|
HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
|
|
|
http://rumahkaifa.blogspot.com |

Sabtu, 18 Februari 2012 pukul 13:00 WIB
Penulis : Anton Kholiluddin
Dikisahkan bahwa Abu Hurairah berjalan keluar bersama Rasulullah Muhammad SAW. Selama perjalanan, Rasulullah Muhammad SAW tidak berbicara dengan Abu Hurairah, begitupun sebaliknya. Ketika sampai di pasar Bani Qainuqa, Rasulullah duduk di pekarangan rumah Fatimah lalu berkata, “Apakah terdapat anak-anak di sana?” Tidak lama kemudian, datanglah seorang anak kecil menghampiri Rasulullah. Rasul pun memeluk dan menciumnya sambil berdo'a, “Ya Allah, sayangilah dia dan sayangi pula orang yang menyayanginya.” (HR. Bukhari).
Alangkah indahnya jika sebuah rumah dihiasi oleh cinta dan kasih sayang. Cinta yang tumbuh dari seorang anak kepada orangtuanya dan kasih sayang yang lahir dari orangtua kepada anaknya. Ya, rumah merupakan tempat untuk menemukan arti cinta yang sesungguhnya.
Cinta seringkali diekspresikan melalui ciuman dan Rasulullah Muhammad SAW adalah sosok yang paling sering memberikan ciuman dan belaian kepada anak-anak. Pada suatu hari, datang seorang kepala suku mendatangi Nabi dan melihat beliau sedang mencium cucunya. Kepala suku mengatakan kepada Nabi Muhammad SAW, “Saya mempunyai sepuluh anak, seorang di antara mereka tidak pernah saya cium.” Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Kalau Allah tidak memberikanmu perasaan kasih sayang, apa yang dapat diperbuat-Nya untuk kamu? Barangsiapa yang tidak mempunyai kasih sayang pada orang lain, dia tidak akan mendapatkan kasih sayang dari Allah SWT.” (HR. Bukhari).
Dari peristiwa tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sebenarnya wujud kasih sayang seorang ayah kepada anaknya tidak hanya dalam pemenuhan kebutuhan materi saja, tetapi juga dalam bentuk sentuhan-sentuhan halus kepada anaknya. Sentuhan kasih sayang dan ciuman juga bisa mengantarkannya menjadi ahli surga. Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bersabda, “Perbanyaklah kamu mencium anak cucumu karena imbalan dari setiap ciuman adalah surga.” (HR. Bukhari).
Percaya atau tidak, ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh ahli yang kompeten di bidangnya, bahwa seorang anak yang diberangkatkan sekolah oleh sang Ibu dengan kecupan sayang ternyata memberi dampak yang luar biasa dalam prestasi sekolahnya. Bahkan kecupan tersebut mampu meredam amarah sang anak sehingga tidak berkelahi di sekolah. Hal ini berbeda dengan mereka yang diberangkatkan oleh baby-sitter. Jadi tidak ada lagi alasan untuk ragu memberikan ciuman pada anak di pagi hari. Ya, sebelum mereka melakukan aktifitas pagi, ciumlah mereka sebagai salah satu cara menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang kepada mereka.
Tulisan ini pernah dimuat di Percikan Iman No. 03 Th. XI Maret 2010 M/Rabiul Awal 1431 H dengan judul Rahasia di Balik Ciuman, Ayat Priyatna Mukhlis.
http://rumahkaifa.blogspot.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Anton Kholiluddin sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.