Pelangi » Keluarga | Sabtu, 29 September 2012 pukul 12:00 WIB

Boleh Memanjakan Anak?

Penulis : Sri Yayu Indriyani R.

Saya pernah diundang hoikuen (Nursery) untuk menghadiri acara "kondankai", diskusi antara orangtua dan guru di sekolah.

Selepas acara diskusi bersama guru di masing-masing kelas anak, kami dipersilahkan masuk ke ruangan hall. Sebuah seminar digelar dengan pembicara seorang dokter spesialis anak dari rumah sakit negeri terdekat.

Acara dimulai dengan membagian sebuah fotocopyan buku anak berbahasa Jepang, berjudul "Chotto Dake!".

Lembar demi lembar saya baca dan perhatikan baik-baik, sesuai dengan perintah pembicara.

Saya cukup merenung lama, selain harus mencerna tulisan dalam bahasa Jepang, isinya pas banget dengan kondisi 4 tahun yang lalu. Kala itu anak ketiga baru lahir, anak kedua baru berumur 1,5 tahun, dan anak pertama berumur 3 tahun.

"Ibu-Ibu apa yang akan anda lakukan jika mengalami hal yang sama dengan tokoh ibu di buku?" tanya pak dokter.

Semua terdiam.

Berat memang melakukan seperti tokoh seorang ibu yang baru melahirkan dan harus bersabar dalam memenuhi permintaan anak pertamanya yang cari perhatian.

Salah satu tips jitu dari pak dokter agar kita semakin dekat dengan anak, khususnya yang memiliki anak lebih dari dua adalah; Siapkanlah waktu spesial untuk masing-masing anak, berdua saja. Apakah saat hari milad mereka atau hari spesial mereka. Misalnya dengan cara mengajak makan bersama di restoran dan berdua saja. Ataukah mengajak jalan-jalan ke suatu tempat, berdua saja. Kala yang lain iri, jawablah bahwa semua akan mendapat giliran.

Saya pun tak disangka telah diingatkan oleh si-sulung, saat dia ditanya oleh guru Bahasa Jepang. Pelajaran bahasa Jepang untuk saya, tapi sengaja si-sulung saya ajak karena baru dijemput dari sekolah (SD).

"Ookasan to nani o shite hoshii desuka?" (Apa yang ingin dilakukan bersama Ibu?)

"Ookasan to ishyouni asobu shite hoshii desu." (Saya ingin bermain bersama Ibu.)

"Jya, Yayu-san ii desu ne. Kodomo wa ishouni asobitai te." (Bu Yayu, senangnya ya anaknya ingin bermain bersama).

Merenung, terharu, dan si-sulung masih merasa kurang waktu bermain dengan saya.

Malam semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul sembilan, tapi ibu-ibu tetap semangat karena bahasan seminar semakin menarik.

Dengan berat sang dokter harus menutup seminar ini. Beliau kemudian memberikan selembar kertas dan permen pada kami.

Selembar kertas berisi kalimat nasehat dan kesimpulan seminar. Sebuah permen sebagai tanda rasa "amaembo" untuk anak.

Kurang lebih jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia seperti ini, "Wahai Ibu, manjakanlah anak-anakmu. Sampai kapan memanjakkan mereka? Minimal sampai habis masa sekolahnya di sekolah dasar. Tapi ingat, memanjakan bukan berarti memberikan semua permintaan anak. Tapi tunjukkanlah bahwa kita sayang pada mereka. Mereka adalah permata hati kita, mereka adalah anugerah terindah buat kita."

Semua peserta yang hadir termasuk para guru "hoikuen" merenungkan kalimat dalam lembaran tersebut. Dan kami pulang dengan rencana-rencana memanjakan anak-anak satu persatu dengan semestinya.

"Amaembo ii wa!"

KotaSantri.com 2002-2023