ayah saya memberi saya hadiah Lebaran berupa uang tunai. Jumlahnya kalau tidak salah tiga bulan uang saku saya. Hanya saja saya lupa untuk apa uang itu saya gunakan.

Buat Anda yang berpikir untuk memberikan hadiah Lebaran berupa uang tunai, mungkin Anda bisa juga melihat apa yang akan dilakukan anak Anda dengan uang tunai tersebut. Apakah ia akan membelanjakannya atau malah menabungkannya? Mungkin ini kesempatan buat Anda untuk mengajarkannya tentang apa yang sebaiknya ia lakukan dengan uangnya. Dengan demikian, bila kelak ia memiliki uang tunai yang cukup banyak, ia jadi sudah tahu apa yang akan ia lakukan dengan uang tersebut.

Yang Perlu Diperhatikan

Lihat kondisi keuangan. Bila memang memungkinkan untuk memberi hadiah, lihat apakah Anda memang perlu memberikan hadiah tersebut. Apakah dengan hadiah tersebut anak Anda jadi lebih termotivasi untuk melakukan hal-hal yang sudah menjadi kewajibannya seperti belajar, ikut membersihkan rumah atau apapun itu? Anda sendiri yang bisa menjawabnya.

Hadiah tidak selalu harus berbentuk baju. Barang-barang yang membangkitkan minat berpikir anak seperti mainan kreativitas atau buku bacaan juga bisa diberikan. Atau, bila Anda ingin mengajarkan tentang masalah uang kepada anak, bisa juga Anda memberikan hadiah berupa uang tunai dan memberitahukannya tentang apa yang sebaiknya ia lakukan dengan uang pemberian tersebut.

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 721/XIV

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Melody Nada Surgawi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Desy Rahayu | Pegawai
Saya baru bergabung di KotaSantri.com setelah saya membaca beberapa cerita yang sangat menarik, saya berkeinginan juga untuk berbagi cerita dengan Anda semua.
KotaSantri.com © 2002 - 2019
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0527 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels